tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Tuesday, February 17, 2004

Negeri Para Aktor



[Aku sudah minta izin Mas Satrio untuk mem-posting email dari sebuah milis wartawan ini di sini. Sama sekali bukan untuk menebar kebencian, tapi hanya mencoba untuk menelusup celah lain. Mencari gambaran betapa negara kita telah dikuasai para "pelawak" dan aktor watak yang cemerlang. Peace!!!]

Satrio Arismunandar <..........@yahoo.com> wrote:
Sungguh sedih melihat banyak media TV "memakan mentah-mentah umpan" Akbar Tandjung. Akbar sudah tahu, ia akan bebas (kalau wartawan bisa dapat bocoran, orang-orang Akbar pasti juga sudah dapat bocoran!).
Oleh karena itu, Akbar menyiapkan show. Wartawan dibolehkan meliput di kediamannya (kalau akan
divonis bersalah, pasti ia akan menghindari media). Keluarganya ditampilkan untuk memberi kesan
manusiawi, dan mengharukan. Oh, tak lupa juga ia pakai peci (simbol religius), bahkan ia sudah siap melakukan sujud syukur begitu kabar pembebasan dibacakan!

Berikutnya, tinggal soal acting. Dia pura-pura tegang dan gelisah, dan membiarkan wartawan mengambil
gambarnya. Parahnya, hampir semua wartawan termakan propaganda ini dan tanpa sengaja meliput secara
simpatik terhadap Akbar.
Memanfaatkan istri dan anak-anak untuk mencari simpati, memang brilyan. Secara manusiawi, kesedihan
anak-anak dan istri terhadap nasib ayah/suami (Akbar) adalah wajar dan boleh saja diliput. Tapi itu harus
diimbangi dengan liputan pengimbang.
Misalnya, bagaimana nasib ribuan warga miskin, yang gagal memperoleh bantuan, karena bantuan dari dana nonbujeter Bulog sebesar Rp 40 milyar itu diselewengkan Akbar untuk Partai Golkar? (Ruskandar dan Winfried cuma alat). Lalu, mengapa pengadilan tidak menelusuri distribusi dana Rp 40 milyar itu, dan
menerima saja omongan Winfried bahwa uang sebanyak itu disimpan di rumahnya (berapa gudang?) dan bukan di bank???

Tapi media malah melakukan pendekatan elitis. Yang dimintai komentar atas vonis Akbar adalah bakal capres lain dari Konvensi Golkar. Bukan rakyat miskin yang jadi korban!

Akhir dari skenario ini sudah jelas. Untuk memuaskan rasa marah rakyat dan mahasiswa, Dadang dan Winfried akan dikorbankan, tapi Akbar akan melenggang bebas.

Bosen

===

--- tulus widjanarko <..........@yahoo.com> wrote:
Mas Satrio, anda tepat sekali. Tayangan langsung dari kediaman Akbar itu bisa memancing simpati siapapun, terutama jika melihat tingkah laku polos anak bungsu Akbar. Hm, saya saja juga gemes lihat anak itu. :-)

Eh, tapi malamnya Trans TV mewawancarai akbar secara eksklusif dalam acara Kupas Tuntas. Rasanya akting dia berlanjut di sini saat ditayangkan rekaman bentrokan antara aparat versus mahasiswa, dan jatuh korban --tentu saja-- dipihak mahasiswa. Termasuk seorang mahasiswi berjilbab yang kepalanya berlumuran darah.

Seorang teman juga menyayangkan pertanyaan yg diajukan kepada akbar: "Apa yg akan Anda lakukan jika jadi presiden?".
Tentu saja Akbar panjang lebar menjawab hal ini dengan antusias, dan ini bisa dikategorikan kampanye terselubung.

Salam,
tw

*) Eh mas Satrio, gimana ya caranya bisa ikutan nonton acara Iwan Fals yg disiarkan Trans dua pekan sekali itu? :-)

===

----dandhy dwi laksono" <......@yahoo.com> wrote:
...... malam harinya saya menonton Kupas Tuntas di Trans TV (yang
test masuknya seperti UMPTN).
Seperti diulas kawan Tulus Widjanarko, saya juga terkaget-kaget dengan gaya Rizal Mustari yang lebih
MENGHAKIMI mahasiswa yang terluka, daripada MENGHAKIMI Akbar Tanjung sendiri.

