tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, February 15, 2004

Tak Selalu Harus Mati


Pagi ini ketika merogoh saku belakang celanaku --berharap menemukan beberapa lembar kupon makan yang tersia-sia--, tak sengaja aku menemukan lipatan kertas yang sudah lecek di dalamnya. Tiga lembar kronologis yang kemarin diberikan Nina, berisi penjelasan jam per jam tentang peristiwa tewasnya dua pendaki di Gunung Bawakaraeng seminggu yang lalu.
Dua dari empat orang pendaki itu tewas terjebak dalam badai yang parah.
Iccang dan Alawy, tempo hari aku sempat lihat gambarnya yang di-feeding Ano dari Makassar, tapi tak tergambar begitu jelas kecuali dua tubuh dengan raincoat yang mati membeku. Baru pas pulang kemarin aku baru tahu kalau salah seorang diantaranya, Iccang, ternyata adik temanku.

Tahun lalu, di bulan yang sama, seorang temanku juga mati di sana. Irvan --kami pernah sama-sama jadi mentor di Bengkel Film Pemula Popcorner-- jatuh ke jurang, dan baru ditemukan beberapa hari kemudian dalam keadaan yang mengenaskan...
Tahun sebelumnya lagi, dua mahasiswa STIK juga menemui ajal di bulan yang sama.

Bawakaraeng memang tak seberapa tinggi, tapi justru karena tak seberapanya itu maka dia jadi tampak sepele. Padahal sudah tak terhitung lagi mereka yang mati di sana. Masih di sekitaran pohon-pohon pinus sebelum memasuki Pos 1 pun, tonggak in memorian yang mengingatkan entah kepada siapa, sudah bisa ditemui.

====

Iccang konon sempat meninggalkan tulisan di secarik kertas berisi adagium yang dia kutip dari baliho Korpala --tempatnya menjadi anggota muda (KC) dan tak terlalu sering didatanginya itu.
Jika aku mati esok, entah di gunung, di tebing, atau di gua, jangan teteskan air matamu sedikit pun!
Sebuah kalimat yang mungkin menyiratkan ketidakpedulian, keegoisan, atau bahkan keputusasaan. Tak jauh beda dengan Soe Hok Gie yang bilang, "Orang-orang seperti kami memang tidak pantas mati di tempat tidur!"

Mengakrabkan diri dengan kematiankah mereka?
Entahlah, tapi menurutku, seseorang yang mencoba bermain-main dengan maut justru harus menunjukkan kekuatannya mempertahankan hidup. Membuatnya lebih menghargai setiap tarikan nafas dan detak jantung.

Karena mereka yang memilih hidup menantang bahaya --seperti kata Bang Ostaf--, tak selalu harus mati!