tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Thursday, January 01, 2004

Berbagi Ruang Keriangan


Laki-laki berjas hitam itu begitu teguh menarik tali sedetik demi sedetik, mengikuti gerak jarum jam di depannya. Setiap satu tarikan tali, satu bunyi lonceng terdengarkan. Ada monitor TV terpasang di atasnya, di batang bambu yang ikat, menampilkan gambar mulut semata-mata. Konon, dia akan seperti itu sampai tahun baru tiba. Tapi ketika kucari namanya di brosur, tak juga kutemukan tentang dia. Mungkin tak begitu terkenal.

TIM sangat ramai malam tadi. Ada penyanyi marawis "Al-Badru", anak-anak muda yang mempertontonkan Capoeira, sulap, lagu keroncong, pemain gitar jazz...

Saat menikmati melihat orang bermain komidi putar, seorang perempuan mendekatiku. Rasanya aku kenal dia, pernah beberapa kali bertemu, tapi dia juga sepertinya tidak mengenaliku.
Di panggung utama, seseorang tiba-tiba muncul membaca puisi. "Itu suamiku," katanya menunjuk ke atas panggung. Oh, aku ingat! Ternyata dia Mbak Nungki, dan laki-laki yang membaca puisi itu Bang Jose Rizal Manua...
"Sudah ke stand Cirebon?" tanyanya.
"Di mana, Mbak?" tanyaku. Dia menunjuk sebuah stand yang seperti terasing di keramaian. Sebuah tayuban kiranya.
"Nggak ada penontonnya. Kalah riuh sama suara panggung itu..."
...
"Kalau naik ini, rasanya jantungan saya." Katanya sambil menunjuk komidi putar yang perlahan berhenti berputar. Dua anak kecil turun dan mendekatinya. Mbak Nungki tertawa. Saya juga tertawa.
"Salam sama Cipta ya..." Dia menyebut nama seorang art director di tempatku bekerja.
"Insya Allah, akan saya sampaikan, Mbak." Lalu dia pergi, mungkin ke panggung utama, menonton suaminya membaca puisi.
...

Jam sepuluh lewat, kami sudah harus bergeser lagi. Kabarnya banjir masih menggenang di sebagian wilayah Jakarta di malam tahun baru ini. Di daerah Pedongkelan, Jakarta Timur, air menggenangi jalan sampai di atas lututku. Kendaraan mogok terjebak dalam banjir. Anak-anak muda mengambil kesempatan meminta upah dengan alasan telah membantu mendorong kendaraan mereka yang terjebak. Padahal yang mereka dorong tidak selalu motor atau mobil yang tak bisa maju. Aku melihat seorang gadis terkesiap saat pahanya diremas oleh puluhan anak-anak muda yang pura-pura membantu itu! Tak bisa protes atau berbuat apa-apa.
Rasanya ingin kutimpuk kepala mereka itu!

Pukul dua belas kurang seperempat, selesai mengambil gambar dan mewawancarai beberapa warga sekitar. Mesti balik lagi ke tempat ramai yang ada acara penghitungan mundurnya. Minta maaf pada driver yang kukotori jok mobilnya oleh jinsku yang basah sampai di atas lutut.
Kami lalu memutuskan kembali ke TIM, karena itu adalah tempat yang paling cepat yang bisa kami jangkau dalam lima belas menit sebelum tahun benar-benar berganti. Sepanjang jalan kami meniup terompet yang tadi kami beli seharga dua ribu rupiah. Riuh sekali. Dan jalanan jadi macet.

Sampai di TIM lagi, tengah malam sudah berlalu hampir setengah jam. Masih ada waktu untuk melakukan tugas mengumpulkan vox pop beberapa orang, dengan pertanyaan standar tahun baru:

Amanda (cewek funky, potongan anak band, agak-agak pirang) : "Semoga gak ada lagi perang. Piss. Dan gue bisa nyelesaiin skripsi gue tahun ini!"
Desy (cewek berkaca mata, tipe serius gitu...) : "Jangan ada bom lagi deh...."
Ibu Rosnila (berkerudung, usia sekitar 50 tahunan) : "...supaya kondisinya aman, tidak ada lagi penggusuran..."
Pak Lubis (tipikal bapak kepala keluarga, menggendong anak, datang sekeluarga) : "Orang-orang politik itu bisa lebih beres mengelola negara... Ekonomi keluarga saya bisa lebih mapanlah.."
Pak Suripto (tukang sate depan TIM) : "...--aku nggak nyimak dia ngomong apa, sibuk membereskan framing yang kacau balau. Tapi kalau gak salah dia ngomong tentang harga daging gitu deh pokoknya..--...)

====

Lalu sebuah panggilan telepon masuk:
"Di mana, Bang?"
"Masih di TIM, liputan. Kamu di mana?"
(Dia menyebut nama sebuah hotel bintang lima)
"Tapi di kamar aja..."
Suaranya parau, menandakan raganya yang lelah melalui hari yang lewat. Sekelompok orang yang disebutnya baik--tapi tidak peka itu telah mengeksploitasinya sedemikian rupa.
...
"Met tahun baru..."
"Met tahun baru juga..."
"Istirahat yang banyak ya, Adek..."
...
Klik. Telepon putus. Terasa ada yang hilang. Entah kenapa hari-hari belakangan ini aku begitu mengkhawatirkannya...

====

Di jalan pulang ke kantor, jalanan macet minta ampun. Di kursi belakang, kawanku masih betah meniup terompetnya keras-keras. Aku memeriksa kantong bajuku, mencari potongan kupon yang kuselipkan sembarangan tadi. Ada kupon makan lebih, dan rencananya akan kukasih ke Pak Oki, driver yang telah mengantar kami. Dengan menambah gopek, kupon itu bisa ditukar dengan tiga kotak susu ultra buat anak-anaknya di rumah nanti...

Ada juga undangan dari dua hotel berbintang yang mengadakan acara old and new, kukeluarkan dari kantongku. Dan brosur acara di TIM tadi, dengan tulisan di pojok bawahnya:
Selama ini kita telah memberi ruang berlebih pada kemarahan, kebencian dan dendam. Kita telah begitu asyik mengutuk, meratap, meradang, memaki dan mempermasalahkan. Barangkali, sekali waktu kita perlu memberi ruang bagi keriangan.

Selamat Tahun Baru, