tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, March 27, 2004

Belajar Mengingat


"Lagi ngelamun, Mas?"
Seorang pria dengan seragam kantor itu sudah berdiri di pojok lift, tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya sebagai tanda terima kasih. Tadi hampir ketinggalan lift gara-gara membaca poster cara nyoblos yang ditempel di panel informasi, untung dia menahan pintu lift agar tidak keburu tertutup.
Laki-laki berseragam itu lalu tampak sibuk membuka sebuah bungkusan.
"Mau coba?" katanya menawari.
"Boleh, Mas..." kataku tanpa bertanya benda apa yang ditawarkannya itu. Pastinya sih sesuatu yang bisa dimakan. Aku mengambil satu.
"Ini ditambah lagi..."
"Gak usah, Mas. Ini sudah cukup kok."
Tapi tiga biji benda berwarna coklat bertabur bubuk putih itu sudah berada di telapak tanganku, bersamaan pintu lift yang terbuka di lantai 3, lantai tempat kerjaku.
"Makasih, Mas." Aku buru-buru mengucapkan terima kasih sebelum pintu lift kembali tertutup dan membawanya ke lantai 5.
Ternyata permen buah asam yang dilapisi gula. Setahuku yang seperti ini hanya ada di kampung-kampung. Permen tradisional. Sering dapat yang seperti itu waktu masih di SD dulu. Sekarang sudah tak pernah lagi.
Maka betapa senangnya lidahku bertemu rasa yang bertahun-tahun tak pernah dikecapnya lagi.
Tapi laki-laki baik hati itu, aku bahkan tak sempat mengenali wajahnya.

===
Begitulah. Banyak sekali hal-hal kecil di sekeliling kita yang bisa memicu kesadaran. Kejadian sekilas di lift tadi itu lalu mengingatkanku pada pesan seorang Abang yang hampir-hampir aku lupakan.

Beberapa tahun lalu, aku pernah pulang tengah malam ke kosan. Tempat kos-ku berada di area kampus, jadi harus lewat Pintu Satu kampus untuk mencapainya kalau kita dari luar. (Belakangan dibuat jalan tembus menuju Kampus Politeknik, dan diberi nama Pintu Nol oleh teman-teman.) Biasanya di Pintu Satu masih ada ojek sampai jam 12 atau jam 1, tapi malam itu tak satupun mereka yang kelihatan. Ternyata mendung yang menggayut di langit itu membuat mereka tak berani bertahan lebih lama.
Ketimbang menunggu tumpangan yang tak pasti, aku pun memutuskan berjalan kaki dalam gelap. Dan itu pilihan yang salah, karena seketika gerimis kecil itu mulai berubah menjadi titik-titik air yang membuat basah.
Tiba-tiba sebuah motor berhenti di dekatku.
"Ke pondokan?" tanyanya. "Naik ma ki'!"
Seperti mendapat anugrah, aku lantas naik ke boncengannya.
"Di mana pondok-ta'?"
"Di HR. Halaman Rawa..." kataku yang seolah diterbangkan angin.
Dan dia benar-benar mengantarku sampai ke depan kosan-ku, tapi tak sedikitpun aku sempat melihat wajahnya.
Besoknya kejadian yang sama terulang lagi. Seseorang telah menyelamatkanku dari kehujanan. Dan lagi-lagi aku tak bisa melihat jelas wajahnya.

===
Kejadian beruntun itu lalu aku ceritakan pada seorang Abang, dan komentarnya singkat saja:
"Itulah sebabnya kenapa kita selalu diperintahkan untuk berbuat baik. Jangan sekali-kali kamu berbuat jahat pada orang lain, siapa tahu orang yang kamu jahati itu adalah mereka yang pernah menolongmu atau pernah berbuat baik kepadamu. Kita tidak pernah tahu itu..."

[Kata Nina, Tuhan memang Maha Romantis; selalu ada saja cara-Nya yang tak terduga untuk menyayangi kita...
--Oya, Kawan-kawan, besok pagi-pagi aku berangkat ke Aceh, meliput kampanye sekaligus melihat situasi tempat itu pasca perang. Mohon do'a-nya, semoga semuanya aman, dan bisa kembali nge-blog lagi!
]