tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, March 15, 2004

"Tolong Jangan Menghukumku Seperti Itu..."


"Sehari bisa laku cepek, Mas. Lumayan. Bapak saya juga menjual di Depok. Pedei sama petiga..."
...
Sesungguhnya tidak boleh membawa anak kecil ikut dalam kampanye. Tapi jika tidak demikian, siapa yang akan membeli dagangannya? Tidak banyak orang dewasa yang mau membeli balon, apalagi yang bergambar partai.
Aldi, anak muda lulusan STM itu sudah beberapa hari ini menemukan lahan rezeki baru, menjadi pedagang balon partai. Satu balon yang modalnya Rp.500 bisa dijualnya seharga Rp.2000. Pangsa pasarnya memang anak-anak kecil yang dibawa orangtuanya berkampanye. Meski ada juga orang dewasa yang membeli.

"Kalo lagi untung, ada yang pesan juga, Mas. Besok itu sudah ada yang mesen lima ribu," katanya.
"Balonmu semua?"
tanyaku.
"Nggak. Nggak. Bapak saya yang ngerjain..."

====
Baru beberapa hari meliput kampanye, aku sudah mulai merasa bosan. Juru kampanyenya itu lho! Bahasanya hampir seragam. Ekonomi kerakyatan. Kemakmuran rakyat. Keadilan rakyat. Sekolah gratis untuk rakyat. Semuanya atas nama rakyat!!
Janji adalah utang, kata orang bijak. Bayangkan betapa bertumpuk utang mereka kepada rakyat. Ibu Presiden kita yang terhormat itu sewaktu berkampanye sebelum menjadi presiden dulu, pernah menjanjikan pendidikan gratis jika dia terpilih. Sekarang apa? Jutaan anak masih terlunta-lunta di jalan. Gak bisa sekolah!

Oleh sebab itulah aku memilih untuk apolitis. Seumur-umur aku baru sekali nyoblos pemilu. Itu waktu jamannya partai masih tiga biji. Di bilik suara aku coblos tiga-tiganya. Biar adil. Lagipula warnanya bagus-bagus sih!
Bukannya aku gak percaya sama partai. Ada kok partai yang menurutku bisa diandalkan. Partai yang bersih, yang orang-orangnya mudah-mudahan sudah melewati 2 dari 3 ujian dunia; harta dan wanita. Harapanku semoga nanti partai itu yang menang, supaya 1 ujian lagi terlewati: tahta! Berat memang! Tapi itulah resikonya jadi manusia.
Tapi yang pasti aku akan berusaha tetap apolitis. Biarlah suara pemilih berkurang satu, toh itu cuma aku.

====
Tadi pagi itu kampanyenya di Bulungan. Banyak sekali anak muda. Funky-funky pula. Penuh nuansa biru. Beberapa bulan yang lalu, bersama ketuanya yang sekarang masih jadi ketua majelis rakyat yang mulia, aku pernah ikut safari partai ini ke daerah-daerah.
Ada pengalaman lucu. Di sebuah desa yang kami datangi, tiba-tiba aulanya sudah berubah jadi warna biru, sesuai warna partai. Dan untuk menyenangkan bapak-bapak dari Jakarta ini, sampai-sampai minuman yang disediakan panitia pun juga berwarna biru: Pepsi Blue coy!!! Pantesan aja dari tadi nyari air putih gak dapet-dapet!

Satu lagi. Waktu itu aku jadi kameramen, dan ditugaskan mengambil footage sebanyak-banyaknya tentang Bapak yang satu itu. Suatu waktu aku sudah merasa lelah sekali setelah menempuh sekian jam perjalanan darat ditambah dua jam di pesawat. Sesampainya di sebuah pesantren, ceritanya bapak ini ingin bersilaturrahmi dengan pimpinan pondok pesantren. Dan humasnya minta supaya gambar itu diambil --untuk membentuk citra religisus, mungkin. Karena terlalu lelah, aku hanya pura-pura mengoperasikan kamera, padahal tidak kunyalakan. Aku pun merengsek maju pura-pura ambil gambar. Lagi asyiknya berlagak, tiba-tiba bapak humas itu sudah berdiri di depanku.
"Mas, tutup lensanya belum dibuka tuh..." katanya menunjuk kameraku.
Aku kaget, tapi tetap berusaha tenang. Hehehe. Ketahuan bandelnya nih!
"Gak papa kok, Mas. Ini kamera otomatis..." kataku dengan sangat santai.

===
Ah, pemilu.... maunya pengen cepat-cepat selesai saja ini acara. Sudah terlalu lama rakyat dibohongi.
Menurutku ini bukan situasi yang baik. Seperti kata Mr. Kobayashi kepada Totto Chan: "Sungguh jahat mengkhianati dia yang mempercayai kita. Jangan membuat seseorang memohon tapi kemudian tak memberinya apa-apa. Dia takkan mempercayaimu lagi, dan sikapnya akan berkembang menjadi buruk!"

Lagipula bos di kantor sudah mewanti-wanti kami, --kecuali hal-hal lain diluar kehendak, seperti istri melahirkan dan sebagainya-- gak boleh ada yang ngambil cuti sampai pemilu selesai!!
"Siap, Pak!"
"Ayo kerja lagi!"
"Siap, Pak!"
"Hei, itu yang maen komputer, kerja sana! Ngeblog mulu!!"
"Siap, Pak!"

[...lagi asyik nulis ini, tiba2 disuruh pulang sama Bos ngambil baju. Katanya besok jam 4 pagi harus ikut rombongan Akbar Tanjung safari ke daerah! Mudah-mudahan masih bisa nolak. Salah sendiri, Chan. Siapa suruh jam segini masih di kantor! Plis deh, Bang. Jangan gue... Aku lelah banget! Lelah lahir batin.
Seseorang telah menghukumku begini rupa....
]