tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Tuesday, May 04, 2004

Dilarang Membunuh di Hari Tertentu


...
"Saya menyesal," kata bapak itu.
Pertanyaan bodoh sebenarnya jika menanyakan bagaimana perasaannya. Tadi malam dia baru saja membunuh istrinya. Dengan satu kali cekikan hampir sepuluh menit di bagian leher, nyawa istrinya melayang tak tertolong.
Konon, lewat tengah malam tadi sang istri yang bekerja sebagai penyanyi di sebuah klab malam itu baru saja pulang saat pertengkaran bermula. Beberapa kalimat kasar terlontar keluar dan membuat naik pitam. Kontak fisik pun terjadi. Dan berakhir dengan sang perempuan meregang nyawa di tempat tidur.

Kata tetangga-tetangganya, bapak itu mungkin khilaf. Sehari-hari dia dikenal sangat pendiam dan tidak banyak tingkah. Kepada tetangga pun dia tak pernah bermasalah. Sesekali malah dia mengajar mengaji dan mengisi ceramah di majlis ilmu. Hampir semua bilang tak menyangka dia bisa melakukan pembunuhan itu. Lagipula mereka punya dua anak yang masih kecil.

Mungkin dia memang tak sengaja. Kita anggap saja seperti itu.

------

Kasus pembunuhan inilah yang seharian kami kejar. Hari kedua di program kriminal, tensi makin naik. Kemarin dapat kasus kecil saja; anak muda nyuri karburator buat beli Topi Miring. Hari ini orang ngilangin nyawa.

Pagi-pagi sudah diteriakin boss disuruh ngejar tersangka di kantor polisi. Ternyata gak semulus yang dibayangkan. Menunggu BAP berjam-jam baru diijinin wawancara --[padahal belum lagi hilang ini sakit hati mengingat kejadian UMI kemarin!], dan tersesat beberapa kali sebelum menemukan TKP-nya di pelosok selatan Jakarta. Belum lagi kemacetan yang mengular membuat habis umur di jalanan.
Menjelang magrib baru bisa balik, disambut dengan tawuran ria anak-anak SMU di jalan depan kantor.

Seluruh badan seperti habis dipukuli. Capek banget!

Mas-Mas sekalian, tolong, malam ini jangan membunuh dulu lah. Biar besok gak ada kasus, dan kami bisa istirahat barang sejenak...