tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, January 18, 2004

Pertanyaan Besar Hari ini


Kenapa orang selalu ingin tampak lebih suci dibanding orang lain?
Pagi ini, ada kiriman berita dari Padang. Razia PSK dan orang-orang yang berkeliaran di malam hari. Pemandangan lazim mereka diseret lalu diangkut ke atas mobil. Dibariskan seperti bar code di bungkus mi instan. Lihatlah, perempuan-perempuan yang berusaha menutupi wajahnya dengan rambut atau apa saja, dan para petugas yang juga tak kalah galaknya mengibaskan rambut mereka, menjambaknya, atau membuatnya mendongak supaya wajah itu jelas ditangkap kamera.
Seakan-akan mereka lebih bersih daripada perempuan-perempuan yang mereka pelintir lengannya itu...

Teriakan mereka tak pernah ada yang peduli. Seolah memang sudah sepantasnya mereka menerima perlakuan seperti itu --sedikit di atas binatang. 15 menit bukan waktu yang sebentar untuk pemandangan seperti itu, menunggu semua gambar ter-capture ke komputer lumayan menyiksa. Aku ingat ibuku, dan mungkin pada adik perempuanku seandainya aku punya.

Ujung-ujungnya, perempuan-perempuan itu akan dikirimkan ke Panti Rehabilitasi Sosial setelah pendataan di komputer menjadikan mereka tak lebih dari deretan angka-angka.
Panti Rehabilitasi... mungkin yang lebih cocok berada di sana adalah kita... yang masih bisa tertawa saat melihat orang lain menderita!

(Di Surabaya, mayat seorang seorang bandar narkoba yang tertembak jadi bahan tertawaan dokter-dokter ko-as di sebuah rumah sakit.
Jadi teringat sama Ani, Amel, Nadya, Ida, dan teman-temanku lainnya yang juga lagi lagi ko-as di sebuah rumah sakit. Apakah kalian juga melakukan hal yang sama pada mereka yang mati seperti itu?
)

=====

Sepanjang malam hingga pagi ini, hiburan tak terkira bagi mata silih berganti menimpa.
Jam sembilan bertemu Rico Marbun, anak muda mantan Ketua BEM UI ini dituduh menyalahgunakan dana Rp.75.000.000 dari Depdiknas untuk proyek Pelatihan Life Skill. Masih lumayan berapi-api dia. Seperti melihat diriku di masa lalu.
"Kita mau bikin award lagi dalam waktu dekat, Mas. Penindas Rakyat Award..." katanya.
"Sutiyoso masuk gak?" tanyaku iseng.
"Ooo sudah pasti!"

Anak muda dengan masa depan cemerlang, pikirku. Sepuluh tahun lagi dia mungkin sudah duduk di kursi dewan, dan ditangisi oleh sebagian temannya seperti Soe Hok Gie menangisi teman-temannya dulu.
...
Menjelang tengah malam, pesan sms masuk:
ada 365 taksi di polsek jatinegara
pengirim:
0811190xxx

Sebelumnya putau setengah kilo di Palmerah, tiga tersangka. Salah seorang seperti pernah bertemu sebelumnya, tapi entah di mana. Di Jatinegara, seorang bocah bonyok mukanya. Kelas 2 di sebuah SMU negeri di Jakarta. Dihakimi massa karena coba merampok sopir taksi. Mata kirinya tertutup rapat oleh lebam yang masih mengeluarkan darah sedikit-sedikit. Hanya berkaus Swan, dan bercelana pendek. Di depannya ada kunci inggris bekas dipakai buat menggetok kepala sopir taksi tadi.
...
"Ada beberapa lembar ribuan, Pak... di baju saya tadi. Tapi gak tau sekarang bajunya di mana."
...
Anak muda harapan bangsa, pikirku. Tak perlu ditanya kenapa dia nekat merampok. Ini bukan Jepang di mana anak mudanya membajak bus hanya untuk masuk koran atau TV. Ini Jakarta yang --siapa pun tahu-- tak pernah ramah bagi mereka yang tak berpunya.