tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, July 31, 2004

Edisi Narsis

Selamat pagi, Pagi!

...ini hari ketiga [atau keempat, entahlah..] aku nginap di kantor,
menggigil dalam dinginmu yang narsis...
tapi, alhamdulillah,
masih bisa tertawa pada akhirnya!

...
Di lobi bawah ramai sekali, barisan panjang gadis-gadis muda semlohai sentosa mengantri dari subuh. Pengen ikut audisi "Cantik Indonesia", biar bisa ngetop dan masuk infotainment 'kali!
Alamak!! TV memang gak bosen-bosennya menjual mimpi!

Thursday, July 29, 2004

Local Connection


Siang tadi, ketika masih terkantuk-kantuk di kosan karena begadang semalaman, produser-ku nelpon dan mengajak ke sebuah restoran di daerah Semanggi. Katanya Pak JK mau ngajak makan siang dan ngobrol-ngobrol dengan anak-anak Makassar yang ada di Jakarta.
Atas nama senioritas dan sedikit semangat primordialisme, aku merelakan segmen terakhir waktu tidurku dan segera meluncur ke sana.

Di sana ternyata pertemuannya terbatas dan gak sampai tiga puluh orang yang hadir, menempati sebuah ruang tertutup seukuran lapangan bulutangkis. Beberapa orang aku kenali sebagai seniorku di kampus dulu, juga beberapa tokoh pers. Pak JK tampil biasa-biasa saja, berkemeja longgar. Pengawalnya saja yang kelihatan sangar dan sibuk dengan seragam hitam-hitamnya itu.

Aku ke sana bukan sebagai wartawan, tapi sebagai pribadi atas penghormatanku pada Pak JK. Dia ketua alumni almamaterku. Kami juga berasal dari kampung yang sama. Rumah masa kecilnya tidak jauh dari rumahku, tapi sekarang sudah jadi pesantren.

Terakhir ketemu Pak JK waktu aku meliput hari terakhirnya sebagai Menko Kesra beberapa bulan lalu. Waktu itu Pak JK memutuskan mundur dari kabinet dan menerima pinangan SBY. Dia bertanya kabar kampung halaman dan kampus, dan kujawab seadanyanya. Masalahnya aku juga jarang pulang.
Setelah itu, seperti kebanyakan rakyat Indonesia, "perkembangan karirnya" hanya bisa aku ikuti lewat tv dan koran saja.
Tau-tau kubunya menang pemilu presiden putaran pertama, dan ramailah orang-orang berkerumun di sekitarnya!

Insya Allah, pemilu putaran kedua nanti aku masih golput, tapi aku berharap kubu SBY-JK yang menang. Setidaknya, kalau Pak JK jadi wapres, lampu merkuri di jalan depan rumah di kampung kami mungkin sudah bisa dipasang, dan drainase tak lagi buntu supaya air mengalir sedikit lancar...

Tuesday, July 27, 2004

Batas


"...yang terpenting sebenarnya bukan pada seberapa jauh kamu pergi, atau seberapa berbahaya tempat yang kamu datangi itu, tapi seberapa dalam kamu bisa menemukan dirimu di mana pun kamu berada. Bahkan satu langkah meninggalkan pintu rumahmu, kalau kamu cakap merenung, kamu akan menemukan dirimu yang terdalam, yang sebenarnya kamu. Bukan yang artifisial, apalagi topeng."

"Di medan perang misalnya, kamu sendiri, gak ada teman. Dalam kondisi seperti itu kamu bisa mengukur dirimu, merasakan keberanianmu sekaligus menemukan titik batas ketakutanmu. Dan tidak harus selalu di tempat berbahaya, tapi di situasi apa pun yang tidak nyaman, kamu bisa belajar mengenali batas kesabaranmu, penerimaanmu, dan pemaklumanmu pada keadaan. Pada akhirnya kamu akan kenal baik dengan dirimu sendiri. Kamu akan tahu sampai batas mana kamu bisa bertahan bila ditindas, sampai sejauh mana kamu bisa berdamai dengan keinginan orang-orang di sekelilingmu, sampai batas mana permisif-mu, resistensimu..."


