tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Wednesday, March 31, 2004

Anggap Saja Puisi Cinta

Rasanya sia-sia perjalanan jauh ini.
Ribuan mil yang tak bermakna...
Tanpa kau yang menungguku,
tak tahu kemana aku harus pulang membawa rindu!


Saturday, March 27, 2004

Belajar Mengingat


"Lagi ngelamun, Mas?"
Seorang pria dengan seragam kantor itu sudah berdiri di pojok lift, tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya sebagai tanda terima kasih. Tadi hampir ketinggalan lift gara-gara membaca poster cara nyoblos yang ditempel di panel informasi, untung dia menahan pintu lift agar tidak keburu tertutup.
Laki-laki berseragam itu lalu tampak sibuk membuka sebuah bungkusan.
"Mau coba?" katanya menawari.
"Boleh, Mas..." kataku tanpa bertanya benda apa yang ditawarkannya itu. Pastinya sih sesuatu yang bisa dimakan. Aku mengambil satu.
"Ini ditambah lagi..."
"Gak usah, Mas. Ini sudah cukup kok."
Tapi tiga biji benda berwarna coklat bertabur bubuk putih itu sudah berada di telapak tanganku, bersamaan pintu lift yang terbuka di lantai 3, lantai tempat kerjaku.
"Makasih, Mas." Aku buru-buru mengucapkan terima kasih sebelum pintu lift kembali tertutup dan membawanya ke lantai 5.
Ternyata permen buah asam yang dilapisi gula. Setahuku yang seperti ini hanya ada di kampung-kampung. Permen tradisional. Sering dapat yang seperti itu waktu masih di SD dulu. Sekarang sudah tak pernah lagi.
Maka betapa senangnya lidahku bertemu rasa yang bertahun-tahun tak pernah dikecapnya lagi.
Tapi laki-laki baik hati itu, aku bahkan tak sempat mengenali wajahnya.

===
Begitulah. Banyak sekali hal-hal kecil di sekeliling kita yang bisa memicu kesadaran. Kejadian sekilas di lift tadi itu lalu mengingatkanku pada pesan seorang Abang yang hampir-hampir aku lupakan.

Beberapa tahun lalu, aku pernah pulang tengah malam ke kosan. Tempat kos-ku berada di area kampus, jadi harus lewat Pintu Satu kampus untuk mencapainya kalau kita dari luar. (Belakangan dibuat jalan tembus menuju Kampus Politeknik, dan diberi nama Pintu Nol oleh teman-teman.) Biasanya di Pintu Satu masih ada ojek sampai jam 12 atau jam 1, tapi malam itu tak satupun mereka yang kelihatan. Ternyata mendung yang menggayut di langit itu membuat mereka tak berani bertahan lebih lama.
Ketimbang menunggu tumpangan yang tak pasti, aku pun memutuskan berjalan kaki dalam gelap. Dan itu pilihan yang salah, karena seketika gerimis kecil itu mulai berubah menjadi titik-titik air yang membuat basah.
Tiba-tiba sebuah motor berhenti di dekatku.
"Ke pondokan?" tanyanya. "Naik ma ki'!"
Seperti mendapat anugrah, aku lantas naik ke boncengannya.
"Di mana pondok-ta'?"
"Di HR. Halaman Rawa..." kataku yang seolah diterbangkan angin.
Dan dia benar-benar mengantarku sampai ke depan kosan-ku, tapi tak sedikitpun aku sempat melihat wajahnya.
Besoknya kejadian yang sama terulang lagi. Seseorang telah menyelamatkanku dari kehujanan. Dan lagi-lagi aku tak bisa melihat jelas wajahnya.

===
Kejadian beruntun itu lalu aku ceritakan pada seorang Abang, dan komentarnya singkat saja:
"Itulah sebabnya kenapa kita selalu diperintahkan untuk berbuat baik. Jangan sekali-kali kamu berbuat jahat pada orang lain, siapa tahu orang yang kamu jahati itu adalah mereka yang pernah menolongmu atau pernah berbuat baik kepadamu. Kita tidak pernah tahu itu..."

