tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Tuesday, January 13, 2004

Menemani Ibu Bapak Berkemah


Ada banyak tenda, dan orang-orang berseliweran tentu saja. Bendera-bendera dipancang di dekat pintu masuk. Sisa api unggun kecil tadi malam, dan berkumpul membentuk lingkaran. Dan hei, ada antrian di WC umum pula! Mesti tertib, biar semuanya kebagian melepaskan hajat.
Jadi teringat waktu masih kecil dulu, waktu ikut perkemahan Pramuka. Tapi tadi pagi itu tidak ada satupun yang memakai kacu merah putih, dengan lambang tunas kelapa tersemat di dadanya.

Seorang bapak tampak menikmati makan paginya ditemani sang istri, di depan tenda bulannya. Yang lain memilih berkumpul dengan sesama pria, atau sesama wanita, duduk di atas tikar yang digelar di rumput.
Di beberapa tenda masih banyak yang tertidur lelap, mungkin terlalu lelah setelah menempuh jarak Bandung-Jakarta tadi malam. Mereka tidak tampak sedang berkemah hura-hura di Ragunan pagi tadi. Meski banyak yang tertawa-tawa, yang menangis juga tidak sedikit.

Aku dan Buyung memilih bergabung dengan beberapa pria yang sedang menikmati sop ayam di alam terbuka itu. Buyung berbasa-basi dengan bahasa Sunda-nya, dan aku berbasa-basi bukan dengan bahasa Sunda... Kamera yang dipegang Buyung rupanya lumayan ampuh untuk membuka obrolan.
Di tengah percakapan, seorang Bapak tiba-tiba mengeluh, "Negara ini nggak bener. Wajar kalau masayarakat tidak mengenal pemimpinnya, mereka tidak merakyat sih. Katanya wong cilik... Wong cilik apa?!"
Lalu seorang Bapak lagi, "Ya, mau apa lagi, menghadapi pemerintah yang biadab memang harus seperti ini..."
Lalu seorang Bapak lagi yang bicara tentang revolusi.
"Perlu revolusi sosial 'kali, Pak." Aku ikut menambahkan. Buyung tertawa.
...

=====

Jam sepuluh pagi tepat mereka mulai bergerak meninggalkan Ragunan. 7000 karyawan dan keluarga karyawan PTDI yang dirumahkan itu berencana menemui Menaker Jacob Nuwawea dan Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat (P4P) di Depnaker Gatsu. Konvoinya panjang dan ramai. 3000-an motor dan 300 lebih mobil bergerak searah, menuju impian mereka untuk hidup lebih nyaman.
Ini unjuk rasa mereka yang ketiga kalinya di Jakarta, dan mereka berharap ini adalah yang terakhir.
...
Besok, semoga tak perlu lagi ada yang berkemah seperti ini hanya untuk menuntut hak. Sarapan pagi di rumah saja, atau di beranda, dan tak perlu ditunggui oleh istri atau suami yang menangis kehilangan nafkah.