tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, March 13, 2004

Atas Nama Keinginan Berkuasa


Beberapa tahun lalu pasti tak pernah terbayangkan olehnya akan mengalami hal seperti ini. Dulu dia bertahta di kursi empuk, dielu-elukan sebagai orang paling berkuasa di negara ini sebelum sebuah kejatuhan yang menjungkalkan.

Pagi tadi dia dijadwalkan berkampanye di sebuah daerah di Bogor. Ini kampanye pertamanya dalam musim pemilu tahun ini. Tapi barangkali salah tempat, atau tadi pagi dia bangun tidur di sisi yang salah.
Datang bersama seorang artis cantik --kali ini tampil berkerudung-- yang hampir tiap sore muncul di sebuah acara komedi, kiyai itu urung menyampaikan janji-janjinya di depan massa partainya sendiri.

Warga Kampung Empang, yang kebanyakan keturunan habib, menolak acara itu berlangsung. Alasannya satu: tak boleh ada maksiat di tanah waqaf depan Mesjid Agung Kampung Empang itu. Kiranya massa partai itu datang dengan segepok speaker dan alunan musik yang mungkin mengganggu. Dan itu sudah cukup membuat warga terusik.

"Silakan sampaikan visi misinya, partai apa pun kami tidak melarang, tapi bukan dengan cara maksiat, musik dan sebagainya itu. Cukup dengan tablig akbar. Allah pasti mendengar jika disampaikan dengan cara yang benar!" kata seorang warga.

Maka yang tinggal hanya lapangan lengang dan kursi yang kosong melompong. Tamu satu per satu bubar, demikian pula anak-anak muda yang tadi berkerumun, mengecat rambutnya berwarna hijau.
Mantan orang terhormat itu pun tak jadi turun dari mobilnya. Memilih segera melesat ke Paledang, meninggalkan pembantu-pembantunya yang panik menahan malu.
Kemudian terdengar kabar dia akan berbicara di RRI. Dan ke sanalah kami mengejar, sekedar ingin tahu apa yang akan dikatakannya...

====
Siang tadi, dia marah-marah kepadaku karena sebuah pertanyaan.
"Gus, apa komentarnya mengenai penolakan warga itu?"
"Apa itu?"
"Penolakan warga Kampung Empang itu, Gus..."
"Mereka menolak musiknya, bukan partainya!"

Suaranya mulai meninggi.
...
"Menurut Gus, ada tidak unsur politik dibalik itu?" tanyaku.
"Sudah dibilang tidak ada penolakan! Kamu ini ribut saja!!!"
Katanya dengan suara yang semakin meninggi.

Aku menurunkan mike sambil tertawa dalam hati. Statemen itu sudah cukup. Lagipula tidak tiap hari aku digertak seperti itu. Rieke Dyah Pitaloka, artis cantik calon anggota legislatif itu, juga ikut bicara, "Pertanyaanmu itu salah!"
Apa pula ini, pikirku. Sejak kapan wartawan gak boleh bertanya?

Dengan dipapah pembantu-pembantunya, dia berjalan meninggalkan kami. Joshua --kameramenku- mengejar mengambil gambarnya yang sedang terbatuk-batuk. Istrinya ikut dibelakangnya dengan kursi roda.

Saat menggulung kabel mike, seorang berpakaian hitam menegurku, "Pertanyaanmu itu berbahaya. Kamu sudah bikin dia marah."
"Hanya menjalankan tugas, Pak..."
Aku tersenyum, mencoba menunjukkan hormat.

Tapi dalam hatiku miris. Dulu dia adalah sosok cendekiawan yang dihormati karena pemikirannya yang brilian, juga seorang kiyai yang arif. Lalu aku ingat pada seorang teman, yang dalam sebuah demo di gubernuran beberapa tahun lalu, menurunkan paksa fotonya yang terpasang di sebelah kanan Burung Garuda, dengan sangat marah! Waktu itu dia masih berstatus kepala negara. Dan teman itu hampir kehilangan kebebasannya dengan tuduhan subversif!

Hari ini, orang tua itu --mantan orang nomor satu Indonesia, kini sudah tampak semakin tertatih-tatih.
Maafkan, Gus, sebagai bocah yang terlahir dalam lingkungan NU fanatik, betapa tinggi hormatku kepadamu. Tapi saat ini di mataku aku melihatmu sebagai seorang yang telah begitu berubah... oleh keinginan berkuasa.