tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Wednesday, March 10, 2004

Sekolah Kehidupan


Waktu SD aku punya teman yang buku rapor-nya dijilid dua biji --dijahit dengan benang, saking seringnya tidak naik kelas. Di kelas 6 dia kemudian sering jadi bahan tertawaan teman-teman, karena dia yang paling tua di antara kami, tapi tak punya kekuatan apa-apa. Kadang-kadang dia disuruh-suruh apa saja oleh yang lebih muda, dan mau saja melakukannya...

Tapi meski tak sepandai teman-teman yang lain, guru-guru tetap sayang padanya dan berusaha mempertahankan agar dia bisa tetap sekolah. Salah satunya karena dia itu rajin luar biasa. Misalnya dia selalu punya inisiatif untuk membersihkan ruang kelas tanpa harus diperintah. Kalau ada dia, pekerjaan 5K menjadi tidak begitu berat.

Dan begitulah, dalam bergaul sehari-hari, ada saja teman yang sering iseng menambahi sebutan tak beradab di belakang namanya. Mungkin karena namanya pasaran sehingga teman-teman merasa perlu memberi gelar yang identik dengan dirinya, untuk membedakannya dengan yang lain. Panggilan-panggilan seperti... [ah, tak tega aku menulis itu di sini..]

Setamat SD, aku hampir tak pernah mendengar kabarnya lagi. Waktu dan dewasa memisahkan kami. Terakhir yang aku ingat, aku melihatnya terpekur di atas sajadah pada suatu malam tarawihan di mesjid kampung kami sekitar tujuh atau delapan tahun yang lalu. Aku lupa apa aku menegurnya saat itu, yang jelas setelah itu aku tak pernah bertemu dia lagi.

Beberapa hari yang lalu, aku tiba-tiba teringat dia lagi. Itu karena seseorang mengingatkanku kembali tentang sekolah yang lebih luas dan semesta: sekolah kehidupan.
Mencoba membandingkan diriku dengan teman itu, membuatku merenung lama. Dalam hidup, satu bab pelajaran sering butuh waktu lama untuk memahaminya. Malah sering tak bisa dipahami sama sekali.
Maka pikirku, andaikata Sekolah Kehidupan juga membagi-bagikan rapor, mungkin akulah murid yang punya buku rapor dengan jilid paling tebal!