tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, June 27, 2004

Orang-Orang Itu

Malam ini aku lelah sekali. Seharusnya kami sudah berada di hotel, tidur sedikit nyenyak menabung tenaga untuk bergerak lagi besok. Perjalanan jauh beberapa hari ini telah menyita waktu istirahatku. Tapi aku tidak sedikit pun merasa rugi, karena pertemuanku dengan banyak orang di sini semakin menambah lembar catatanku di Sekolah Kehidupan.

=====
Pak Haji hanya lulus Sekolah Rakyat, tapi sekarang dia mengepalai sebuah desa, dan sangat dihormati. Di desa di tepi pantai itu dia membangun sebuah kantor desa termegah yang pernah aku lihat; bertingkat dua dan di depannya dihiasi taman. Waktu kami tiba tadi sore, orang-orang desa lagi sibuk menanami taman itu dengan rumput Belanda.
Di rumahnya, dia menanggung hidup 43 orang, kebanyakan bukan keluarganya. Membuatku merasa seperti di rumah, istrinya menyuguhi kami penganan-penganan dari masa laluku, ada Bolu Peca dan Sarang Semut. Bahasa daerah dengan dialek yang persis sama denganku. Semua orang berbahasa Bugis, padahal tempat itu di kaki Gunung Rinjani dan tepian Teluk Lombok, jauhnya ribuan kilometer dari kota asalku.

Pak Haji itu asli Bugis, tapi lahir dan besar di Labuhan Lombok. Di depan rumahnya yang besar, sebuah rumah panggung reot dari kayu masih berdiri tegak, meski lantai papannya sudah berderak-derak bila diinjak.
"Di sini saya lahir, tak akan saya rubuhkan." Matanya berkaca-kaca ketika bercerita kepadaku. Aku tahu, banyak kenangan yang bermain-main di kepalanya.
"Saya biarkan tetap seperti ini, saya suruh penjaga mesjid yang tinggali..."
Mesjid yang dia maksud adalah sebuah mesjid besar di depan rumahnya, berdiri di atas tanah waqaf darinya, persis di pinggir laut sehingga kita bisa melihat kapal-kapal kayu bersandar dengan latar belakang Gunung Rinjani. Aku teringat Bajoe, tempat lahir bapakku, kecuali gunungnya, hampir seperti ini.

Pak Haji itu, empat puluh tahun yang lalu hanya seorang buruh kasar di pelabuhan. Pernah mendekam tiga kali di penjara. Kemiskinan membuatnya belajar banyak tentang menghargai hidup dan menjadi rendah-hati.
Ketika aku pamit, dia membungkuk lebih rendah dari aku.

======
Inaq Rohani, 50 tahun. Ibu ini kutemui di Rumah Tahanan Klas 2B Praya, Lombok Tengah. Sebuah pertengkaran di tengah sawah membuatnya harus mendekam di tahanan dengan tuduhan menggigit tetangganya sampai mati. Sebenarnya hanya sebuah gigitan kecil di jari tangan, yang entah kenapa lalu menjadi makin parah dan merenggut nyawa.

Di tengah tatapan ratusan narapidana lain, aku bertandang ke sel-nya. Sebuah ruangan sempit 2x3. Hanya ada satu kasur busa, krupuk dalam plastik yang diikat, dan sebuah cermin dengan bingkai bertulisan Arab.
Dengan bahasa Sasak dia bicara kepadaku sambil menunjukkan sebuah mangkok plastik berisi ikan goreng.
"Dia bilang tadi anaknya datang, membawakan makanan itu..." kata Petugas Rutan yang menemaniku.
Aku tiba-tiba ingat ibuku!

======
...

======
Malam ini dapat kabar kalau Nurdin Mohd Top, pelaku peledakan bom, tertangkap tadi sore di Bima. Sepanjang malam kami menongkrongi rumah Kapolda NTB, tapi dia tidak mau memberi komentar. Aku sudah mengabari korlip di Kantor, kemungkinan besar malam ini juga Nurdin langsung dibawa ke Jakarta.
Entahlah, berita ini belum A-1, dan mata sudah sepet banget, mau tidur...
Padahal besok pagi-pagi sekali harus balik lagi ke Labuhan Lombok, mengejar kapal feri pertama yang akan menyeberangkan kami ke Sumbawa.
Masih ada satu liputan lagi menunggu di sana.