[Kata Nina, Tuhan memang Maha Romantis; selalu ada saja cara-Nya yang tak terduga untuk menyayangi kita...
--Oya, Kawan-kawan, besok pagi-pagi aku berangkat ke Aceh, meliput kampanye sekaligus melihat situasi tempat itu pasca perang. Mohon do'a-nya, semoga semuanya aman, dan bisa kembali nge-blog lagi!
]

Friday, March 26, 2004

Tersamar Dalam Bintang


Tadi sore terlibat perdebatan kecil dengan Ewin, temanku yang lagi ngedit program F******a buat tayang malam ini. Tentang SPG (Sales Promotion Girl) atau Stand Guide --cewek-cewek cantik yang biasanya jadi penghias di pameran-pameran. Konon beberapa dari mereka bisa dibooking.

Untuk materi segmen terakhir, teman-teman yang liputan itu ketemu sama seorang cewek yang mengaku bisa diajak jalan.
Gambar dan suara percakapannya lumayan jelas kedengaran di monitor.
Masalahnya gambar itu diambil dengan hidden camera. Dia bicara jujur karena percaya pada orang di depannya. Dia pasti gak tahu kalau percakapannya dengan reporter itu direkam dan akan disiarkan dan ditonton di ruang tengah banyak keluarga. Bisa jadi bapaknya di rumah nonton, ibunya, atau adiknya...
Wajahnya memang di-blur, tapi menurutku itu tetap saja tidak etis. Suaranya masih bisa dikenali, lokasi tempat dia menjadi stand guide juga masih bisa ketahuan...

Entahlah. Tapi menurutku dengan cara apapun dia mencari uang, kita tidak punya hak untuk mempermalukannya seperti itu.
Siapa kita yang bisa merasa lebih terhormat dibanding orang lain?

Yeah! Aku hanya bisa bekoar-koar di sini. Di blogku sendiri. Bahkan dalam milis kantor yang masih memperdebatkan etika hidden camera, aku gak ikut menyumbang saran.
Teritori keresahanku memang hanya bisa sampai di situ. Panduan moral yang aku miliki juga sangat standar, malah cenderung bejat. Tapi entah kenapa hal-hal sesederhana itu masih juga membuatku resah?
Aku hanya berpikir, bagaimana kalau seandainya cewek itu adalah adik perempuanku, misalnya, yang terpaksa melakukan beberapa "pekerjaan tambahan" untuk membantu bertahan hidup, agar bunyi piring beradu dengan sendok masih bisa terdengar di ruang makan kami ....

Bisa jadi setelah malam ini, ada satu keluarga yang mata pencahariannya terampas. Entahlah. Tapi mudah-mudahan aku salah.

Rindu!


Vespa butut itu masih bisa jalankah, Ce'?
Aku rindu ingin berboncengan denganmu lagi, menembus malam. Mencari segelas sarabba dan pisang goreng di pintu dua. Atau ketika kamu mengantarku pagi-pagi menunggu angkot yang akan membawaku ke bandara. Selalu dengan kepalan tangan kananmu yang terangkat setiap kali kau meninggalkan aku di pertigaan itu. Semacam titipan semangat yang tak terucap.
Sudah lama sekali kita tidak melakukan hal-hal kecil seperti itu lagi.

Vespa butut itu masih bisa jalankah, Ce'?
Satu yang kita pakai bertiga, dan sesering itu pula namanya berubah. Kalau aku yang membawanya, namanya Ernesto, tapi kalau kau atau Bang Iccang yang membawanya, namanya jadi Zulfikar atau Abrahah... Tapi bernama siapapun dia, dia tetap saja sama: saringan knalpotnya masih sering jatuh-jatuh!

Kamu tahu, rindu sekali aku pada itu semua.
Pada cengkeraman tanganmu di kerah bajuku saat perdebatan kita tentang rokok tidak mencapai titik temu. Pada ceritamu tentang partai yang semakin hari aku lihat menguras tenagamu, merampas tidur malammu. Pada pandangan matamu yang tak suka setiap kali aku memasang poster Nirvana di kamar kita. Pada suara batuk-batuk kecilmu ketika kau tertidur kelelahan di lantai yang dingin. Pada suatu pagi kau pulang dengan muka lebam dan kacamata yang pecah setelah mereka menginapkanmu di sel polisi karena berdemo. Pada suara kaset murottal, nasyid, dan kitab-kitab Hasan Al-Banna-mu.

Aku rindu pada suatu saat kau menganggurkan begitu saja buku puisi Wiji Thukul yang sengaja aku belikan untukmu. Seperti Bang Iccang yang tidak pernah sadar kalau kaset Midnight Jazz itu aku belikan sebagai hadiah ulang tahunnya. Karena Yusuf Qardawi dan Sayyid Qutb lebih menyita perhatian kalian...

