tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, February 01, 2004

Keinginan Sederhana


Baru datang lagi, sehabis berkunjung ke tempat seorang kawan. Menelusuri ngeri yang sia-sia. Barangkali masih ada sebercak ingatan yang menempel di dinding, membentuk bayang aura, seperti bekas banjir.
Lalu aku diingatkan oleh sebaris kata-kata di dekat pintu dapurnya, betapa selama ini aku telah lupa pada hal-hal yang kecil. Yang sederhana.
Pantas selama ini agak seret kaki melangkah. Ternyata terlalu tinggi mimpi mengawang.

Di film Basil, bapaknya Basil bilang, "Mimpimu itu kuda liar, Nak... yang akan membantingmu bila tak kuat mengekangnya!"
Dan tiba-tiba seperti kudengar bisik serupa, di telingaku, "Mimpimu itu kuda liar, Nak... yang akan membantingmu sekuat apapun kau mengekangnya!"
...
Teringat pada seorang tua penjual sapu ijuk, yang kutemui di suatu malam sehabis menemui dosen untuk syarat yudisium skripsiku. Sebentar lagi menjadi sarjana, dan tiba-tiba merasa sia-sia melihatnya terperangkap di dingin malam, rebah di trotoar jalanan. Aku lupa menulis apa persisnya di kata pengantar, tapi seingatku aku menulis tentang dia, tentang usia tua yang tak bahagia, tentang siapa yang butuh sapu ijuk di zaman serba plastik ini, tentang tak ada faedah skripsi bagi orang-orang malang seperti Pak Tua itu.

Dan beberapa tahun kemudian, seseorang menertawai tulisan itu.
"Kamu hanya seorang Ochan..." katanya.

Padahal aku pikir itu keinginan yang sederhana.

===
[ps. Hari ini Idul Adha, tapi aku tetap kerja. Ke Bandara, hari pertama pemberlakuan Visa on Arrival bagi orang asing. Terus ke Pantai Bende, "menonton" orang-orang berlibur. Ke Dufan juga; Ah, akhirnya aku bisa naik Kora-Kora, Mak! :D]