tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, May 28, 2004

Akan Tiba Saatnya



"Akan tiba saatnya sayapmu 'kan terasa penat...
Kau harus beristirahat, Kawanku!"
--Jikustik, Aku dan Sahabatku--


Kau mengibas-ngibaskan scarfmu seperti resah. Angin laut menggetarkan rambutmu, juga nadi yang merambatkan darah. Kau, Sang Pemberani itu, duduk di hadapanku: menghakimiku.
"Suka tidak suka, ini harus dibicarakan..." katamu tegas. Aku heran, kenapa orang selalu memilih pantai untuk sebuah pembicaraan serius.

Aku memandang matamu lekat. Kilatan itu masih seperti dulu, mengalirkan magma. Daypack-mu mematung di dekat kakimu, sesekali kau sentuh dengan ujung sandal gunung yang mulai berdebu.

Di lain hari, kamu minta maaf. Maafkan, katamu, karena telah bicara kasar... Suatu yang tak perlu, menurutku, karena aku yakin pada kelembutan hatimu. Hanya kemarahan besarlah yang bisa membuatmu berkata kasar. Lagipula sekali-sekali aku memang perlu dikasari.

Kamu temanku, sangat menemani. Beberapa kali kau ada saat aku roboh. Kamu yang mengajariku melintasi rindu dengan zikir.
"Gak apa-apa, tadi saya cuma mau tumpah biar agak lega," katamu.

Jangan menangis lagi, Nong. Kamu tahu, kita tidak boleh cengeng selain pada saat sujud kepada-Nya!