tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, February 28, 2004

-----

Selamat Jalan.
Selamat Pagi.
Selamat Menjawab Persoalan Hidup.

Tuesday, February 24, 2004

Kelong Pakkuru Sumange

dan kutemukan diriku berada di titik nadir;
harus kurelakan apa yang telah kubangun menjadi musnah,
seperti istana pasirku tempo dulu...

ini semacam kehilangan yang keterlaluan
maka betapa pun aku lelaki,
atas semua peristiwa yang terjadi, aku punya hak untuk kecewa...

Wednesday, February 18, 2004

Stress!!

Kali ini aku takut sekali gagal. Selama ini aku belum pernah mengecewakan kantor. Aku belum pernah menolak tugas, dan seingatku hampir semuanya bisa aku selesaikan.
Tapi entah kenapa kali ini aku pesimis bakal berhasil.
Besok pagi aku ditugasin lagi ke Makassar, dengan target yang hampir mustahil. Menemui M. Yusuf dan membuatnya bersedia diwawancarai. Pak Yusuf menjadi penting karena tinggal dia satu-satunya saksi sejarah Supersemar. Selama ini dia tutup mulut tentang hal itu, dan membiarkan keabsahan Supersemar yang menaikkan Soeharto sebagai presiden itu menjadi tanda tanya besar.

Aku sudah hubungi teman-teman wartawan di Makassar, dan semuanya bilang hitungan matematisnya mendekati nol!

Tuesday, February 17, 2004

Negeri Para Aktor



[Aku sudah minta izin Mas Satrio untuk mem-posting email dari sebuah milis wartawan ini di sini. Sama sekali bukan untuk menebar kebencian, tapi hanya mencoba untuk menelusup celah lain. Mencari gambaran betapa negara kita telah dikuasai para "pelawak" dan aktor watak yang cemerlang. Peace!!!]

Satrio Arismunandar <..........@yahoo.com> wrote:
Sungguh sedih melihat banyak media TV "memakan mentah-mentah umpan" Akbar Tandjung. Akbar sudah tahu, ia akan bebas (kalau wartawan bisa dapat bocoran, orang-orang Akbar pasti juga sudah dapat bocoran!).
Oleh karena itu, Akbar menyiapkan show. Wartawan dibolehkan meliput di kediamannya (kalau akan
divonis bersalah, pasti ia akan menghindari media). Keluarganya ditampilkan untuk memberi kesan
manusiawi, dan mengharukan. Oh, tak lupa juga ia pakai peci (simbol religius), bahkan ia sudah siap melakukan sujud syukur begitu kabar pembebasan dibacakan!

Berikutnya, tinggal soal acting. Dia pura-pura tegang dan gelisah, dan membiarkan wartawan mengambil
gambarnya. Parahnya, hampir semua wartawan termakan propaganda ini dan tanpa sengaja meliput secara
simpatik terhadap Akbar.
Memanfaatkan istri dan anak-anak untuk mencari simpati, memang brilyan. Secara manusiawi, kesedihan
anak-anak dan istri terhadap nasib ayah/suami (Akbar) adalah wajar dan boleh saja diliput. Tapi itu harus
diimbangi dengan liputan pengimbang.
Misalnya, bagaimana nasib ribuan warga miskin, yang gagal memperoleh bantuan, karena bantuan dari dana nonbujeter Bulog sebesar Rp 40 milyar itu diselewengkan Akbar untuk Partai Golkar? (Ruskandar dan Winfried cuma alat). Lalu, mengapa pengadilan tidak menelusuri distribusi dana Rp 40 milyar itu, dan
menerima saja omongan Winfried bahwa uang sebanyak itu disimpan di rumahnya (berapa gudang?) dan bukan di bank???

Tapi media malah melakukan pendekatan elitis. Yang dimintai komentar atas vonis Akbar adalah bakal capres lain dari Konvensi Golkar. Bukan rakyat miskin yang jadi korban!