Wednesday, June 23, 2004

Police Line


Tak tega aku melihat bapak yang di depan itu! Mungkin karena paling tua maka dia ditaroh paling depan, membentuk barisan seperti anak kecil yang bermain ular naga panjangnya bukan kepalang. Rambutnya sudah memutih, dengan wajah tirus penuh kerut-kerut usia. Aku ingat bapakku di kampung, alhamdulillah, masih lebih beruntung daripada bapak itu, bapakku tak perlu jadi rampok bajing loncat untuk menghidupiku...

15 orang bajing loncat yang biasa merampok truk bermuatan berat di jalan tol Jakarta-Cikampek, siang tadi "dirilis" ke hadapan khalayak. Sebenarnya semuanya ada 16, tapi satu orang tewas kena tembak polisi. Tiga orang lagi juga kena tembak, tapi masih bertahan hidup.

Bulan depan, kalau semuanya lancar, semoga tidak perlu melihat seperti ini lagi!

====
Bawa pulang oleh-oleh dari liputan tadi; police line sepanjang hampir sepuluh meter, bekas mengikat barang bukti.
"Mau diapain itu?" tanya Pak Polisi.
"Buat kenang-kenangan, Pak." jawabku asal, padahal di kepalaku sudah terbayang bagaimana wajah ibu kos-ku bila besok pagi dia terbangun dan melihat pita plastik warna kuning ini sudah terpasang di depan pagarnya. Hehehehe.

ps. Titip blog lagi nih, Kawan-kawan. Besok jadi berangkat liputan ke Lombok. Btw, ada yang mau oleh-oleh susu kuda liar gak? Dijamin menambah kejantanan dan kegairahan berkeluarga! Yihaaaa!!!

Tuesday, June 22, 2004

Celoteh Menjelang Malam

Yang di kanan usianya 14 tahun, yang di kiri 41 tahun. Yang di kanan itu anak laki-laki, yang di kiri itu ibunya. Dua-duanya terbaring dalam peti mati. Ada lilin besar yang tak henti menyala, juga asap hio yang menyeruak memenuhi ruangan.
Kursi-kursi sudah diatur rapi, tapi masih kosong, belum banyak tamu yang datang melayat. Mungkin besok malam baru ramai, sebelum keduanya dibawa ke krematorium.
Yang laki-laki dewasa, berkacamata, bapak dan suami, tak kuat lagi berdiri. Tangisnya masih sering meledak tiba-tiba.
...
Siang tadi kami datang, mengajaknya berbincang-bincang, tentang istri dan anaknya yang mati terjebak asap dalam kebakaran ruko di Penjaringan kemarin. Mungkin dia menyesal, karena memasang teralis begitu kuat, sehingga orang-orang tak bisa segera menolong ketika api mulai merambat ke lantai 3 rukonya.
Mungkin juga dia menyalahkan diri karena ketakutannya yang berlebihan pada situasi sekelilingnya. Teralis dan kerangkeng itu pasti hanya diniatkan agar harta bendanya terlindung dari jarahan bila kerusuhan etnis kembali terjadi seperti di tahun-tahun yang lewat, bukan untuk memenjara istri dan anaknya --juga pembantunya-- hingga mati lemas seperti itu...

Tapi, siapa bisa melawan takdir?
Dengan nyawa yang setipis kertas tisu, manusia bisa apa melawan kehendak-Nya?

======
Dari tadi pagi tenggorokanku agak sakit, badan meriang, dan migren-ku juga mulai kambuh lagi. Kayaknya gejala flu nih! Sebenarnya mau nongkrong di kantor saja tadi, karena liputan terpidana mati itu belum bisa dikerjakan, belum ada izin dari Depkeh. Terpidana mati itu cewek, jadi dia ditaro di LP Tangerang, dan kata bapak di kantor Depkeh tadi, izinnya harus lewat Depkeh Banten!
Maka daripada nganggur, dan setelah sempat dikuliahi panjang lebar oleh bos, aku memilih ikut liputan temen, dengan niat supaya bisa tidur di mobil dengan aman sentosa. Ternyata gak bisa tidur juga, gak enak sama mereka yang bersusah payah mengejar narasumber.
Akhirnya setelah ikut nimbrung ngobrol dengan petugas forensik, saksi mata, dan keluarga korban, barulah badan bisa agak diluruskan; balik kantor!