[petikan obrolan dengan seorang mantan wartawan perang ---kantin Trans TV, pukul sepuluh malam]

Wednesday, July 21, 2004

"bolehkah aku menganggap tak pernah ada pembicaraan malam ini?"

untukmu
yang memaksaku memperbaiki hidup;
saat kabut turun, takkan kau temui aku lagi di sini
karena telah kusempurnakan jiwaku; dengan mencintaimu...
dalam diamku yang perih----
 
 

Friday, July 16, 2004

Sesuatu Dari Masa Lalu

Di dinding sebuah RSKO, aku membaca tulisan ini: Be careful what you ask for, you might just get it!
Di tempat lain aku juga pernah membaca tulisan dengan nada yang kurang lebih sama, ditulis dengan spidol warna-warni: berhati-hatilah dengan doa dan keinginanmu, karena Tuhan pasti mengabulkannya, cepat atau lambat.

Saat akan meninggalkan Mataram, Bang Yosi mengantar kami ke Bandara Selaparang, dan dia bertanya padaku, "Kemana lagi setelah ini?"
Aku bilang sangat ingin ke Lembah Baliem. Ingin membuktikan cerita tentang pesawat yang harus melewati celah gunung untuk sampai ke sana, ke daerah berbentuk mangkuk di gugusan pegunungan Jayawijaya itu.
Dan sesampainya di Jakarta, aku betul-betul ditugaskan ke sana, hanya jeda beberapa hari setelah dari Lombok.

Beberapa minggu lalu, aku sangat merindukan sebuah aroma. Sebuah aroma dari masa kecilku yang entah apa. Bukan wewangian. Berhari-hari aku mencoba mengingatnya, mencarinya ke mana-mana.
Dan tadi pagi aku menemukannya. Kiranya itu aroma minyak kayu putih yang bercampur obat dan lendir ingus. 20 tahun lalu aroma itu pernah begitu akrab denganku saat penyakit tipes memaksaku terbaring berbulan-bulan.
Aku menemukannya lagi dalam demam dan flu yang menyerangku hari ini!

Wednesday, July 14, 2004

Semacam Ringkasan

Jangan lagi menggerutu kenapa menderita,
tapi carilah cara bagaimana menjadi bahagia!


Hikayat Papua berakhir hari ini. Malam ini aku sudah di kantor lagi setelah menempuh 8 jam perjalanan, tiga kali transit dengan pramugari yang sama memperagakan peraturan keselamatan penerbangan. Tentu saja banyak yang aku bawa pulang, tidak dalam ransel, benda itu besarnya tak berubah sejak awal. Hanya jadi lebih kusam; debu-debu dan percikan darah babi di Baliem mungkin sudah meresap ke serat kainnya.
Hanya cerita tentang perjumpaan kecil dengan beberapa orang. Aipon Asso, kepala suku Walesi yang menyambutku dengan pelukan hangat saat aku menyambanginya dalam sebuah upacara bakar batu.
Riki Lani, putra kepala suku Lani yang terbunuh dalam pertempuran suku tahun 1983. Kini dia menggantung tombak dan panahnya. "Itu batas manusianya," katanya menunjuk sebuah bidang warna putih di tombak itu. Maksudnya, jika ditusukkan ke tubuh musuh, tombak hanya boleh menancap sampai di situ saja. Untuk tubuh manusia rata-rata, itu artinya sudah pasti tembus.

Dan banyak orang lagi. Ustadz-ustadz di Hidayatullah, pesantren di tengah hutan, Pak Haji yang pemberani dan baik hati; empat kerusuhan rasial dan penghadangan OPM sudah dilewatinya.
Aku janji akan menulis panjang tentang mereka semua. Belum malam ini.

Monday, July 05, 2004

Di Papua

Lampu-lampu dari rumah di atas bukit itu betapa indahnya.
Dan kabut menggenggam mimpi, dingin;
semoga sentosa kau di sana...