Akhir dari skenario ini sudah jelas. Untuk memuaskan rasa marah rakyat dan mahasiswa, Dadang dan Winfried akan dikorbankan, tapi Akbar akan melenggang bebas.

Bosen

===

--- tulus widjanarko <..........@yahoo.com> wrote:
Mas Satrio, anda tepat sekali. Tayangan langsung dari kediaman Akbar itu bisa memancing simpati siapapun, terutama jika melihat tingkah laku polos anak bungsu Akbar. Hm, saya saja juga gemes lihat anak itu. :-)

Eh, tapi malamnya Trans TV mewawancarai akbar secara eksklusif dalam acara Kupas Tuntas. Rasanya akting dia berlanjut di sini saat ditayangkan rekaman bentrokan antara aparat versus mahasiswa, dan jatuh korban --tentu saja-- dipihak mahasiswa. Termasuk seorang mahasiswi berjilbab yang kepalanya berlumuran darah.

Seorang teman juga menyayangkan pertanyaan yg diajukan kepada akbar: "Apa yg akan Anda lakukan jika jadi presiden?".
Tentu saja Akbar panjang lebar menjawab hal ini dengan antusias, dan ini bisa dikategorikan kampanye terselubung.

Salam,
tw

*) Eh mas Satrio, gimana ya caranya bisa ikutan nonton acara Iwan Fals yg disiarkan Trans dua pekan sekali itu? :-)

===

----dandhy dwi laksono" <......@yahoo.com> wrote:
...... malam harinya saya menonton Kupas Tuntas di Trans TV (yang
test masuknya seperti UMPTN).
Seperti diulas kawan Tulus Widjanarko, saya juga terkaget-kaget dengan gaya Rizal Mustari yang lebih
MENGHAKIMI mahasiswa yang terluka, daripada MENGHAKIMI Akbar Tanjung sendiri.

"Itu luka beneran atau cuma ditempel-tempel saja?" kata Rizal mencoba berseloroh mengomentari tempelan plester di jidat si mahasiswa.

Takut subyektif, saya SMS ke beberapa jurnalis dari tv-tv lain. Hasilnya sama; WAWANCARA ITU LEBIH MIRIP MEMBERIKAN PANGGUNG KEPADA KORUPTOR DARIPADA MEWAKILI KEKECEWAAN PUBLIK.

Mustari sendiri banyak tersenyum dan merendahkan tone suaranya saat berbicara dengan Akbar. Dari layar kaca, saya lebih melihatnya sebagai bentuk kepuasan seorang presenter yang bisa mendapat wawancara eksklusif orang yang sejak jam 9 pagi muncul di hampir semua layar televisi.

Mustari menyerang mahasiswa habis-habisan dengan tone yang sinis dan pertanyaan-pertanyaan yang malah memojokkan. Hal yang seharusnya justru DITUJUKAN kepada massa preman AMPG yang digembongi Yorris Raweyai yang bertepuk riuh saat mahasiswa digebuki polisi.

Sementara produser dan reporternya menyiapkan paket berita yang isinya sound byte Fahmi Idris (yang orang Golkar) dan Loeby Lukman (yang ahli hukum UI, tetapi dulunya saksi yang meringankan Akbar). Semoga produsernya masih ingat soal posisi Loeby Lukman ini.

Ada juga Bambang Widjoyanto, tetapi durasinya kalah dengan kemunculan Fahmi dan Loeby. Wah!

Kawan saya, Rosianna Silalahi bilang; "Tumben nih, Kupas Tuntas."
Saya jawab; "Gak tumben. Dari kemarin juga udah gitu."

Yang saya maksud kemarin adalah Kupas Tuntas edisi Ferry Santoro. Tayangan itu dahsyat. Setelah dengan istrinya, Ferry bisa dipertemukan dengan Sudi Silalahi melalui sambungan telepon. Trans TV juga membuat terobosan dengan membiarkan Ishak Daud berbicara langsung dengan Sudi Silalahi. Seolah ada pesan; bahwa berbicara, seberapa pun kerasnya, tetap lebih baik daripada berperang dan saling membunuh.