Aku rindu pada suatu saat kalian --adik dan abangku-- mulai berbicara tentang tauhid dan jihad. Saat kalian mulai memotong ujung celana sampai ke atas mata kaki dan memanjangkan janggut. Saat baju gamis itu mulai kau pakai mengikuti kuliah, dan jins-mu yang robek selutut kau jadikan lap kaki. Saat gitar dan stik drum kau anggurkan di lemari.

Vespa butut itu masih bisa jalankah, Ce'?
Aku rindu pada suaranya yang meletup halus, yang selalu kau matikan bila pulang malam lewat samping kosan karena takut membangunkan ibu kos yang tertidur nyenyak.
Aku rindu!
Kapan lagi kita berboncengan menuju mushalla kecil dekat pondokan itu, Ce'?

[Dengan jiwa yang retak aku menulis ini. Kematian Syaikh Ahmad Yassin yang dirudal Israel, dan para tersangka bom Cimanggis yang ditahan di Polda itu, entah kenapa semuanya mengingatkanku pada kalian.
Rasanya sudah lama sekali kita tidak jalan bersisian, bercerita tentang militansi. Dua orang saudaraku yang radikal. Dari Bunda aku hadir di tengah-tengah, hanya beda setahun, tapi terlalu jauh kalian tinggalkan aku dalam jahiliah seperti ini....
]

Wednesday, March 24, 2004

Berdamai Dengan Takdir

"...Dan bahkan mungkin diantara badai hati kita, akan muncul seberkas pelangi yang indah di sana. Bagaimanapun kita hanyalah hamba, dan Allah lah yang berkuasa..."
----petikan tauziah dari seorang sahabat----

Monday, March 22, 2004

Pertanyaan Pagi Hari

Jika semua yang kita lakukan demi berusaha untuk memelihara kejujuran, tapi tiba-tiba orang yang paling kita percaya justru menuduh kita munafik dan pembohong!
Sangat menyakitkan, menurutku. Bagaimana denganmu?

Sunday, March 21, 2004

Cepat Sekali Waktu Berlalu!


Adikku yang nomer 3 gak lama lagi naik ke kelas 3 SMU. Cepet sekali waktu berlalu!
Rasanya baru kemarin aku sering nyuri-nyuri makan bubur SUN-nya yang rasa beras merah.
Dulu itu ibuku sering kesal mendapati bubur bayinya licin tandas aku habiskan. Enak sih!
Abangku yang sulung malah menjuluki aku sebagai anak kecil yang selalu lapar.
Tapi gak ada yang bisa marah kepadaku. Waktu itu aku habis kena tipes, hampir koit. Dan orang yang habis kena tipes parah konon memang sering aneh-aneh. Kabel otaknya ada yang korslet, katanya...

Adikku yang nomer 2 gak lama lagi masuk universitas. Mau ambil kedokteran, katanya.
Biar bisa ngeberesin kabel otak abangnya yang korslet ini!

[Hari ini aku rindu sekali pada adik-adikku. Delapan tahun sudah aku tak menemani mereka tumbuh. Pasti sekarang sudah pada besar. Aku benar-benar lupa kapan terakhir menggendong mereka...]

Saturday, March 20, 2004

Hilang


Semakin bertambah hari, aku merasa kehilangan satu demi satu teman-temanku.
Semakin bertambah hari, satu demi satu teman-temanku merasa kehilangan aku.

Lewat email, lewat hp, lewat sms, atau mungkin sekedar angin berembus pelan, kabar itu sampai.
...
"Ini masih Ochan yang dulukah?"
---
"Masih menyimpan sajadah dan pedang pendek di ranselmu?"
---
"Bintang glow in dark-nya masih ada?"
---
"Bagaimana proyek idealismu? Jadi bikin dokumenter tentang Soe Hok Gie?"
---
"..."
---
"Dulu kamu pernah bilang kalo kamu jadi wartawan, kamu akan rajin meliput demo kita. Mana?"
---
"Teman-teman banyak yang diintimidasi. Kamu kemana saja?!!"
---
"Sekarang konsonan semua ya, Chan. Vokalnya hilang. Jangan-jangan disogok nih. Hahaha!"
---
"Pak Mansyur menanyakan kamu. Kamu tidak pernah mengabari beliau, katanya..."
---
"Sudah mulai ngaji lagi, Chan?"
---
"Saya baru mau bilang kalo kehilangan kamu. Sejak kamu pergi itu, rasanya kamu banyak berubah, seperti bukan temanku lagi..."
---
"Kapan punya waktu buat dengar cerita-ceritaku lagi, Chan?"

