tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, January 12, 2004

Tempat Bernama Ujung Harapan


Keluar pintu tol Bekasi Barat, masih harus melewati jalan sempit yang penuh angkot. Dekat pabrik Aqua baru belok kanan. Kata orang Pertamina yang memandu kami lewat HP, dari sana sudah dekat. Tinggal cari arah ke Seroja saja, semua orang di situ pasti tahu, katanya.
Ternyata tempat yang dituju itu jauh banget! Bukan sepelemparan tombak seperti dugaanku. Namanya saja Kampung Ujung Harapan, tapi masih ke sananya lagi. Nah, di situlah lokasi pengeboran minyak itu berada.

Sampai di sana, hawa-hawa keras sudah terasa. Udaranya panas dan sangat gersang. Anehnya, lumpur ada di mana-mana.
It's time to drill!, kata seseorang. Aku jadi ingat sama Inul. Seorang yang lain lagi menawariku untuk naik ke atas rig. Tapi ketika mencari-cari helm sebagai syarat keselamatan, ternyata aku sudah tidak kebagian lagi. Semuanya sudah habis dipakai wartawan lain yang sudah naik lebih dulu. Untunglah, seorang reporter wanita masih mikir-mikir antara naik dan tidak. Maka untuk membantunya menetapkan pilihan, helm-nya aku pinjam dulu. Hehehehe.
...

Siang itu kami memenuhi undangan Pertamina untuk pengambilan stockshot pengeboran minyak di Tambang F Bekasi, sekaligus menunjukkan lokasi pengeboran yang baru ditemukan. Ada duapuluhan wartawan yang ikut. Kecuali tiga kendaraan operasional TV masing-masing, selebihnya memakai bis besar yang didalamnya disuguhi Hoka-Hoka Bento. Dari kantor aku berangkat berdua sama driver, gak ada tandem. Kata Mas Korlip, kita tak punya footage pengeboran minyak sehingga gambar ini perlu diselamatkan. Maka berangkatlah aku di pagi-pagi buta, menurutku...
Belakangan ini, Korlip memang sering memberiku tugas lebih pagi dari rata-rata reporter atau campers lain. Kalo biasanya teman-teman lain datang jam delapan atau jam sembilan, aku beberapa hari ini diminta datang jam enam atau setengah tujuh. Alasannya sederhana: karena tempat kostku paling dekat dari kantor!

====

Di atas rig, aku mulai menunaikan tugas muliaku mengumpulkan gambar.
Ada pipa-pipa panjang yang ditarik, lalu dilepas dan diberi selubung pelat baja. Setelah memasang pelat baja itu, empat atau lima orang itu agak menjauh, setelah itu menyemburlah lumpur berwarna kecoklatan!
"Itu udah minyak mentah, Mas?" tanyaku pada seorang kerja. Namanya Yuki, dan berbadan kekar sebagaimana lazimnya pekerja tambang.
"Belum, itu masih lumpur biasa. Minyaknya masih jauh lagi ke bawah. Ini baru kedalaman... " Yuki menyebut bilangan kedalaman, tapi aku lupa berapa.
"Sehari berapa jam kerjanya?"
"Apa, Mas?"
"Sehari berapa jam kerjanya?" Aku mengeraskan suara yang tetap saja jadi samar-samar ditelan deru mesin.
"Dua belas jam. Dari delapan ke delapan!"
...
Aku tertawa dalam hati. Gajinya pasti gede, tapi selama delapan jam berada di dekat pipa-pipa berputar itu, sepertinya bukan pekerjaan yang mengasyikkan bagi orang sepertiku. Kalo dihitung-hitung jam kerjaku malah bisa dua kali lipatnya dia. Kasarnya, jam kerja kami itu 26 jam sehari. Itu sebabnya tidak ada istilah uang lembur di kantorku, karena pasti akan bangkrut mereka jika mencoba-coba menghitungnya berdasarkan hukum personalia yang wajar.
Tapi ternyata orang kerja itu di mana-mana sama saja. Mesti berkeringat wajib hukumnya!
Bukannya duduk tenang sambil menipu orang, dan tau-tau Rp.841 milyar sudah masuk kantong.