tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, May 28, 2004

Akan Tiba Saatnya



"Akan tiba saatnya sayapmu 'kan terasa penat...
Kau harus beristirahat, Kawanku!"
--Jikustik, Aku dan Sahabatku--


Kau mengibas-ngibaskan scarfmu seperti resah. Angin laut menggetarkan rambutmu, juga nadi yang merambatkan darah. Kau, Sang Pemberani itu, duduk di hadapanku: menghakimiku.
"Suka tidak suka, ini harus dibicarakan..." katamu tegas. Aku heran, kenapa orang selalu memilih pantai untuk sebuah pembicaraan serius.

Aku memandang matamu lekat. Kilatan itu masih seperti dulu, mengalirkan magma. Daypack-mu mematung di dekat kakimu, sesekali kau sentuh dengan ujung sandal gunung yang mulai berdebu.

Di lain hari, kamu minta maaf. Maafkan, katamu, karena telah bicara kasar... Suatu yang tak perlu, menurutku, karena aku yakin pada kelembutan hatimu. Hanya kemarahan besarlah yang bisa membuatmu berkata kasar. Lagipula sekali-sekali aku memang perlu dikasari.

Kamu temanku, sangat menemani. Beberapa kali kau ada saat aku roboh. Kamu yang mengajariku melintasi rindu dengan zikir.
"Gak apa-apa, tadi saya cuma mau tumpah biar agak lega," katamu.

Jangan menangis lagi, Nong. Kamu tahu, kita tidak boleh cengeng selain pada saat sujud kepada-Nya!

Thursday, May 27, 2004

Satu Lagi yang Pergi Hari Ini

Malam tadi Abi mendatangiku,
"Chan, gue mau nyampein berita buruk. Dedi dipecat hari ini. Dia mau ketemu lo, di lobi..."

Setelah bertanya Dedi siapa yang dia maksud, aku segera turun ke lobi, meninggalkan ketikanku yang belum selesai. Ini sesuatu yang krusial, wajib didahulukan, tidak tiap hari ada temanku yang kehilangan pekerjaan.

Aku menemui Dedi di parkiran depan lobi. Setelah ngobrol sebentar, kami ke kantin. Tidak sehat terlalu lama ngobrol sambil berdiri. Di kantin aku traktir dia teh botol.
...
Dedi itu driver di kantorku. Masih muda. Beberapa kali aku liputan dianterin dia. Menurutku anaknya asyik. Nasibnya saja di sini yang tidak terlalu bagus. Dia dipecat setelah empat kali telat masuk kantor.

"Tetap tenang aja, Ded. Setidaknya hari ini kamu masih gajian kan?"
Dia tertawa, getir.
"Iya, ini salary terakhir gue di sini. Tadi gue udah ngebalikin seragam ama name tag gue..."

Aku Datang!!!

Wah, banyak yang berubah! Lama gak ngeblog, jadi lupa username sama password. Sekarang masih sibuk, mungkin besok baru bisa nulis lagi. See U soon!!!

Saturday, May 08, 2004

[-------]

Seorang lelaki memang harus pergi,
tapi juga harus pulang.
Karena selalu ada yang merindukannya,
dan dirindukannya...
---Gola Gong--


Pamit undur diri sejenak. Mohon maaf kalo ada salah-salah kata. Insya Allah ketemu lagi dalam ruang yang sama. Sampai jumpa. Merdeka!!!
Tabeq. Mariki' diii!!!!

Friday, May 07, 2004

Wis Muleh?



:
Saatnya telah tiba untuk melarungmu lagi ke laut lepas, setelah berkali-kali buih dan ombak selalu memaksamu kembali merapat di pantai.

Inilah saatnya,
membebaskanmu dari semua beban ingatan,
juga titipan mimpi dan kenangan itu.
Kita tak bisa apa,
selain membiarkannya terjebak dalam lembar-lembar kalender,
disobek satu-satu.