...

Kawan, maafkan. Tapi sebenarnya kalian tidak sendiri merasa seperti itu. Aku pun, sejatinya, merasa kehilangan diriku sendiri.
Sangat kehilangan.

Friday, March 19, 2004

Kalau Kau Merasa Terzalimi, Maafkan... Karena Seperti Itulah Caraku Menyayangimu!


...
"Zan, menjadi laki-laki itu harus bisa menahan diri. Jangan mengaku laki-laki kalau kau tak bisa menguasai keinginanmu..."
---kata Bunda suatu hari, tapi aku lupa kapan---


Bunda hampir-hampir tak pernah menelpon ke hp-ku. Biasanya aku yang nelpon ke rumah. Tapi sore kemarin tiba-tiba Bunda menelpon dan menanyakan apa aku baik-baik saja.
"De'to mu magaga tu, Nak?" tanya Bunda.
Aku kaget, dan seperti disadarkan pada janji yang hampir aku langgar. Begitu peka firasat Bunda sampai-sampai tahu sesuatu yang tak lazim terjadi pada anaknya.
Hanya sepotong kalimat itu. Dan aku dibuat percaya pada sebuah gelombang maha lembut yang terpancar dari orang-orang yang kita cintai. Bunda punya itu, seperti aku pun punya itu untuk Bunda.
...
Makasih Bunda, atas usaha tanpa hentimu untuk selalu meluruskan jalanku.

Tuesday, March 16, 2004

....

Semakin tampak jelas betapa tidak berdayanya aku melawan sistem yang menelikungku.
Maafkan, Kawan. Dengan tangan yang begini ringkih, aku bisa apa?

Monday, March 15, 2004

"Tolong Jangan Menghukumku Seperti Itu..."


"Sehari bisa laku cepek, Mas. Lumayan. Bapak saya juga menjual di Depok. Pedei sama petiga..."
...
Sesungguhnya tidak boleh membawa anak kecil ikut dalam kampanye. Tapi jika tidak demikian, siapa yang akan membeli dagangannya? Tidak banyak orang dewasa yang mau membeli balon, apalagi yang bergambar partai.
Aldi, anak muda lulusan STM itu sudah beberapa hari ini menemukan lahan rezeki baru, menjadi pedagang balon partai. Satu balon yang modalnya Rp.500 bisa dijualnya seharga Rp.2000. Pangsa pasarnya memang anak-anak kecil yang dibawa orangtuanya berkampanye. Meski ada juga orang dewasa yang membeli.

"Kalo lagi untung, ada yang pesan juga, Mas. Besok itu sudah ada yang mesen lima ribu," katanya.
"Balonmu semua?"
tanyaku.
"Nggak. Nggak. Bapak saya yang ngerjain..."

====
Baru beberapa hari meliput kampanye, aku sudah mulai merasa bosan. Juru kampanyenya itu lho! Bahasanya hampir seragam. Ekonomi kerakyatan. Kemakmuran rakyat. Keadilan rakyat. Sekolah gratis untuk rakyat. Semuanya atas nama rakyat!!
Janji adalah utang, kata orang bijak. Bayangkan betapa bertumpuk utang mereka kepada rakyat. Ibu Presiden kita yang terhormat itu sewaktu berkampanye sebelum menjadi presiden dulu, pernah menjanjikan pendidikan gratis jika dia terpilih. Sekarang apa? Jutaan anak masih terlunta-lunta di jalan. Gak bisa sekolah!

Oleh sebab itulah aku memilih untuk apolitis. Seumur-umur aku baru sekali nyoblos pemilu. Itu waktu jamannya partai masih tiga biji. Di bilik suara aku coblos tiga-tiganya. Biar adil. Lagipula warnanya bagus-bagus sih!
Bukannya aku gak percaya sama partai. Ada kok partai yang menurutku bisa diandalkan. Partai yang bersih, yang orang-orangnya mudah-mudahan sudah melewati 2 dari 3 ujian dunia; harta dan wanita. Harapanku semoga nanti partai itu yang menang, supaya 1 ujian lagi terlewati: tahta! Berat memang! Tapi itulah resikonya jadi manusia.
Tapi yang pasti aku akan berusaha tetap apolitis. Biarlah suara pemilih berkurang satu, toh itu cuma aku.

