tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Wednesday, February 04, 2004

Cara Bunda Mengajari Kami #1


Yang paling aku ingat adalah sinar warna kuning dari lampu 45 watt yang menerangi ruang tengah rumah kami.
Malam itu, aku dan Uce, adikku, duduk melantai setelah makan malam selesai. Di tengah-tengah kami ada Bunda, seperti malam-malam sebelumnya: memeriksa tas sekolah anak-anaknya.
Adalah kebiasaan Bunda untuk melakukan hal itu, sekedar memastikan anak-anaknya membawa pulang pelajaran dari sekolahnya, dan bukan hanya lumpur yang melekat di baju seragam.
Kalau tidak salah ingat, saat itu aku kelas 4 SD, dan Uce masih di kelas 2.

Ketika memeriksa tas sekolah Uce, Bunda menemukan sebatang pensil yang masih baru. Merasa tidak pernah membelikan pensil seperti itu, Uce pun diinterogasi oleh Bunda.
"Ini punya siapa?" tanya Bunda.
Uce mengaku kalau menemukan pensil itu di bawah bangkunya. Bunda marah. Dan setelah beliau memperingatkan kami semua untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan hak kami, malam itu juga Bunda menyuruh Uce mengembalikan benda itu ke tempat dia menemukannya.
Sekolah kami memang tidak terlalu jauh dari rumah, tapi kalau harus berkeliaran malam-malam demi sebatang pensil, sepertinya bukan pekerjaan yang menyenangkan. Tapi Bunda tak mau tahu, baginya sebuah ketidakjujuran tak pantas dibiarkan menunggu pagi.

Meski samar-samar, tapi kejadian itu masih terekam dengan baik di kepalaku, karena aku yang menemani Uce ke sekolah malam-malam dan meletakkan kembali pensil itu di bawah bangkunya.
Entah di jalan menuju atau pulang, seingatku Uce menangis malam itu....

Terlalu tegas mungkin, tapi begitulah Bunda mendidik kami.
Dan sekarang, belasan tahun kemudian, setiap kali tergoda untuk melakukan ketidakjujuran, aku selalu teringat pada kejadian malam itu; pada cara Bunda mengajari kami tentang kejujuran.