Besok aku pulang, menjenguk jejak yang pernah kita toreh.
Di aspal, tanah berdebu, sungai, gunung, pepohonan, dan hati orang-orang.
Menelisik luka seperti menikmati puisi.

Sudahlah, simpan itu tangis.
Aku sudah lama terbunuh, oleh kesangsianmu pada mimpiku; mimpi kita.

Thursday, May 06, 2004

Menziarahimu Siang Itu, di Makam...


Bekas ceceran darah masih terlihat menempel di reruntuhan tembok, seperti serpihan. Tak begitu jelas karena warnanya yang mulai menghitam. Mungkin ada yang telah berusaha menghapusnya, mencoba menghilangkan jejak. Tapi pasti tak gampang melakukannya dalam dinihari yang gelap. Cairan kental berwarna merah itu telanjur menyatu dengan debu dan membentuk berkasnya sendiri.
Bayangan kepedihan itu pun menerpa mataku; pasti sangat tidak menyenangkan terbaring di situ, dengan darah yang mengalir dari tengkorak kepala.

"Itu masih ada rambut-rambutnya, Bang!" Seseorang menunjuk ke sela-sela kerikil dan pecahan semen usang. Anak muda gondrong itu ikut melihat apa yang ditunjukkan, mengais-ngais kerikil dan menemukan sisa jasad itu di situ. Dia lalu berdiri terdiam sejenak, sebelum melanjutkan berbicara.
...
"Abis di kerjai di sana, dia dibawa ke sini kayaknya." Dia menunjuk tempat lain yang juga ada bekas bercak darahnya. Tempat pertama yang dia tunjukkan padaku tadi.

Tak sempat aku menanyakan nama jelasnya --kedengaran seperti "Wing" atau siapalah... Kami bertemu di pinggir jalan dekat pasar. Dari ngobrol-ngobrol sebentar, dia bilang bersedia mengantarku ke reruntuhan gedung tua bekas kebakaran itu, tempat adiknya ditemukan tak bernyawa dengan wajah hancur, dinihari kemarin; seseorang atau sekelompok orang telah membantainya, menyisakan lubang menganga di batok kepala dan gigi bagian depan tanggal seluruhnya.

"Dia baru empat hari di Jakarta. Baru datang dari kampung, dari Sukabumi. Dia baru mulai jualan pisang. Dekat saya juga, saya juga jualan di pasar. Saya abangnya..." Dia mulai bercerita saat kami melewati rel kereta api yang memisahkan perkampungan dan kompleks pasar itu.

Panas menyengat, membuat bayangan orang di kejauhan tampak melengkung seperti melambai. Agak susah payah mengikuti langkahnya, beberapa kali dia mesti berhenti menungguku. Bukannya lebih lamban atau tak biasa bergerak cepat, aku hanya butuh lebih banyak waktu karena memperhatikan apa saja yang kami lewati.
...
"Dia salah bergaul. Saya sudah bilang kalo nyari temen itu hati-hati. Temen-temennya kayak yang tadi itu semua!" katanya dengan sedikit tertawa, merujuk pada seorang anak muda mabuk yang mendekati kami tadi dan mengaku tahu bagaimana kejadian sebenarnya.
Suasananya memang tidak terlalu enak. Beberapa kali dia menanyaiku apa sudah cukup mengambil gambar. Kelihatannya dia sangat gelisah berlama-lama di tempat itu. Mungkin karena ada banyak orang mengerumuni kami, juga bau amis darah yang sesekali muncul terbawa angin.
Karena tak ingin berlama-lama juga, aku pun segera membereskan tugasku. Mengemas peralatan dan berbasa-basi sebentar dengan preman-preman pasar itu. Prosedur pekerjaanku tidak menganjurkan berlama-lama di tempat rawan dengan peralatan seharga satu mobil Kijang. Resikonya besar kalau ada apa-apa.