====
Tadi pagi itu kampanyenya di Bulungan. Banyak sekali anak muda. Funky-funky pula. Penuh nuansa biru. Beberapa bulan yang lalu, bersama ketuanya yang sekarang masih jadi ketua majelis rakyat yang mulia, aku pernah ikut safari partai ini ke daerah-daerah.
Ada pengalaman lucu. Di sebuah desa yang kami datangi, tiba-tiba aulanya sudah berubah jadi warna biru, sesuai warna partai. Dan untuk menyenangkan bapak-bapak dari Jakarta ini, sampai-sampai minuman yang disediakan panitia pun juga berwarna biru: Pepsi Blue coy!!! Pantesan aja dari tadi nyari air putih gak dapet-dapet!

Satu lagi. Waktu itu aku jadi kameramen, dan ditugaskan mengambil footage sebanyak-banyaknya tentang Bapak yang satu itu. Suatu waktu aku sudah merasa lelah sekali setelah menempuh sekian jam perjalanan darat ditambah dua jam di pesawat. Sesampainya di sebuah pesantren, ceritanya bapak ini ingin bersilaturrahmi dengan pimpinan pondok pesantren. Dan humasnya minta supaya gambar itu diambil --untuk membentuk citra religisus, mungkin. Karena terlalu lelah, aku hanya pura-pura mengoperasikan kamera, padahal tidak kunyalakan. Aku pun merengsek maju pura-pura ambil gambar. Lagi asyiknya berlagak, tiba-tiba bapak humas itu sudah berdiri di depanku.
"Mas, tutup lensanya belum dibuka tuh..." katanya menunjuk kameraku.
Aku kaget, tapi tetap berusaha tenang. Hehehe. Ketahuan bandelnya nih!
"Gak papa kok, Mas. Ini kamera otomatis..." kataku dengan sangat santai.

===
Ah, pemilu.... maunya pengen cepat-cepat selesai saja ini acara. Sudah terlalu lama rakyat dibohongi.
Menurutku ini bukan situasi yang baik. Seperti kata Mr. Kobayashi kepada Totto Chan: "Sungguh jahat mengkhianati dia yang mempercayai kita. Jangan membuat seseorang memohon tapi kemudian tak memberinya apa-apa. Dia takkan mempercayaimu lagi, dan sikapnya akan berkembang menjadi buruk!"

Lagipula bos di kantor sudah mewanti-wanti kami, --kecuali hal-hal lain diluar kehendak, seperti istri melahirkan dan sebagainya-- gak boleh ada yang ngambil cuti sampai pemilu selesai!!
"Siap, Pak!"
"Ayo kerja lagi!"
"Siap, Pak!"
"Hei, itu yang maen komputer, kerja sana! Ngeblog mulu!!"
"Siap, Pak!"

[...lagi asyik nulis ini, tiba2 disuruh pulang sama Bos ngambil baju. Katanya besok jam 4 pagi harus ikut rombongan Akbar Tanjung safari ke daerah! Mudah-mudahan masih bisa nolak. Salah sendiri, Chan. Siapa suruh jam segini masih di kantor! Plis deh, Bang. Jangan gue... Aku lelah banget! Lelah lahir batin.
Seseorang telah menghukumku begini rupa....
]

Sunday, March 14, 2004

No Title


bila kau ragu pada impianmu, percayakan padaku...
---kata Sheila on 7--

[......]

Saturday, March 13, 2004

Atas Nama Keinginan Berkuasa


Beberapa tahun lalu pasti tak pernah terbayangkan olehnya akan mengalami hal seperti ini. Dulu dia bertahta di kursi empuk, dielu-elukan sebagai orang paling berkuasa di negara ini sebelum sebuah kejatuhan yang menjungkalkan.

Pagi tadi dia dijadwalkan berkampanye di sebuah daerah di Bogor. Ini kampanye pertamanya dalam musim pemilu tahun ini. Tapi barangkali salah tempat, atau tadi pagi dia bangun tidur di sisi yang salah.
Datang bersama seorang artis cantik --kali ini tampil berkerudung-- yang hampir tiap sore muncul di sebuah acara komedi, kiyai itu urung menyampaikan janji-janjinya di depan massa partainya sendiri.