Di kantor lagi-lagi dapat kejutan, tiba-tiba muncul tagihan LPJ dinas luar kota. Hampir semuanya kebagian, malah ada yang nominalnya sampai seratus juta! Aku sendiri juga dapat dua lembar. Yang pertama memang aku belom setor, tapi yang kedua itu aku gak tahu dari mana asalnya. Jumlah nominalnya 3 juta lebih, dan di situ tertulis anggaran liputanku ikut SBY ke Jatim dan Kalimantan bulan Maret lalu. Padahal seingatku, aku tidak pernah ikut kampanyenya SBY, ke Kalimantan juga aku belum pernah.
Terus dikasih deadline sampai akhir bulan ini untuk ngeberesin, padahal besok lusa sudah harus berangkat ke Lombok lagi.

Aih, kodong... Nasibmu, Nak...

Tuesday, June 15, 2004

Tentang Berani Berbahagia


Sepulang liputan tadi, aku bertemu Decil di kantin dan ngobrol sebentar. Decil presenter segmen backpacker di program Jelajah, dan hari Minggu kemarin sudah memasuki episode ke-2. Ceritanya Decil nyebrang ke Malaysia lewat darat, dan tiap persinggahannya itu jadi episode tersendiri. Kemarin itu mereka baru sampai Johor Bahru. Decil bareng Ndit yang jadi camera person, dan bulan depan mungkin mereka akan ke Nepal.

Menurutku Decil beruntung sekali bisa backpacking dengan biaya kantor. Tapi kalo aku di posisi dia, belum tentu aku berani. Menjadi backpacker memang impianku dari dulu --dan sudah kujalani beberapa saat. Tapi kalo harus bepergian dengan biaya kantor dan tentu saja dengan tanggung jawab besar harus bawa pulang liputan hebat? Tunggu dulu, rasanya bukan kebebasan seperti itu yang kuharapkan. Backpacking bukan pekerjaan, pelarian mungkin...

Monday, June 14, 2004

Janji-janji Tinggal Janji...


Setiap menit, kita kehilangan hutan seluas enam kali lapangan bola, padahal 60-80 juta rakyat Indonesia menggantungkan kehidupannya pada hutan. Sampai hari ini, Indonesia sudah kehilangan 72 persen hutan aslinya. Catatan terakhir, 101,73 hektar lahan rusak, di antaranya 59,62 juta hektar berada dalam kawasan hutan!
Ada 128 perusahaan industri perkayuan yang memiliki utang sebesar 22 triliun rupiah yang selama ini menjadi pihak yang bertanggungjawab terhadap perusakan hutan Indonesia karena kapasitas industri yang berlebihan.

Jangan tanya bencana yang ditimbulkan. Sampai tahun 2004, tercatat 700 kejadian bencana alam dengan korban lebih dari 3000 jiwa! Belum lagi kerugian material yang sudah mencapai ratusan milyar rupiah!

====
Siang tadi, sekelompok pemerhati lingkungan mencoba mengadakan diskusi dengan mengundang seorang calon presiden untuk memaparkan visi misinya tentang lingkungan, dan apa yang akan dilakukannya bila terpilih kelak. Capres itu sebelumnya sudah menyetujui untuk memenuhi undangan itu, sampai kemudian dia membatalkannya pada saat-saat terakhir.

Karena para aktivis dan wartawan sudah terlanjur berkumpul, maka orasinya dibacakan oleh anggota tim suksesnya, setelah sebelumnya dia menyampaikan maaf lewat hp yang diperdengarkan melalui pengeras suara! Wartawan dan aktivis tentu saja kecewa, tapi acara tetap berlangsung.

Iseng-iseng aku mendatangi seorang anggota tim suksesnya yang duduk di kursi barisan belakang, dan memulai perbincangan informal. Bapak itu melihat press-id ku dan bilang kalau Pak Capres itu malam ini akan menghadiri acara debat dengan capres lain di stasiun tempat kerjaku.
"Nanti malam Bapak pasti datang, itu sudah masuk jadwal kampanye," kata Bapak yang memakai jaket dengan tulisan besar Jujur, Cerdas, dan Berani itu.
"Oya? Trus sekarang kenapa gak datang?" tanyaku.
Bapak itu mengecilkan suaranya, dan berbisik dekat telingaku, "Dia kecapean, tadi malam abis nonton bola sampai pagi..."