Setelah menempuh jalan pulang yang sama, kami berpisah di tempat kami bertemu tadi. Aku mengucapkan terima kasih karena dia sudah bersedia mengantarku. Kami --aku, reporter dan driver yang menuggu di mobil-- harus kembali ke Jakarta, mengejar tayangan sore. Tadi pagi aku sudah diwanti-wanti bahwa stok berita kriminal kami sudah mulai menipis dan berarti harus segera menemukan kasus baru lagi kalau tidak ingin layar blank. Mana ada perusahaan yang mau memasang iklan di layar hitam!!

----
[Sampai hari ini pembunuhnya belum juga tertangkap. Tadi kami sempat mampir ke makam korban yang di koran disebut sebagai preman itu. Ditemani bapak dan seorang kakak perempuannya, aku ikut mengirimkan Al-fatihah dan doa "semoga tenang di alam sana".
Ada kendi kecil berisi air di dekat nisan kayu, juga taburan bunga-bunga, yang entah kenapa baunya seperti terperangkap di indra penciumanku. Bahkan sampai saat postingan ini aku tulis, aroma itu sesekali masih juga meruak tiba-tiba...

Allahu, la ilaha illa huwal hayyun qayyum...]

Tuesday, May 04, 2004

Dilarang Membunuh di Hari Tertentu


...
"Saya menyesal," kata bapak itu.
Pertanyaan bodoh sebenarnya jika menanyakan bagaimana perasaannya. Tadi malam dia baru saja membunuh istrinya. Dengan satu kali cekikan hampir sepuluh menit di bagian leher, nyawa istrinya melayang tak tertolong.
Konon, lewat tengah malam tadi sang istri yang bekerja sebagai penyanyi di sebuah klab malam itu baru saja pulang saat pertengkaran bermula. Beberapa kalimat kasar terlontar keluar dan membuat naik pitam. Kontak fisik pun terjadi. Dan berakhir dengan sang perempuan meregang nyawa di tempat tidur.

Kata tetangga-tetangganya, bapak itu mungkin khilaf. Sehari-hari dia dikenal sangat pendiam dan tidak banyak tingkah. Kepada tetangga pun dia tak pernah bermasalah. Sesekali malah dia mengajar mengaji dan mengisi ceramah di majlis ilmu. Hampir semua bilang tak menyangka dia bisa melakukan pembunuhan itu. Lagipula mereka punya dua anak yang masih kecil.

Mungkin dia memang tak sengaja. Kita anggap saja seperti itu.

------

Kasus pembunuhan inilah yang seharian kami kejar. Hari kedua di program kriminal, tensi makin naik. Kemarin dapat kasus kecil saja; anak muda nyuri karburator buat beli Topi Miring. Hari ini orang ngilangin nyawa.

Pagi-pagi sudah diteriakin boss disuruh ngejar tersangka di kantor polisi. Ternyata gak semulus yang dibayangkan. Menunggu BAP berjam-jam baru diijinin wawancara --[padahal belum lagi hilang ini sakit hati mengingat kejadian UMI kemarin!], dan tersesat beberapa kali sebelum menemukan TKP-nya di pelosok selatan Jakarta. Belum lagi kemacetan yang mengular membuat habis umur di jalanan.
Menjelang magrib baru bisa balik, disambut dengan tawuran ria anak-anak SMU di jalan depan kantor.

Seluruh badan seperti habis dipukuli. Capek banget!

Mas-Mas sekalian, tolong, malam ini jangan membunuh dulu lah. Biar besok gak ada kasus, dan kami bisa istirahat barang sejenak...

Monday, May 03, 2004

Update...