Friday, July 02, 2004

Brigade Tentara Hati


Tadi sore, siaran terakhir program Interogasi. Rating yang terus turun membuat manajemen mengambil langkah strategis, menghentikan program ini. Bagiku ini seperti sesuatu yang bermakna ganda. Di satu sisi, aku sedih, bagaimanapun aku telah terlibat cukup banyak di program ini, sadar atau tidak keberanianku tertempa di sini. Tapi di sisi lain, aku juga berpikir kalau memang sekarang sudah saatnya untuk mengurangi tayangan-tayangan kekerasan seperti itu.

Semua alumni Interogasi selanjutnya akan disebar ke program-program lain, ke Reportase atau program baru lainnya. Aku sendiri akhirnya diperbantukan ke program Perjalanan Islam, program baru buat Ramadhan nanti. Tapi tadi pagi aku masih bantu-bantu di spot, liputan SBY shalat Jumat di Tanah Abang.

Besok malam, insya Allah kalau semuanya lancar, kami --aku, Selo, dan Kang Ule-- sudah harus berada di Papua. Lima hari pertama di Jayapura, meliput persiapan pemilu presiden di sana. Dan sisa hari selanjutnya akan dihabiskan di Wamena, mungkin akan lama di sana, tergantung kondisi. Kami mau bikin cerita tentang sebuah pesantren di tengah pegunungan di Wamena, juga tentang perkampungan muslim di Walesi.
Mohon didoakan, mudah-mudahan semuanya lancar.

====
Kemarin kamu datang menemuiku. Mungkin karena mekanisme pertahanan dirimu, kamu banyak bercanda. Tapi betul-betul tak pernah aku bayangkan bisa seperti ini. Sebelum hari itu, aku pikir tak akan bisa lagi melihat bola matamu yang berbinar-binar itu.
Menemanimu mencari oleh-oleh untuk Bunda, mengingatkanku pada hari-hari yang lewat. Tak perlu disesali, semua sudah ada jalannya. Tapi, bila bisa membuatmu tenang, menangis sesekali tak ada salahnya.
Besok aku jalan lagi, menambah jejak di bumi Tuhan. Kamu boleh tertawa deh!

Thursday, July 01, 2004

Sekali Lagi Tentang Keinginan


Mungkin karena ombak yang mengalun tenang, atau warna jingga senja yang teramat latar, di anjungan feri di atas Selat Alas, aku kembali berpikir tentang Keinginan --dengan "K" kapital.
Membingungkan, seperti apa keinginan itu di kepalaku menjadi-jadi. Makin kurunut makin tak jelas. Seperti hiasan coklat di lolipop, berputar-putar tak tahu di mana akhir.

Perjalanan akhir pekan ke sebuah desa di kaki gunung; ransel yang tak pernah kosong; perempuan bermata teduh; rumah tetirahan di atas bukit.
Entah, apa itu terlalu menyenangkan hingga aku melewatkan banyak hal sederhana; abangku yang tau-tau sudah punya seorang putri --yang bahkan pernikahannya pun tak sempat kuhadiri; adik-adikku yang beranjak dewasa dan tak lagi berseragam sekolah, Bapak dan Bunda yang berangsur-angsur tua dan beruban....

"..."
Aku lupa awalnya bertanya apa pada kapten kapal itu, yang pasti dia lalu bercerita banyak. Seorang laki-laki paruh baya yang baik hati, menyuguhiku minum dan memberiku tempat duduk di ruang kemudi. Bercerita tentang musim dan perilaku ombak, tentang leluhurnya yang pembuat perahu di Tanjung Bira, juga tentang pamannya yang menjadi sawi dalam pelayaran heroik 11.000 mil Perahu Phinisi melintasi Samudra Pasifik dari Jakarta menuju Vancouver, tahun 1986 lalu.

"Sepulang ke Indonesia, semua awak ditawari hadiah oleh Soeharto. Rata-rata mereka tidak pernah sekolah, jadi mintanya tidak muluk-muluk. Ada yang minta modal berdagang, ada juga yang minta alat pertukangan. Pak Muhammad, paman saya itu, juga ditawari," kata dia.
"Minta apa dia, Pak?" tanyaku.
Pak Kapten itu tertawa sebentar sebelum melanjutkan.
"Keinginannya sederhana, dia cuma minta jadi pegawai negeri, jadi penjaga sekolah SD dekat rumahnya."