Warga Kampung Empang, yang kebanyakan keturunan habib, menolak acara itu berlangsung. Alasannya satu: tak boleh ada maksiat di tanah waqaf depan Mesjid Agung Kampung Empang itu. Kiranya massa partai itu datang dengan segepok speaker dan alunan musik yang mungkin mengganggu. Dan itu sudah cukup membuat warga terusik.

"Silakan sampaikan visi misinya, partai apa pun kami tidak melarang, tapi bukan dengan cara maksiat, musik dan sebagainya itu. Cukup dengan tablig akbar. Allah pasti mendengar jika disampaikan dengan cara yang benar!" kata seorang warga.

Maka yang tinggal hanya lapangan lengang dan kursi yang kosong melompong. Tamu satu per satu bubar, demikian pula anak-anak muda yang tadi berkerumun, mengecat rambutnya berwarna hijau.
Mantan orang terhormat itu pun tak jadi turun dari mobilnya. Memilih segera melesat ke Paledang, meninggalkan pembantu-pembantunya yang panik menahan malu.
Kemudian terdengar kabar dia akan berbicara di RRI. Dan ke sanalah kami mengejar, sekedar ingin tahu apa yang akan dikatakannya...

====
Siang tadi, dia marah-marah kepadaku karena sebuah pertanyaan.
"Gus, apa komentarnya mengenai penolakan warga itu?"
"Apa itu?"
"Penolakan warga Kampung Empang itu, Gus..."
"Mereka menolak musiknya, bukan partainya!"

Suaranya mulai meninggi.
...
"Menurut Gus, ada tidak unsur politik dibalik itu?" tanyaku.
"Sudah dibilang tidak ada penolakan! Kamu ini ribut saja!!!"
Katanya dengan suara yang semakin meninggi.

Aku menurunkan mike sambil tertawa dalam hati. Statemen itu sudah cukup. Lagipula tidak tiap hari aku digertak seperti itu. Rieke Dyah Pitaloka, artis cantik calon anggota legislatif itu, juga ikut bicara, "Pertanyaanmu itu salah!"
Apa pula ini, pikirku. Sejak kapan wartawan gak boleh bertanya?

Dengan dipapah pembantu-pembantunya, dia berjalan meninggalkan kami. Joshua --kameramenku- mengejar mengambil gambarnya yang sedang terbatuk-batuk. Istrinya ikut dibelakangnya dengan kursi roda.

Saat menggulung kabel mike, seorang berpakaian hitam menegurku, "Pertanyaanmu itu berbahaya. Kamu sudah bikin dia marah."
"Hanya menjalankan tugas, Pak..."
Aku tersenyum, mencoba menunjukkan hormat.

Tapi dalam hatiku miris. Dulu dia adalah sosok cendekiawan yang dihormati karena pemikirannya yang brilian, juga seorang kiyai yang arif. Lalu aku ingat pada seorang teman, yang dalam sebuah demo di gubernuran beberapa tahun lalu, menurunkan paksa fotonya yang terpasang di sebelah kanan Burung Garuda, dengan sangat marah! Waktu itu dia masih berstatus kepala negara. Dan teman itu hampir kehilangan kebebasannya dengan tuduhan subversif!

Hari ini, orang tua itu --mantan orang nomor satu Indonesia, kini sudah tampak semakin tertatih-tatih.
Maafkan, Gus, sebagai bocah yang terlahir dalam lingkungan NU fanatik, betapa tinggi hormatku kepadamu. Tapi saat ini di mataku aku melihatmu sebagai seorang yang telah begitu berubah... oleh keinginan berkuasa.

Wednesday, March 10, 2004

Sekolah Kehidupan


Waktu SD aku punya teman yang buku rapor-nya dijilid dua biji --dijahit dengan benang, saking seringnya tidak naik kelas. Di kelas 6 dia kemudian sering jadi bahan tertawaan teman-teman, karena dia yang paling tua di antara kami, tapi tak punya kekuatan apa-apa. Kadang-kadang dia disuruh-suruh apa saja oleh yang lebih muda, dan mau saja melakukannya...

Tapi meski tak sepandai teman-teman yang lain, guru-guru tetap sayang padanya dan berusaha mempertahankan agar dia bisa tetap sekolah. Salah satunya karena dia itu rajin luar biasa. Misalnya dia selalu punya inisiatif untuk membersihkan ruang kelas tanpa harus diperintah. Kalau ada dia, pekerjaan 5K menjadi tidak begitu berat.