Saya kira itu pesan yang hendak disampaikan. Tetapi ternyata tidak. Begitu pembicaraan antara Ishak dan
Sudi sudah mulai memanas, sang produser memutuskan sambungan telepon Ishak Daud. (tentu saja ada dalih tentang durasi)

Tapi sebelum itu, Mustari terlihat bersemangat mencecar Ishak Daud sampai terlihat air mukanya yang
menegang. Sampai di sini, dia berhasil mewakili kegeraman publik terhadap pentolan GAM yang sudah
mulai kehilangan kemampuan diplomasi itu.

Tetapi kepada Sudi Silalahi, saya menemukan tone dan air muka yang sama yang juga diberikan kepada Akbar Tanjung. Tone yang tidak mewakili kegeraman publik kepada pemerintah yang dengan mudah membebaskan William Nessen, tapi gagal berkompromi demi wartawan dari bangsanya sendiri; Ersa Siregar!

Dan sekarang, nasib Ferry Santoro tak jelas, karena TNI terlalu sering menunggangi PMI dan membuat GAM tidak percaya. (saya memiliki bukti foto mobil ambulan milik PMI digunakan sebagai kuda troya, kendaraan tempur yang dilapisi pelat baja dan diisi personil
TNI).

Mustari atau produser yang mem-feeding-nya, jelas tak membaca versi lain kasus "penyanderaan" relawan PMI, yang oleh TNI, diklaim dilakukan GAM.
Sehingga, ketika sedang wawancara, Sudi Silalahi ditempatkan dalam posisi yang merepresentasikan
harapan publik bagi proses bebasnya Ferry, bukan bagian dari gagalnya upaya pembebasan itu sendiri.

Jadilah tone pertanyaan kepada Sudi adalah tone pertanyaan yang juga saya temukan dalam wawancara
dengan Akbar Tanjung.

peace,
dandhy

========

Tabeq!!!!


[...makasih, Adek, untuk mengingatkan, bahwa kita tidak diciptakan untuk membahagiakan semua orang...]

Monday, February 16, 2004

...Nanti Jadi Sayur...


Sehat, punya pekerjaan, punya cukup makanan dan pakaian, punya teman-teman, punya tempat untuk pulang dan berteduh, punya kebebasan tapi masih mengeluh.
Sementara di luar sana, banyak yang sedang sakit, kelaparan dan kedinginan, menganggur, sendirian, homeless, dan terpenjara...
Begitu susahkah untuk merasa bersyukur..?

--Dien, 04 Februari 2004--

Tiba-tiba aku ingat pernah membaca kalimat-kalimat itu di blognya Dien, dan sekarang aku ingin sekali mengutipnya lagi. Pikirku mungkin bisa untuk sekadar menguatkan kami, yang teramat lelah di pagi ini.

Baru dua malam ini aku ditugaskan jadi PA pagi. Siklus yang biasa-biasa saja sebenarnya, tapi ada yang aneh belakangan ini. Dua producer assistant Reportase Pagi, Mas Didit dan Mas Agus, meski selalu berusaha tertawa tapi kelihatan jelas kalau mereka menyimpan ketidakpuasan di sorot matanya. Bisa jadi perasaan tersia-sia dan frustasi!

Kelihatannya situasinya mulai rada parah. Indikatornya adalah mereka berdua mulai mengeluh. Padahal selama ini aku justru banyak belajar dari mereka perihal bagaimana memelihara semangat.

Entahlah, pagi ini aku juga teramat lelah. Tapi aku gak boleh mengeluh, nanti jadi sayur...

