tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, March 26, 2004

Rindu!


Vespa butut itu masih bisa jalankah, Ce'?
Aku rindu ingin berboncengan denganmu lagi, menembus malam. Mencari segelas sarabba dan pisang goreng di pintu dua. Atau ketika kamu mengantarku pagi-pagi menunggu angkot yang akan membawaku ke bandara. Selalu dengan kepalan tangan kananmu yang terangkat setiap kali kau meninggalkan aku di pertigaan itu. Semacam titipan semangat yang tak terucap.
Sudah lama sekali kita tidak melakukan hal-hal kecil seperti itu lagi.

Vespa butut itu masih bisa jalankah, Ce'?
Satu yang kita pakai bertiga, dan sesering itu pula namanya berubah. Kalau aku yang membawanya, namanya Ernesto, tapi kalau kau atau Bang Iccang yang membawanya, namanya jadi Zulfikar atau Abrahah... Tapi bernama siapapun dia, dia tetap saja sama: saringan knalpotnya masih sering jatuh-jatuh!

Kamu tahu, rindu sekali aku pada itu semua.
Pada cengkeraman tanganmu di kerah bajuku saat perdebatan kita tentang rokok tidak mencapai titik temu. Pada ceritamu tentang partai yang semakin hari aku lihat menguras tenagamu, merampas tidur malammu. Pada pandangan matamu yang tak suka setiap kali aku memasang poster Nirvana di kamar kita. Pada suara batuk-batuk kecilmu ketika kau tertidur kelelahan di lantai yang dingin. Pada suatu pagi kau pulang dengan muka lebam dan kacamata yang pecah setelah mereka menginapkanmu di sel polisi karena berdemo. Pada suara kaset murottal, nasyid, dan kitab-kitab Hasan Al-Banna-mu.

Aku rindu pada suatu saat kau menganggurkan begitu saja buku puisi Wiji Thukul yang sengaja aku belikan untukmu. Seperti Bang Iccang yang tidak pernah sadar kalau kaset Midnight Jazz itu aku belikan sebagai hadiah ulang tahunnya. Karena Yusuf Qardawi dan Sayyid Qutb lebih menyita perhatian kalian...

Aku rindu pada suatu saat kalian --adik dan abangku-- mulai berbicara tentang tauhid dan jihad. Saat kalian mulai memotong ujung celana sampai ke atas mata kaki dan memanjangkan janggut. Saat baju gamis itu mulai kau pakai mengikuti kuliah, dan jins-mu yang robek selutut kau jadikan lap kaki. Saat gitar dan stik drum kau anggurkan di lemari.

Vespa butut itu masih bisa jalankah, Ce'?
Aku rindu pada suaranya yang meletup halus, yang selalu kau matikan bila pulang malam lewat samping kosan karena takut membangunkan ibu kos yang tertidur nyenyak.
Aku rindu!
Kapan lagi kita berboncengan menuju mushalla kecil dekat pondokan itu, Ce'?

[Dengan jiwa yang retak aku menulis ini. Kematian Syaikh Ahmad Yassin yang dirudal Israel, dan para tersangka bom Cimanggis yang ditahan di Polda itu, entah kenapa semuanya mengingatkanku pada kalian.
Rasanya sudah lama sekali kita tidak jalan bersisian, bercerita tentang militansi. Dua orang saudaraku yang radikal. Dari Bunda aku hadir di tengah-tengah, hanya beda setahun, tapi terlalu jauh kalian tinggalkan aku dalam jahiliah seperti ini....
]