tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, March 06, 2004

Kebun Karet


"Mas, bisa duduk di sini. Supaya cahayanya bagus. Mike-nya biar saya yang pegang. Nanti liat saya, jangan liat kamera ya..."
Laki-laki tigapuluhan itu menurut mengikuti arahanku. Merapikan jaketnya sebentar.
...
"Sudah satu setengah tahun ini saya tidak ketemu mereka. Sejak jadi penambang mereka memang jarang pulang. Saya juga baru tahu kemarin, saya baru pulang orang bilang ada kecelakaan..."

Maka betapa berdosanya aku!
Laki-laki itu, menyebut namanya Aat. Dua adiknya tewas terjebak di Gunung Pongkor, dicap sebagai penambang liar tanpa izin, sampai kemarin itu belum bisa dievakuasi. Sebuah tragik yang dalam dan menyayat. Mata yang memerah basah. Kesedihan pada kehilangan.
Lalu kami datang, dua orang wartawan TV dari Jakarta, minta wawancara, dan masih sempat ribut soal cahaya dan angle kamera yang oke!
Big Damn!
Maafkan....

Pangradin, desa di kaki Gunung Gede. Sontak terkenal karena 11 dari 13 penambang liar yang tewas di Gunung Pongkor disebut-sebut berasal dari desa ini. Sekitar 80 kilometer ke arah barat Bogor, 4 jam dari Jakarta kalau lancar.
Melewati setapak berbatu-batu dan berlumpur. Bukit dan beberapa sungai kecil dengan jembatan kayu.
Dan kebun karet di sepanjang jalan!
Ah, alur torehan yang melukai batang, getah-getah putih yang merembes pelan-pelan, jatuh di tempurung. Besok dia akan jadi lateks jika tak jatuh ke tanah!

Mengobrak-abrik ingatanku.
Tiga tahun lalu pernah begitu akrab dengan aroma seperti ini. Daun-daun gugur. Tanah basah.
Dua bulan waktu yang cukup untuk membuatnya tak terlupakan.
Waktu itu kami bertujuh, menjelajah akademis. Maka kami tinggalkan rumah, dengan ransel masing-masing menuju ke sebuah desa di atas gunung. Ini pilihan. Mencoba untuk tidak jadi sayur.
Aku masih ingat dia menangis ketika sungai terakhir yang kami lewati menjadi akhir patok tiang listrik. Setelah itu tak ada lagi kabel melintang. Hanya ada pepohonan karet.
Bahkan segelas teh yang disuguhkan tuan rumah yang menampung kami tak juga meredakan resahnya.
Membayangkan bakal hidup di tengah belantara jauh dari peradaban bukan pekerjaan yang menyenangkan. Ketika melihat sumur satu-satunya, temanku bercanda, "Butuh dua kali menyanyikan Indonesia Raya baru timba ini bisa sampai ke dasar sumur."
Desa yang keras. Tapi aku sangat merindukannya...

Dan di jalan pulang dari Pangradin, aku memerlukan berhenti sejenak. Minta pada driver dan kameramenku untuk menungguku barang sebentar. Berdiri dan menghirup nafas dalam-dalam di pinggir kebun karet itu. Hawa sejuk mengaliri paru-paruku. Damai dan tenang, mengalahkan gejolak yang beberapa hari ini membuatku remuk.
Sungguh, ada yang sangat ingin aku hadirkan. Mungkin hanya sebuah ingatan pendek; tentang ketabahan menemani resah.