Baru tau dari Irna kalau ada anak UKPM yang juga ketangkap dalam rusuh 1 Mei kemarin. Tapi Alhamdulilah semuanya sudah dilepas. Tinggal Soni dan satu orang lagi yang masih ditahan.
Tadi abis nelpon Piyo, dan dia cerita kalau sekarang UKPM jadi bersemangat lagi. Apalagi anggota-anggota barunya. Senang sekali mendengarnya. Kayaknya mereka memang mesti dibuat bengap dulu sama polisi supaya bisa tau apa arti melawan. Hehehehe.

Waktu balik ke Makassar kemarin, belum sempat kenal sama mereka semua. Hanya beberapa orang anggota baru yang aku temui. Makanya tadi waktu Piyo nyebut nama-nama mereka, aku gak bisa langsung ingat. Kemarin itu ketemunya cuma selintasan saja.

Ah, jadi kangen sama UKPM dan seisinya! Bulan ini moga-moga bisa ngumpul sama mereka lagi. Pengen lihat jemari-jemari ringkih itu disatukan lagi, jadi kepal tinju!

[Menyusul pejabat-pejabat polisi lain, akhirnya Kapolda Sulsel juga dicopot dari jabatannya. Sebetulnya beliau orangnya baik dan berwibawa, anak buahnya saja yang kurang ajar!]

Saturday, May 01, 2004

Riot Act


Polisi-polisi itu diajari gak sih, kalo mukul orang pake balok kayu dan gagang pistol itu bisa bikin geger otak?

Siang tadi polisi menyerbu kampus Universitas Muslim Indonesia di Makassar. Mereka merengsek masuk untuk membebaskan rekan mereka yang disandera mahasiswa. Wajiblah menolong rekan yang teraniaya, tapi caranya itu lho! Mereka menyerbu sambil menembaki mahasiswa yang tak bersenjata. Melihatnya di tivi seperti menonton film Saving Private Ryan. Yang gak sempat melarikan diri dipukul pake popor senapan, gagang pistol, balok-balok, botol, dan sebagainya. Ada yang kepalanya dibenturkan ke pinggiran tangga atau ditendang pake lars. Beberapa orang terkapar berlumuran darah, diinjak-injak pula. Gimana gak mati itu anak orang?

Harusnya mereka tahu siapa yang mereka hadapi. Mahasiswa-mahasiswa itu hanya sekumpulan anak muda dengan idealisme dan semangat yang sedikit di atas rata-rata. Mestinya mereka dipahami, bukan malah sebaliknya diperlakukan seperti teroris yang harus diatasi dengan kekerasan senjata seperti itu.

Awalnya adalah demo di KPUD yang menolak capres militer sekaligus memperingati Hari Buruh. Entah siapa yang mulai, tiba-tiba mereka bentrok dengan polisi. 26 orang ditangkap. Aku lihat Soni dipukuli dan diangkut ke atas truk tentara. Beberapa masih aku kenal baik wajahnya. Kebanyakan anak-anak LMND yang biasa ngopi dan nongkrong bareng di Baruga. Habis maghrib tadi aku menelpon menanyakan kabar mereka. Gak ada yang mati, tapi 160 orang terluka!

Sedih sekali melihat kejadian seperti itu lagi. Polisi-polisi itu! Apa mereka merasa bisa melakukan apa saja dengan senjatanya? Sori, tapi aku benar-benar marah --sampai tak sadar kalo aku menangis. Hanya kemarahan yang bisa membuatku keluar air mata! Aku masih ingat bagaimana mereka memperlakukan Uce, adikku, beberapa tahun lalu. Mereka menyeretnya di aspal sampai kacamatanya pecah, membuatnya bengap, lalu menginapkannya di sel yang dingin! Aku gak akan lupa itu!

Barusan aku dengar kabar dari Mas Agus --asprod Berita Pagi, Kapolwil, Kapolres, dan Kapolsek di Makassar yang berkaitan dengan kejadian itu langsung di-nonaktifkan. Aku gak tau harus gembira atau bagaimana, tapi setidaknya ada yang harus bertanggung jawab atas nasib anak-anak muda yang berlumuran darah itu!