tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Wednesday, June 09, 2004

Pembunuhan #1

Erna, teman reporterku, menjabat erat tangan perempuan itu. Minggu lalu dia masihlah seorang ibu muda, tapi hari ini dia perempuan yang bersedih. Bidadari kecilnya, baru saja menjelma malaikat, semoga di surga.
Aku lihat Erna menyelipkan sebuah amplop di tangannya, perempuan itu menerimanya dengan jari-jari tangan yang terlipat. Ini dari kami, titipan dari kantor, biaya narasumber. Tentu tak mungkin meredam sedihmu.
"Lain kali kalau mau menikah lagi, hati-hati..." kata Erna. Hampir membuatku tertawa. Ketakutan seorang perempuan, bahkan untuk berbahagia pun mesti berhati-hati...

Namanya Ratna Boru Sembiring, 21 tahun. Putrinya yang baru berumur dua setengah tahun, tewas mengenaskan di tangan suami keduanya, Juli Sembiring. Wajahnya hancur, usus keluar dari anusnya, dan di tubuhnya penuh bekas sundutan rokok. Meski mengaku tak sengaja, tapi Juli membunuh anak tirinya itu karena cemburu pada istrinya yang bekerja di sebuah klab malam. Dia sendiri sehari-hari bekerja sebagai tukang cuci mobil.

Kami menemui Juli di sel polsek Pancur Batu, dengan pakaian penjara yang bikin butek itu.
"Dia mati saya pijak." katanya datar.
Tapi Ratna kami tidak sempat ketemu. Kata polisi, dia sudah pulang ke kampungnya di Seiminyak Hulu, Langkat. Atas nama cover both side, kami pun mengejar Ratna keesokan harinya. Dari Medan ke Langkat sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 3 jam perjalanan darat. Tapi sampai ke Pangkalan Brandan, orang-orang malah menyuruh kami pulang, karena sudah gelap.
"Itu sudah hampir perbatasan Aceh, lewat kampung GAM, kalau tak ditemani berbahaya," kata Pak Sekcam yang kami temui sore itu.
"Kemarin ada tujuh orang yang dibawa turun dari sana. Besok saja, Mas. Sekarang sudah hampir malam."
"Pak Cik saya sampai sekarang belum kembali, ditangkap GAM," kata anak SMU yang jadi penunjuk jalan kami.

Danramil yang kami temui pun tak berani mengambil resiko menemani kami. Malam itu juga kami terpaksa balik ke Medan, dan memutuskan berangkat besok subuh-subuh.
Untunglah, kepala desanya ternyata tinggal di Langkat dan bersedia menemani kami. Dia naik motor, dan kami ikut di belakangnya.
Ternyata jalannya memang berbahaya kalau ditempuh malam-malam. Harus melewati kebun sawit, karet, dan hutan. Aku tak habis pikir, betapa tabahnya Pak Desa menempuh jalan ini setiap hari. Beberapa kali dia harus berhenti menunggu kami.
"Sudah empat tahun, sebelumnya di Langkat. Sekcam itu tak tahu apa-apa. Desa saya aman kok!" kata bapak yang ramah itu.

Setelah tiga jam terantuk-antuk di jalan desa yang berdebu itu, dan dua kali ganti penunjuk jalan, sampailah kami di Seiminyak Hulu. Sebuah perkampungan di tengah kebun sawit, tak sampai lima puluh rumah mungkin. Di situlah kami menemui Ratna, membujuknya untuk wawancara. Setelah itu kami minta ditemani ke kuburan putrinya itu.
Di sana kami membuatnya menangis lagi.