tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, January 10, 2004

Lagu Pengantar Tidur


Hari ini aku jalan liputan sendiri, reporter merangkap camera person. Di tempatku posisi itu disebut VJ (Video Journalist). Sebenarnya agak menyebalkan mesti mengambil alih tugas dua orang, tapi dalam kondisi tertentu peran ini mesti dilakoni. Dua kali dalam minggu ini! Kadang-kadang aku heran juga dengan cara mereka "mengerjaiku". Satu-satunya yang menghiburku adalah bahwa tidak semua reporter dipercaya untuk menjadi VJ dalam liputan. Kalau kata senior-seniorku, hanya orang-orang tertentu saja yang dianggap mampu. Mudah-mudahan ini akan berpengaruh pada gaji. :-)

Liputanku hari ini tentang ruislag sebuah gedung SLTP di daerah Melawai. Berdasarkan perjanjian Depdiknas dengan sebuah perusahaan, lahan bekas SLTP itu akan dikosongkan dan konon gantinya akan dibangun hotel dan restoran terbesar di Jakarta Selatan. Proses belajar mengajar pun dipindahkan ke gedung sekolah baru di Jeruk Purut, Pasar Minggu. Masalahnya, di tempat lama itu masih ada sekitar 60 orang siswa yang bertahan untuk tetap belajar di situ. Akibatnya nasib mereka jadi tidak jelas. Di hari seharusnya mereka menerima raport, mereka tidak bisa menerima raport asli, tapi hanya raport sementara yang dikeluarkan Komite Sekolah. Jangankan raport, Nomor Induk pun mereka tidak punya!
Sebenarnya yang aku lihat kasus ini tak lebih dari perbenturan kepentingan orang-orang dewasa --atas beberapa muatan ekonomis-- yang pada ujungnya menyeret anak-anak yang tak tahu apa-apa menjadi korbannya.

====

Saat mengambil gambar establish shot di sebuah gedung SLTP yang lumayan megah, seorang bocah perempuan mendekatiku. Dari sejak aku datang, aku memang sudah melihat banyak bocah laki-laki dan perempuan mondar-mondir dengan dandanan agak di luar jalur. Bocah itu juga...

"Kakak, syutingnya nanti di mana?" tanyanya.
Aku menghentikan kegiatanku sejenak. Seraut wajah mungil itu tampak tersenyum. Usianya mungkin gak lebih dari sepuluh tahun. Tapi lihatlah, apa yang dikenakan di wajahnya itu. Adek, siapa yang tega mengajarimu mencoreng-coreng mukamu seperti itu?
"Syuting apa, Dek?"
"Sinetron. Aku disuruh datang jam dua belas."
"Wah, Kakak nggak tau tuh. Kakak bukan yang bikin sinetron. Mungkin mereka datangnya telat. Tunggu saja ya..."
Bocah itu tersenyum, lalu menggoyang-goyangkan kepangnya.
"Eh, sinetron apaan sih?" tanyaku penasaran, sebelum dia beranjak pergi.
"Sinetron Papaku Keren-Keren, syutingnya di sini katanya..."

Aku diam, teringat pada Daun Di Atas Bantal-nya Garin. Mungkin terlalu naif, tapi rasanya tidak jauh beda. Keduanya sama-sama melibatkan anak-anak sebagai komoditas tontonan. Tapi yang satu tidak membuat mereka tampak tolol begitu rupa!

====

Malam ini, terkenang pada sebuah "akhir di tanda titik".
Syair itu! Syair itu! Dari sebuah lagu pengantar tidur.
Masih terngiang di telinga.
: seddimi laleng tenriola,
wirinnami bittara-e....