tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, February 16, 2004

...Nanti Jadi Sayur...


Sehat, punya pekerjaan, punya cukup makanan dan pakaian, punya teman-teman, punya tempat untuk pulang dan berteduh, punya kebebasan tapi masih mengeluh.
Sementara di luar sana, banyak yang sedang sakit, kelaparan dan kedinginan, menganggur, sendirian, homeless, dan terpenjara...
Begitu susahkah untuk merasa bersyukur..?

--Dien, 04 Februari 2004--

Tiba-tiba aku ingat pernah membaca kalimat-kalimat itu di blognya Dien, dan sekarang aku ingin sekali mengutipnya lagi. Pikirku mungkin bisa untuk sekadar menguatkan kami, yang teramat lelah di pagi ini.

Baru dua malam ini aku ditugaskan jadi PA pagi. Siklus yang biasa-biasa saja sebenarnya, tapi ada yang aneh belakangan ini. Dua producer assistant Reportase Pagi, Mas Didit dan Mas Agus, meski selalu berusaha tertawa tapi kelihatan jelas kalau mereka menyimpan ketidakpuasan di sorot matanya. Bisa jadi perasaan tersia-sia dan frustasi!

Kelihatannya situasinya mulai rada parah. Indikatornya adalah mereka berdua mulai mengeluh. Padahal selama ini aku justru banyak belajar dari mereka perihal bagaimana memelihara semangat.

Entahlah, pagi ini aku juga teramat lelah. Tapi aku gak boleh mengeluh, nanti jadi sayur...

===
[...ketiduran di ruang edit. Udah ambruk aja selepas shalat Subuh tadi. Pas bangun udah rame. Cuci muka dikit, nge-blog, lipat sleeping bag pinjaman dari Daus dan mengembalikannya ke tempat yang layak. Ganti sandal dengan sepatu ---gak baik kalo kepergok bos di lantai bawah.
Mesti cepet-cepet pulang, ini kaus kaki kayaknya udah waktunya buat di cuci!
]