tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, April 26, 2004

Surah 55:13


Tadi siang ngobrol banyak dengan Mas Didit di kantin. Banyak hal yang kami bahas --sebenarnya tidak membahas, karena aku lebih banyak mendengarkan. Gak tau kenapa, kata-katanya masuk banget ke pikiranku, mungkin karena cara kami memandang hidup gak terlalu jauh beda. Waktu muda dia juga seorang pejalan, menghabiskan banyak umurnya dengan bersekolah di alam dan jalanan. Bedanya denganku, dia sudah melewati itu semua. Keresahannya sudah terorganisir dengan baik. Telah menikah dan punya anak sepertinya membuatnya lebih tenang...

Bisa jadi karena melihatku terlalu meledak-ledak maka dia menasehatiku. Bisa jadi dia melihatku seperti cerminan dirinya di masa lalu dan lalu merasa perlu memberiku pertimbangan.

"Kamu masih enak, Chan. Masih punya tempat untuk melampiaskan kekesalanmu. Kamu punya blog. Kamu masih bisa jalan ke mana saja kalau kamu jenuh. Banyak orang yang tidak bisa seperti itu!"

Aku terhenyak, sadar kalau sudah banyak sekali sumpah serapah yang aku tulis di sini, dan dengan itu aku jadi tampak seperti seorang yang sangat pesimis dan pemberang. Padahal sebenarnya tidak seperti itu. Sejatinya, aku sangat menikmati hidupku. Aku selalu berusaha ramah kepada siapa pun, dan tak ingin pulang ke rumah dengan membawa kemarahan.

Ruang ini penghentian terakhirku, sebelum membereskan ransel, memakai sepatu, mengisi botol minum di dispenser kantor, lalu melangkah dengan tenang pulang ke kosan.
Maafkanlah, Pak Cik-Mak Cik, kalau terlalu banyak sampah kalian temukan di sini...

---
Hari ini gak jalan kemana-mana, gak dapat kamera. Seharian di kantor saja, dan sempat dibuat kaget dengan perintah berangkat ke Ambon malam ini. Waktu tidur di pojok fenomena, Mbak Eka nelpon.
"Zan, kamu malam ini ke Ambon ya, sama Digun."
"Kok mendadak, Mbak?" tanyaku, belum benar-benar sadar.
"Ya, emang gitu." kata Mbak Eka santai.

Dari kemarin Ambon memang kembali rusuh karena perayaan ultah RMS. Kantor perwakilan PBB dibakar, sudah banyak yang mati, yang luka apalagi. Aku bukan tipe orang yang suka menolak tugas, lagipula kesempatan meliput ke daerah konflik itu sangat langka. Satu hal yang aku impikan di pekerjaan ini. Tapi tadi gak tau kenapa aku jadi mikir-mikir. Sebenarnya hambatanku kecil saja dan bisa diatasi; dari pagi aku kena diare! Kebanyakan makan pisang tadi malam. Dan pastinya sangat memalukan tidak menerima tugas dengan alasan sedemikian!

"Ya, udah. Kalau keberatan kamu ngomong sama Kang Ule sana." kata Mbak Eka waktu aku tanya apa gak ada orang lain yang bisa dikirim.

Bukan keberatan sebenarnya, kalau memang harus berangkat aku dengan senang hati melakukannya.
Untunglah (atau malah rugi ya?), waktu menghadap, Kang Ule bilang kalau aku gak jadi berangkat dan diganti sama Mas Osa yang lebih senior. Pertimbangan lainnya (kata abang2), di sana konfliknya mungkin bisa kembali merembet ke konflik agama, dan sebaiknya mengirim dua orang wartawan yang berbeda agama supaya bisa masuk ke kedua kubu. Kalau dengan Mas Digun, kami sama-sama Muslim.

Tapi gak enaknya, beberapa teman ada menganggap aku yang menolak ditugaskan. Padahal sumpeh deh, aku ingin sekali ke sana. Besok-besok mungkin sudah gak bisa lagi, karena mulai bulan depan aku udah dipindahin ke program lain yang penuh darah dan tatto.
Tetap Semangat!!!!!!!!!!!!!!! (dengan banyak tanda seru, tentu saja :D)