Dan begitulah, dalam bergaul sehari-hari, ada saja teman yang sering iseng menambahi sebutan tak beradab di belakang namanya. Mungkin karena namanya pasaran sehingga teman-teman merasa perlu memberi gelar yang identik dengan dirinya, untuk membedakannya dengan yang lain. Panggilan-panggilan seperti... [ah, tak tega aku menulis itu di sini..]

Setamat SD, aku hampir tak pernah mendengar kabarnya lagi. Waktu dan dewasa memisahkan kami. Terakhir yang aku ingat, aku melihatnya terpekur di atas sajadah pada suatu malam tarawihan di mesjid kampung kami sekitar tujuh atau delapan tahun yang lalu. Aku lupa apa aku menegurnya saat itu, yang jelas setelah itu aku tak pernah bertemu dia lagi.

Beberapa hari yang lalu, aku tiba-tiba teringat dia lagi. Itu karena seseorang mengingatkanku kembali tentang sekolah yang lebih luas dan semesta: sekolah kehidupan.
Mencoba membandingkan diriku dengan teman itu, membuatku merenung lama. Dalam hidup, satu bab pelajaran sering butuh waktu lama untuk memahaminya. Malah sering tak bisa dipahami sama sekali.
Maka pikirku, andaikata Sekolah Kehidupan juga membagi-bagikan rapor, mungkin akulah murid yang punya buku rapor dengan jilid paling tebal!

Tuesday, March 09, 2004

Tentang Pekerjaan


Hari ini aku dapat tugas pagi meliput acara seremonial. RI-1, RI-2, dan pejabat-pejabat lainnya dijadwalkan akan membayar pajak. Sempat muncul pikiran tolol di kepalaku: Apa istimewanya? Bukankah membayar pajak memang sudah kewajiban setiap warga negara?

Jam sepuluhan RI-2 muncul disusul RI-1 beberapa menit setelahnya. Semuanya dengan permintaan hadirin dimohon berdiri. Ibu Mega tampak semakin subur dan sumringah. Beberapa kali dia terkikik geli saat Titik Puspa yang jadi MC menggodanya. Kata Titik, Mega sekarang semakin sadar karena jadwal pembayaran pajaknya lebih awal dibanding tahun lalu. Beberapa wartawan tertawa, dengan interpretasi nakal bahwa berarti dulu dia pernah gak sadar!

Hanya mengabadikan dia menyetor map berwarna hijau dan setelah itu foto-foto bersama. Lalu seperti biasa selalu ada pidato singkat RI-1, kali ini tentang keberhasilan penerimaan pajak. Gak ada statemen berbahaya sampai dia pulang.

Para wartawan juga pulang setelah mencicipi kue-kue kecil yang indah warnanya, kecuali beberapa orang yang tetap tinggal. Mudah-mudahan tidak sedang menunggu amplop...

=====

Masih di jam kerja, ngobrol di kantin, seorang temanku tiba-tiba bertanya tentang apa yang ingin aku capai dengan pekerjaanku saat ini. Pertanyaan berat. Karena aku hampir tidak pernah memimpikan sesuatu yang muluk-muluk.
Seingatku dulu mimpiku sederhana tentang pekerjaan.
Aku hanya ingin bekerja apa saja supaya bisa nabung buat jalan. Bisa beli kursi dokter gigi buat adikku. Bisa beli Karrimor Gore-tex. Bisa beli pisau lipat Victorinox.
Dan bisa rutin membelikan gula Tropicana Slim untuk Bapak, supaya diabetesnya gak kambuh lagi...

Monday, March 08, 2004

Kebakaran Tadi Malam


Semua tiba-tiba jadi manual. Gak ada mesin edit Newsflash, Automatic News Network, rundown, dan bluescreen. Kebakaran di Studio 4 tadi malam membuat ruangan di lantai 3 ini berubah begitu drastis. Rasanya semakin padat saja, dan ada police line terpasang dengan sangat mentereng.
Gak ada korban jiwa, tapi sekitar 12 orang dibawa ke Medistra karena pingsan. Beberapa benar-benar kehabisan oksigen karena berjuang melawan api, dan beberapa yang lainnya mungkin karena shock bakal dituntut pertanggungjawaban!

Tak terbayangkan. Sementara ada yang mempertaruhkan nyawa dalam kepungan asap di lantai 3, di lantai 1 Iwan Fals tetap tampil live seakan tak terjadi apa-apa. Penonton tetap berjoget. Kegembiraan tak boleh terhenti. Itulah industri TV. The show must go on!

