tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Tuesday, April 27, 2004

Menghakimi Masa Lalu


Dengan selempang warna biru membungkus tubuhnya itu, dia tampak tak berdaya di atas kursi roda. Wajahnya kuyu, lunglai, tapi garis bibirnya masih menunjukkan betapa murah senyumnya dia di masa lampau. Seperti yang sering dipertontonkannya di acara-acara TV pemerintah; berbincang-bincang dengan petani, nelayan, atau siapa saja...
Beberapa orang berbadan tegap pelan-pelan saja mengawalnya, seakan-akan dia bukan orang yang telah ditunggu berjam-jam itu. Justru sedikit sentakan dari pengawal yang meminta jalan yang menyadarkan aku.
Wajah itu! Wajah itu! Rasanya aku kenal!
Refleks aku memencet tombol record, dan sempat terekam sekitar setengah menit gambar laki-laki tua di atas kursi roda, didorong menuju ruang endoskopi! Cepat sekali!
Beberapa wartawan yang kehilangan momen berharga itu menyumpah-nyumpah. Betul-betul hampir tidak ada yang menyadari kehadirannya!

Kemarin sore dia masuk rumah sakit karena kelelahan setelah berziarah ke makam istrinya, dan menjenguk anaknya yang juga dirawat di rumah sakit lain. Kata dokter yang menanganinya, dia mengalami pendarahan usus di samping penyakit lain yang selama ini sudah dideritanya.

Keluar dari ruang endoskopi, dia sudah terbaring di kereta dorong dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Matanya terpejam, mungkin habis dibius. Wanita berkerudung anak tertuanya mengikuti di belakang, sama sekali tanpa kata.

Di masa berkuasanya dulu, pasti tak pernah dia membayangkan kesakitan di hari tuanya ini akan menjadi komoditas berita yang be-rating tinggi.
Pasti tak pernah dia membayangkan akan melewati hari tuanya seperti ini. Dikejar-kejar dengan alasan yang menyakitkan. Kalaupun ada yang mengharapkan dia sehat wal afiat, itu karena agar dia bisa diadili atas perbuatannya di masa lalu yang dianggap telah merugikan banyak orang.

Laki-laki tua yang ditunggu-tunggu itu ---mantan penguasa orde baru selama 32 tahun, menjadi petanda nyata betapa sulitnya menghakimi masa lalu, seperti sulitnya jika kita mencoba menerka masa depan.

----
[Hari ini, persepsi pertemananku diuji lagi. Sempat ribut tadi pagi dengan seorang teman kantor gara-gara kamera. Padahal selama ini kami sangat akrab. Benar-benar salah paham, dan dia sempat melontarkan kata-kata yang membuat emosiku terpancing. Dia orang pertama yang menuduhku seperti itu.
Dan sepanjang liputan tadi aku banyak berpikir tentang masalah itu. Berusaha menemukan kembali arti pertemanan yang selama ini aku anut, sampai akhirnya aku memutuskan untuk meminta maaf padanya sesampainya di kantor. Mungkin memang aku yang bersalah. Mungkin dia punya masalah besar yang tak sengaja tersulut karena tindakanku.

Tapi dia menepiskan tanganku yang terulur dengan tulus.
"Jangan begitu, kita kan teman," kataku. Tapi tak sedikit pun dia menanggapi. Melihatku pun tidak! Seingatku tiga kali aku menyapanya dengan niat mencairkan kebekuan dan mengembalikan situasi seperti semula.
Lupakanlah kamu pernah menyebutku seperti itu! Gak apa-apa kok. Hitung-hitung itu untuk menyadarkan bahwa aku mungkin memang punya bakat seperti yang kau bilang itu.
"Hei, kita teman kan?" tanyaku lagi.
Tapi kenapa juga kau tetap tidak mau bicara?
]