Shit!
Aku pulang dengan membawa kesal. Kenapa para elit politik itu tidak pernah mau peduli pada hal-hal "kecil" seperti ini? Apa jumlah 3000 jiwa yang sudah menjadi korban itu tidak cukup membuat mereka mau memperhatikan isu lingkungan?
Tapi lama-lama aku sadar juga kalau hal-hal seperti ini tidak akan pernah jadi panglima dalam politik. Lagipula, kalaupun semua capres itu bicara, mungkin tidak akan banyak berpengaruh juga. Toh, sejauh ini, mereka hanya bisa berjanji!

Oh, kau yang berjanji, kau yang mengingkari...
Kau yang mulai, kau mengakhiri....
Jangan pilih pemimpin gombal,
mending golput aja yukzzz!
Piss! Piss!

Saturday, June 12, 2004

13 Belas Cerita

13 Cerita, moga2 cukup untuk jadi satu buku...

Wednesday, June 09, 2004

Pembunuhan #1

Erna, teman reporterku, menjabat erat tangan perempuan itu. Minggu lalu dia masihlah seorang ibu muda, tapi hari ini dia perempuan yang bersedih. Bidadari kecilnya, baru saja menjelma malaikat, semoga di surga.
Aku lihat Erna menyelipkan sebuah amplop di tangannya, perempuan itu menerimanya dengan jari-jari tangan yang terlipat. Ini dari kami, titipan dari kantor, biaya narasumber. Tentu tak mungkin meredam sedihmu.
"Lain kali kalau mau menikah lagi, hati-hati..." kata Erna. Hampir membuatku tertawa. Ketakutan seorang perempuan, bahkan untuk berbahagia pun mesti berhati-hati...

Namanya Ratna Boru Sembiring, 21 tahun. Putrinya yang baru berumur dua setengah tahun, tewas mengenaskan di tangan suami keduanya, Juli Sembiring. Wajahnya hancur, usus keluar dari anusnya, dan di tubuhnya penuh bekas sundutan rokok. Meski mengaku tak sengaja, tapi Juli membunuh anak tirinya itu karena cemburu pada istrinya yang bekerja di sebuah klab malam. Dia sendiri sehari-hari bekerja sebagai tukang cuci mobil.

Kami menemui Juli di sel polsek Pancur Batu, dengan pakaian penjara yang bikin butek itu.
"Dia mati saya pijak." katanya datar.
Tapi Ratna kami tidak sempat ketemu. Kata polisi, dia sudah pulang ke kampungnya di Seiminyak Hulu, Langkat. Atas nama cover both side, kami pun mengejar Ratna keesokan harinya. Dari Medan ke Langkat sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 3 jam perjalanan darat. Tapi sampai ke Pangkalan Brandan, orang-orang malah menyuruh kami pulang, karena sudah gelap.
"Itu sudah hampir perbatasan Aceh, lewat kampung GAM, kalau tak ditemani berbahaya," kata Pak Sekcam yang kami temui sore itu.
"Kemarin ada tujuh orang yang dibawa turun dari sana. Besok saja, Mas. Sekarang sudah hampir malam."
"Pak Cik saya sampai sekarang belum kembali, ditangkap GAM," kata anak SMU yang jadi penunjuk jalan kami.

Danramil yang kami temui pun tak berani mengambil resiko menemani kami. Malam itu juga kami terpaksa balik ke Medan, dan memutuskan berangkat besok subuh-subuh.
Untunglah, kepala desanya ternyata tinggal di Langkat dan bersedia menemani kami. Dia naik motor, dan kami ikut di belakangnya.
Ternyata jalannya memang berbahaya kalau ditempuh malam-malam. Harus melewati kebun sawit, karet, dan hutan. Aku tak habis pikir, betapa tabahnya Pak Desa menempuh jalan ini setiap hari. Beberapa kali dia harus berhenti menunggu kami.
"Sudah empat tahun, sebelumnya di Langkat. Sekcam itu tak tahu apa-apa. Desa saya aman kok!" kata bapak yang ramah itu.

Setelah tiga jam terantuk-antuk di jalan desa yang berdebu itu, dan dua kali ganti penunjuk jalan, sampailah kami di Seiminyak Hulu. Sebuah perkampungan di tengah kebun sawit, tak sampai lima puluh rumah mungkin. Di situlah kami menemui Ratna, membujuknya untuk wawancara. Setelah itu kami minta ditemani ke kuburan putrinya itu.
Di sana kami membuatnya menangis lagi.

Tuesday, June 01, 2004

Hei!

Kali ini harus ke Medan lagi, padahal belum sempat nulis banyak di sini...