tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Tuesday, June 22, 2004

Celoteh Menjelang Malam

Yang di kanan usianya 14 tahun, yang di kiri 41 tahun. Yang di kanan itu anak laki-laki, yang di kiri itu ibunya. Dua-duanya terbaring dalam peti mati. Ada lilin besar yang tak henti menyala, juga asap hio yang menyeruak memenuhi ruangan.
Kursi-kursi sudah diatur rapi, tapi masih kosong, belum banyak tamu yang datang melayat. Mungkin besok malam baru ramai, sebelum keduanya dibawa ke krematorium.
Yang laki-laki dewasa, berkacamata, bapak dan suami, tak kuat lagi berdiri. Tangisnya masih sering meledak tiba-tiba.
...
Siang tadi kami datang, mengajaknya berbincang-bincang, tentang istri dan anaknya yang mati terjebak asap dalam kebakaran ruko di Penjaringan kemarin. Mungkin dia menyesal, karena memasang teralis begitu kuat, sehingga orang-orang tak bisa segera menolong ketika api mulai merambat ke lantai 3 rukonya.
Mungkin juga dia menyalahkan diri karena ketakutannya yang berlebihan pada situasi sekelilingnya. Teralis dan kerangkeng itu pasti hanya diniatkan agar harta bendanya terlindung dari jarahan bila kerusuhan etnis kembali terjadi seperti di tahun-tahun yang lewat, bukan untuk memenjara istri dan anaknya --juga pembantunya-- hingga mati lemas seperti itu...

Tapi, siapa bisa melawan takdir?
Dengan nyawa yang setipis kertas tisu, manusia bisa apa melawan kehendak-Nya?

======
Dari tadi pagi tenggorokanku agak sakit, badan meriang, dan migren-ku juga mulai kambuh lagi. Kayaknya gejala flu nih! Sebenarnya mau nongkrong di kantor saja tadi, karena liputan terpidana mati itu belum bisa dikerjakan, belum ada izin dari Depkeh. Terpidana mati itu cewek, jadi dia ditaro di LP Tangerang, dan kata bapak di kantor Depkeh tadi, izinnya harus lewat Depkeh Banten!
Maka daripada nganggur, dan setelah sempat dikuliahi panjang lebar oleh bos, aku memilih ikut liputan temen, dengan niat supaya bisa tidur di mobil dengan aman sentosa. Ternyata gak bisa tidur juga, gak enak sama mereka yang bersusah payah mengejar narasumber.
Akhirnya setelah ikut nimbrung ngobrol dengan petugas forensik, saksi mata, dan keluarga korban, barulah badan bisa agak diluruskan; balik kantor!

Di kantor lagi-lagi dapat kejutan, tiba-tiba muncul tagihan LPJ dinas luar kota. Hampir semuanya kebagian, malah ada yang nominalnya sampai seratus juta! Aku sendiri juga dapat dua lembar. Yang pertama memang aku belom setor, tapi yang kedua itu aku gak tahu dari mana asalnya. Jumlah nominalnya 3 juta lebih, dan di situ tertulis anggaran liputanku ikut SBY ke Jatim dan Kalimantan bulan Maret lalu. Padahal seingatku, aku tidak pernah ikut kampanyenya SBY, ke Kalimantan juga aku belum pernah.
Terus dikasih deadline sampai akhir bulan ini untuk ngeberesin, padahal besok lusa sudah harus berangkat ke Lombok lagi.

Aih, kodong... Nasibmu, Nak...