===
[...ketiduran di ruang edit. Udah ambruk aja selepas shalat Subuh tadi. Pas bangun udah rame. Cuci muka dikit, nge-blog, lipat sleeping bag pinjaman dari Daus dan mengembalikannya ke tempat yang layak. Ganti sandal dengan sepatu ---gak baik kalo kepergok bos di lantai bawah.
Mesti cepet-cepet pulang, ini kaus kaki kayaknya udah waktunya buat di cuci!
]

Sunday, February 15, 2004

Tak Selalu Harus Mati


Pagi ini ketika merogoh saku belakang celanaku --berharap menemukan beberapa lembar kupon makan yang tersia-sia--, tak sengaja aku menemukan lipatan kertas yang sudah lecek di dalamnya. Tiga lembar kronologis yang kemarin diberikan Nina, berisi penjelasan jam per jam tentang peristiwa tewasnya dua pendaki di Gunung Bawakaraeng seminggu yang lalu.
Dua dari empat orang pendaki itu tewas terjebak dalam badai yang parah.
Iccang dan Alawy, tempo hari aku sempat lihat gambarnya yang di-feeding Ano dari Makassar, tapi tak tergambar begitu jelas kecuali dua tubuh dengan raincoat yang mati membeku. Baru pas pulang kemarin aku baru tahu kalau salah seorang diantaranya, Iccang, ternyata adik temanku.

Tahun lalu, di bulan yang sama, seorang temanku juga mati di sana. Irvan --kami pernah sama-sama jadi mentor di Bengkel Film Pemula Popcorner-- jatuh ke jurang, dan baru ditemukan beberapa hari kemudian dalam keadaan yang mengenaskan...
Tahun sebelumnya lagi, dua mahasiswa STIK juga menemui ajal di bulan yang sama.

Bawakaraeng memang tak seberapa tinggi, tapi justru karena tak seberapanya itu maka dia jadi tampak sepele. Padahal sudah tak terhitung lagi mereka yang mati di sana. Masih di sekitaran pohon-pohon pinus sebelum memasuki Pos 1 pun, tonggak in memorian yang mengingatkan entah kepada siapa, sudah bisa ditemui.

====

Iccang konon sempat meninggalkan tulisan di secarik kertas berisi adagium yang dia kutip dari baliho Korpala --tempatnya menjadi anggota muda (KC) dan tak terlalu sering didatanginya itu.
Jika aku mati esok, entah di gunung, di tebing, atau di gua, jangan teteskan air matamu sedikit pun!
Sebuah kalimat yang mungkin menyiratkan ketidakpedulian, keegoisan, atau bahkan keputusasaan. Tak jauh beda dengan Soe Hok Gie yang bilang, "Orang-orang seperti kami memang tidak pantas mati di tempat tidur!"

Mengakrabkan diri dengan kematiankah mereka?
Entahlah, tapi menurutku, seseorang yang mencoba bermain-main dengan maut justru harus menunjukkan kekuatannya mempertahankan hidup. Membuatnya lebih menghargai setiap tarikan nafas dan detak jantung.

Karena mereka yang memilih hidup menantang bahaya --seperti kata Bang Ostaf--, tak selalu harus mati!

Thursday, February 12, 2004

Blacker than Black!


Dari bandara langsung ke rumah seorang pejabat, hari ini dia divonis bebas. Dagelan.
Di sana, wartawan udah banyak berjubel, antrian buat tapping atau live. Ratusan orang berebut ingin memberi selamat. Selamat atas kemenangan melangkahi hukum.
Betul-betul tak adil. Jutaan orang miskin dirampas haknya. Empat puluh miliar rupiah tak pernah sampai ke tangan mereka. Ditilep tikus!
Betul-betul sesak!

Ingat itu orang-orang yang mengais sampah. Menarik gerobak menjadikan diri seperti ternak. Tidur di bawah jembatan. Kedinginan diterpa hujan. Pelacur menjual diri. Banci-banci yang telanjang. Pembaca puisi di atas bis kota. Maling ayam dan jemuran. Mereka yang menggadaikan kemanusiaannya...
Ingat itu, Bung!

Maka bagiku benteng terakhir hanya do'a, karena tak bisa berharap banyak lagi pada Bapak-bapak itu;
"Allah, mereka yang tidak amanah jangan kau biarkan menjadi pemimpin kami..."

