tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Thursday, May 06, 2004

Menziarahimu Siang Itu, di Makam...


Bekas ceceran darah masih terlihat menempel di reruntuhan tembok, seperti serpihan. Tak begitu jelas karena warnanya yang mulai menghitam. Mungkin ada yang telah berusaha menghapusnya, mencoba menghilangkan jejak. Tapi pasti tak gampang melakukannya dalam dinihari yang gelap. Cairan kental berwarna merah itu telanjur menyatu dengan debu dan membentuk berkasnya sendiri.
Bayangan kepedihan itu pun menerpa mataku; pasti sangat tidak menyenangkan terbaring di situ, dengan darah yang mengalir dari tengkorak kepala.

"Itu masih ada rambut-rambutnya, Bang!" Seseorang menunjuk ke sela-sela kerikil dan pecahan semen usang. Anak muda gondrong itu ikut melihat apa yang ditunjukkan, mengais-ngais kerikil dan menemukan sisa jasad itu di situ. Dia lalu berdiri terdiam sejenak, sebelum melanjutkan berbicara.
...
"Abis di kerjai di sana, dia dibawa ke sini kayaknya." Dia menunjuk tempat lain yang juga ada bekas bercak darahnya. Tempat pertama yang dia tunjukkan padaku tadi.

Tak sempat aku menanyakan nama jelasnya --kedengaran seperti "Wing" atau siapalah... Kami bertemu di pinggir jalan dekat pasar. Dari ngobrol-ngobrol sebentar, dia bilang bersedia mengantarku ke reruntuhan gedung tua bekas kebakaran itu, tempat adiknya ditemukan tak bernyawa dengan wajah hancur, dinihari kemarin; seseorang atau sekelompok orang telah membantainya, menyisakan lubang menganga di batok kepala dan gigi bagian depan tanggal seluruhnya.

"Dia baru empat hari di Jakarta. Baru datang dari kampung, dari Sukabumi. Dia baru mulai jualan pisang. Dekat saya juga, saya juga jualan di pasar. Saya abangnya..." Dia mulai bercerita saat kami melewati rel kereta api yang memisahkan perkampungan dan kompleks pasar itu.

Panas menyengat, membuat bayangan orang di kejauhan tampak melengkung seperti melambai. Agak susah payah mengikuti langkahnya, beberapa kali dia mesti berhenti menungguku. Bukannya lebih lamban atau tak biasa bergerak cepat, aku hanya butuh lebih banyak waktu karena memperhatikan apa saja yang kami lewati.
...
"Dia salah bergaul. Saya sudah bilang kalo nyari temen itu hati-hati. Temen-temennya kayak yang tadi itu semua!" katanya dengan sedikit tertawa, merujuk pada seorang anak muda mabuk yang mendekati kami tadi dan mengaku tahu bagaimana kejadian sebenarnya.
Suasananya memang tidak terlalu enak. Beberapa kali dia menanyaiku apa sudah cukup mengambil gambar. Kelihatannya dia sangat gelisah berlama-lama di tempat itu. Mungkin karena ada banyak orang mengerumuni kami, juga bau amis darah yang sesekali muncul terbawa angin.
Karena tak ingin berlama-lama juga, aku pun segera membereskan tugasku. Mengemas peralatan dan berbasa-basi sebentar dengan preman-preman pasar itu. Prosedur pekerjaanku tidak menganjurkan berlama-lama di tempat rawan dengan peralatan seharga satu mobil Kijang. Resikonya besar kalau ada apa-apa.

Setelah menempuh jalan pulang yang sama, kami berpisah di tempat kami bertemu tadi. Aku mengucapkan terima kasih karena dia sudah bersedia mengantarku. Kami --aku, reporter dan driver yang menuggu di mobil-- harus kembali ke Jakarta, mengejar tayangan sore. Tadi pagi aku sudah diwanti-wanti bahwa stok berita kriminal kami sudah mulai menipis dan berarti harus segera menemukan kasus baru lagi kalau tidak ingin layar blank. Mana ada perusahaan yang mau memasang iklan di layar hitam!!

----
[Sampai hari ini pembunuhnya belum juga tertangkap. Tadi kami sempat mampir ke makam korban yang di koran disebut sebagai preman itu. Ditemani bapak dan seorang kakak perempuannya, aku ikut mengirimkan Al-fatihah dan doa "semoga tenang di alam sana".
Ada kendi kecil berisi air di dekat nisan kayu, juga taburan bunga-bunga, yang entah kenapa baunya seperti terperangkap di indra penciumanku. Bahkan sampai saat postingan ini aku tulis, aroma itu sesekali masih juga meruak tiba-tiba...

Allahu, la ilaha illa huwal hayyun qayyum...]