Menjelang tengah malam, bersamaan bubarnya penonton, semua korban sudah dievakuasi. Aku hanya sempat membantu menggotong beberapa orang, dan tak terlalu hapal siapa-siapa saja mereka. Setahuku ada dua orang sekuriti, seorang petugas cleaning service, dan Abi --satu-satunya korban dari divisi news dan perempuan.

Di lobi, semua korban ditidurkan di lantai menunggu giliran untuk diangkut dengan ambulans. Berebutan selimut dan tabung oksigen. Teman-teman yang panik dan mencoba memaksa mereka tetap sadar. Tapi entah di mana petugas pemadam kebakaran yang beberapa saat sebelumnya aku lihat sekarat di atas.

Dari balik kaca, Yos dan Cikal, istri dan putri Iwan Fals, sesekali mengintip dan menulis pesan di hp-nya...

Saturday, March 06, 2004

Kebun Karet


"Mas, bisa duduk di sini. Supaya cahayanya bagus. Mike-nya biar saya yang pegang. Nanti liat saya, jangan liat kamera ya..."
Laki-laki tigapuluhan itu menurut mengikuti arahanku. Merapikan jaketnya sebentar.
...
"Sudah satu setengah tahun ini saya tidak ketemu mereka. Sejak jadi penambang mereka memang jarang pulang. Saya juga baru tahu kemarin, saya baru pulang orang bilang ada kecelakaan..."

Maka betapa berdosanya aku!
Laki-laki itu, menyebut namanya Aat. Dua adiknya tewas terjebak di Gunung Pongkor, dicap sebagai penambang liar tanpa izin, sampai kemarin itu belum bisa dievakuasi. Sebuah tragik yang dalam dan menyayat. Mata yang memerah basah. Kesedihan pada kehilangan.
Lalu kami datang, dua orang wartawan TV dari Jakarta, minta wawancara, dan masih sempat ribut soal cahaya dan angle kamera yang oke!
Big Damn!
Maafkan....

Pangradin, desa di kaki Gunung Gede. Sontak terkenal karena 11 dari 13 penambang liar yang tewas di Gunung Pongkor disebut-sebut berasal dari desa ini. Sekitar 80 kilometer ke arah barat Bogor, 4 jam dari Jakarta kalau lancar.
Melewati setapak berbatu-batu dan berlumpur. Bukit dan beberapa sungai kecil dengan jembatan kayu.
Dan kebun karet di sepanjang jalan!
Ah, alur torehan yang melukai batang, getah-getah putih yang merembes pelan-pelan, jatuh di tempurung. Besok dia akan jadi lateks jika tak jatuh ke tanah!

Mengobrak-abrik ingatanku.
Tiga tahun lalu pernah begitu akrab dengan aroma seperti ini. Daun-daun gugur. Tanah basah.
Dua bulan waktu yang cukup untuk membuatnya tak terlupakan.
Waktu itu kami bertujuh, menjelajah akademis. Maka kami tinggalkan rumah, dengan ransel masing-masing menuju ke sebuah desa di atas gunung. Ini pilihan. Mencoba untuk tidak jadi sayur.
Aku masih ingat dia menangis ketika sungai terakhir yang kami lewati menjadi akhir patok tiang listrik. Setelah itu tak ada lagi kabel melintang. Hanya ada pepohonan karet.
Bahkan segelas teh yang disuguhkan tuan rumah yang menampung kami tak juga meredakan resahnya.
Membayangkan bakal hidup di tengah belantara jauh dari peradaban bukan pekerjaan yang menyenangkan. Ketika melihat sumur satu-satunya, temanku bercanda, "Butuh dua kali menyanyikan Indonesia Raya baru timba ini bisa sampai ke dasar sumur."
Desa yang keras. Tapi aku sangat merindukannya...

Dan di jalan pulang dari Pangradin, aku memerlukan berhenti sejenak. Minta pada driver dan kameramenku untuk menungguku barang sebentar. Berdiri dan menghirup nafas dalam-dalam di pinggir kebun karet itu. Hawa sejuk mengaliri paru-paruku. Damai dan tenang, mengalahkan gejolak yang beberapa hari ini membuatku remuk.
Sungguh, ada yang sangat ingin aku hadirkan. Mungkin hanya sebuah ingatan pendek; tentang ketabahan menemani resah.