Tuesday, February 10, 2004

.....
Hari ini lumayan melelahkan. Sekian liputan tak jelas, dan berakhir di pavilyun Kartika RSPAD Gatsoe: Tommy Soeharto masuk rumah sakit karena depresi dan beberapa penyakit lainnya! Gak bisa masuk, hanya dapat wawancara sama Elsa Syarif saja. MbakTutut dan Mamiek diam-diam pulang lewat pintu belakang....
Untung malamnya Ardi dapat gambar Pak Harto datang menjenguk Tommy. Lumayan buat menutupi "kegagalan" kami sore tadi!
...

Besok pagi-pagi sekali sudah harus ke bandara. Seperti biasa, pekerjaan memberiku kesempatan untuk bergeser beberapa derajat lagi di lintang bumi. Ke sebuah kota di timur, menemani Mas Produser bertemu adik-adik mahasiswa untuk sebuah rencana program debat calon presiden dari kampus ke kampus, sekalian membawa surat penting permintaan wawancara dengan seorang pelaku sejarah di kota itu.
Moga-moga semuanya sukses. Amin.

[..."tepian langit"-ku masih jauh..., itupun kalau aku membuatnya ada!]

Sunday, February 08, 2004

Tanggal Merah


Bangun dengan kepala agak berat. Sempet keder juga, karena kemarin siang habis maen ke kandang ayam; liputan flu burung, dan ada acara makan-makan ayam segala di rumah seorang warga. Kemarin itu ceritanya kita mau nunjukin ke penonton kalo virus flu burung itu bisa mati dengan penanganan tertentu, dan intinya masyarakat tak perlu terlalu khawatir. Tetap makan ayam aja seperti biasa.
Tapi pas malamnya tiba-tiba bersin-bersin terus agak demam, jadinya khawatir juga. Jangan-jangan? Whoa!!!!

Tapi tetap berusaha menghibur diri dengan, "Ah, kan memang kehujanan waktu pulang dari kantor...".
Tadi malam di tengah jalan antara kantor dan kosan, hujan tiba-tiba turun. Padahal udah pede banget pengen pulang.
Cuaca memang seperti wanita: susah diprediksi --dan kadang-kadang gak bisa dipercaya...
Begitulah, mau balik ke kantor lagi sudah terlanjur jalan, diterusin juga masih lumayan jauh. Mana nggak ada tempat berteduh lagi! Ya sudah, jalan terus saja. Jadilah sampai kosan berbasah-basah, seperti bintang film India. Untung tadi gak ada pohon. Coba kalo ada, pasti nari-nari dulu... :-)

Dan di sepagi ini sudah di kantor lagi, dengan niat penuh untuk mencari nafkah. Di proyeksi tadi malam aku lihat liputanku ke Tangerang. Ada buruh pabrik Reebok yang membobol gudang karena di-PHK. Tragic life. Produk kenyataan hidup.
Tapi tadi aku liat proyeksi udah berubah, aku di-stand by-kan untuk liputan mendadak. Tau gini mending datangnya agak siangan saja. Karena udah terlanjur di kantor, ngeblog dulu barang sepeminuman teh. Kebeneran hari Minggu, pemakai komputer lagi sepi. Asyik nih, kapan lagi bisa ngeblog sambil setel Pearl Jam kenceng-kenceng, denger teriakan Bang Eddie Vedder yang khas!!
...
She lies and says she's in love with him, can't find a better man...
She dreams in color, she dreams in red, can't find a better man...
She lies and says she still loves him, can't find a better man...
She dreams in color, she dreams in red, can't find a better man...
Can't find a better man...

...

Anyway, selamat berleha-leha untuk semuanya. Nikmati hari liburmu, Kawan.
Aku sendiri sudah lama lupa kalau hari Minggu itu sebenarnya tanggal merah di kalender.

Hidup Pearl Jam! Demikian pula Siti Nurhaliza!!!

