tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, April 02, 2004

Sisa Ingatan


"Lain kali jangan begitu. Tidak akan ada yang melarangmu ke mana pun kau ingin pergi. Kita di sini hanya ingin tahu kamu ada di mana, supaya bisa mendoakanmu..."
...
Suara Bunda terdengar bergetar di telepon. Kesalahanku yang berulang. Aku menghilang tanpa pamit dan tiba-tiba mengabarkan sudah kembali dengan selamat. Penyakit lamaku muncul lagi; selalu merasa otonom dalam melangkah. Padahal sebenarnya alasanku sederhana, aku tak ingin membuat mereka khawatir.

Beberapa hari ini aku tak sempat menulis. Hari-hari kampanye putaran terakhir lumayan membuat sibuk. Belum lagi jadwal liburku yang digeser. Betul-betul banyak kejadian yang terlewatkan tanpa tercatat.
Sebenarnya banyak yang ingin aku ceritakan. Tapi sepulang dari Aceh kemarin aku hampir-hampir tak pernah menyentuh komputer. Sementara peristiwa datang saling menerpa, seperti agenda media. Satu menggantikan yang lain seolah tak ada yang benar-benar penting....

Akhirnya hanya tinggal fragmen-fragmen, terserak tak berujud:
Kampung yang tenang tapi mencekam, mengingatkan aku pada Alfian Hamzah, "Di Aceh sejengkal tanah tidak ada yang aman... Di sini memang perang bohong-bohongan, tapi kalau mati ya mati beneran!"
"Wah, itu narkoba, saya tidak boleh menunjukkan." kata seorang Pak Tua saat kami mengompori Dave, wartawan TV asing, untuk menanyakan di mana bisa memperoleh "souvenir" dodol ganja!
Wajah-wajah keras itu pun masih terbayang-bayang sampai pesawat Cesna tua itu membawa kami kembali ke Polonia.
"Katanya dia dicalonkan oleh partai [...........] ya? Kok bisa? Dia itu kan penjahat perang?" Seseorang berbisik, takut kedengaran. Yang lain tertawa. Malam itu kami makan malam bersamanya. Bersebelahan meja.

Tiba-tiba aku sudah di Senayan. Di tengah-tengah wartawan foto dan TV yang mengabadikan seorang presiden partai duduk bersila membawakan orasinya. Lima ratus ribu massa yang begitu tertib. Keluarga-keluarga muda dengan bocah di gendongan. Spanduk dan koran yang menjadi sajadah. Sebuah bendera besar di tengah lapangan. Anak-anak muda berbaju coklat, bercelana gunung. Wajah-wajah teduh dan meneduhkan.
Mungkin lima tahun depan, Insya Allah, sekarang aku masih pengen golput...