"Itu luka beneran atau cuma ditempel-tempel saja?" kata Rizal mencoba berseloroh mengomentari tempelan plester di jidat si mahasiswa.

Takut subyektif, saya SMS ke beberapa jurnalis dari tv-tv lain. Hasilnya sama; WAWANCARA ITU LEBIH MIRIP MEMBERIKAN PANGGUNG KEPADA KORUPTOR DARIPADA MEWAKILI KEKECEWAAN PUBLIK.

Mustari sendiri banyak tersenyum dan merendahkan tone suaranya saat berbicara dengan Akbar. Dari layar kaca, saya lebih melihatnya sebagai bentuk kepuasan seorang presenter yang bisa mendapat wawancara eksklusif orang yang sejak jam 9 pagi muncul di hampir semua layar televisi.

Mustari menyerang mahasiswa habis-habisan dengan tone yang sinis dan pertanyaan-pertanyaan yang malah memojokkan. Hal yang seharusnya justru DITUJUKAN kepada massa preman AMPG yang digembongi Yorris Raweyai yang bertepuk riuh saat mahasiswa digebuki polisi.

Sementara produser dan reporternya menyiapkan paket berita yang isinya sound byte Fahmi Idris (yang orang Golkar) dan Loeby Lukman (yang ahli hukum UI, tetapi dulunya saksi yang meringankan Akbar). Semoga produsernya masih ingat soal posisi Loeby Lukman ini.

Ada juga Bambang Widjoyanto, tetapi durasinya kalah dengan kemunculan Fahmi dan Loeby. Wah!

Kawan saya, Rosianna Silalahi bilang; "Tumben nih, Kupas Tuntas."
Saya jawab; "Gak tumben. Dari kemarin juga udah gitu."

Yang saya maksud kemarin adalah Kupas Tuntas edisi Ferry Santoro. Tayangan itu dahsyat. Setelah dengan istrinya, Ferry bisa dipertemukan dengan Sudi Silalahi melalui sambungan telepon. Trans TV juga membuat terobosan dengan membiarkan Ishak Daud berbicara langsung dengan Sudi Silalahi. Seolah ada pesan; bahwa berbicara, seberapa pun kerasnya, tetap lebih baik daripada berperang dan saling membunuh.

Saya kira itu pesan yang hendak disampaikan. Tetapi ternyata tidak. Begitu pembicaraan antara Ishak dan
Sudi sudah mulai memanas, sang produser memutuskan sambungan telepon Ishak Daud. (tentu saja ada dalih tentang durasi)

Tapi sebelum itu, Mustari terlihat bersemangat mencecar Ishak Daud sampai terlihat air mukanya yang
menegang. Sampai di sini, dia berhasil mewakili kegeraman publik terhadap pentolan GAM yang sudah
mulai kehilangan kemampuan diplomasi itu.

Tetapi kepada Sudi Silalahi, saya menemukan tone dan air muka yang sama yang juga diberikan kepada Akbar Tanjung. Tone yang tidak mewakili kegeraman publik kepada pemerintah yang dengan mudah membebaskan William Nessen, tapi gagal berkompromi demi wartawan dari bangsanya sendiri; Ersa Siregar!

Dan sekarang, nasib Ferry Santoro tak jelas, karena TNI terlalu sering menunggangi PMI dan membuat GAM tidak percaya. (saya memiliki bukti foto mobil ambulan milik PMI digunakan sebagai kuda troya, kendaraan tempur yang dilapisi pelat baja dan diisi personil
TNI).

Mustari atau produser yang mem-feeding-nya, jelas tak membaca versi lain kasus "penyanderaan" relawan PMI, yang oleh TNI, diklaim dilakukan GAM.
Sehingga, ketika sedang wawancara, Sudi Silalahi ditempatkan dalam posisi yang merepresentasikan
harapan publik bagi proses bebasnya Ferry, bukan bagian dari gagalnya upaya pembebasan itu sendiri.

Jadilah tone pertanyaan kepada Sudi adalah tone pertanyaan yang juga saya temukan dalam wawancara
dengan Akbar Tanjung.

peace,
dandhy

========

Tabeq!!!!


[...makasih, Adek, untuk mengingatkan, bahwa kita tidak diciptakan untuk membahagiakan semua orang...]