Wednesday, February 04, 2004

Cara Bunda Mengajari Kami #1


Yang paling aku ingat adalah sinar warna kuning dari lampu 45 watt yang menerangi ruang tengah rumah kami.
Malam itu, aku dan Uce, adikku, duduk melantai setelah makan malam selesai. Di tengah-tengah kami ada Bunda, seperti malam-malam sebelumnya: memeriksa tas sekolah anak-anaknya.
Adalah kebiasaan Bunda untuk melakukan hal itu, sekedar memastikan anak-anaknya membawa pulang pelajaran dari sekolahnya, dan bukan hanya lumpur yang melekat di baju seragam.
Kalau tidak salah ingat, saat itu aku kelas 4 SD, dan Uce masih di kelas 2.

Ketika memeriksa tas sekolah Uce, Bunda menemukan sebatang pensil yang masih baru. Merasa tidak pernah membelikan pensil seperti itu, Uce pun diinterogasi oleh Bunda.
"Ini punya siapa?" tanya Bunda.
Uce mengaku kalau menemukan pensil itu di bawah bangkunya. Bunda marah. Dan setelah beliau memperingatkan kami semua untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan hak kami, malam itu juga Bunda menyuruh Uce mengembalikan benda itu ke tempat dia menemukannya.
Sekolah kami memang tidak terlalu jauh dari rumah, tapi kalau harus berkeliaran malam-malam demi sebatang pensil, sepertinya bukan pekerjaan yang menyenangkan. Tapi Bunda tak mau tahu, baginya sebuah ketidakjujuran tak pantas dibiarkan menunggu pagi.

Meski samar-samar, tapi kejadian itu masih terekam dengan baik di kepalaku, karena aku yang menemani Uce ke sekolah malam-malam dan meletakkan kembali pensil itu di bawah bangkunya.
Entah di jalan menuju atau pulang, seingatku Uce menangis malam itu....

Terlalu tegas mungkin, tapi begitulah Bunda mendidik kami.
Dan sekarang, belasan tahun kemudian, setiap kali tergoda untuk melakukan ketidakjujuran, aku selalu teringat pada kejadian malam itu; pada cara Bunda mengajari kami tentang kejujuran.

Sunday, February 01, 2004

Keinginan Sederhana


Baru datang lagi, sehabis berkunjung ke tempat seorang kawan. Menelusuri ngeri yang sia-sia. Barangkali masih ada sebercak ingatan yang menempel di dinding, membentuk bayang aura, seperti bekas banjir.
Lalu aku diingatkan oleh sebaris kata-kata di dekat pintu dapurnya, betapa selama ini aku telah lupa pada hal-hal yang kecil. Yang sederhana.
Pantas selama ini agak seret kaki melangkah. Ternyata terlalu tinggi mimpi mengawang.

Di film Basil, bapaknya Basil bilang, "Mimpimu itu kuda liar, Nak... yang akan membantingmu bila tak kuat mengekangnya!"
Dan tiba-tiba seperti kudengar bisik serupa, di telingaku, "Mimpimu itu kuda liar, Nak... yang akan membantingmu sekuat apapun kau mengekangnya!"
...
Teringat pada seorang tua penjual sapu ijuk, yang kutemui di suatu malam sehabis menemui dosen untuk syarat yudisium skripsiku. Sebentar lagi menjadi sarjana, dan tiba-tiba merasa sia-sia melihatnya terperangkap di dingin malam, rebah di trotoar jalanan. Aku lupa menulis apa persisnya di kata pengantar, tapi seingatku aku menulis tentang dia, tentang usia tua yang tak bahagia, tentang siapa yang butuh sapu ijuk di zaman serba plastik ini, tentang tak ada faedah skripsi bagi orang-orang malang seperti Pak Tua itu.

Dan beberapa tahun kemudian, seseorang menertawai tulisan itu.
"Kamu hanya seorang Ochan..." katanya.

Padahal aku pikir itu keinginan yang sederhana.

===
[ps. Hari ini Idul Adha, tapi aku tetap kerja. Ke Bandara, hari pertama pemberlakuan Visa on Arrival bagi orang asing. Terus ke Pantai Bende, "menonton" orang-orang berlibur. Ke Dufan juga; Ah, akhirnya aku bisa naik Kora-Kora, Mak! :D]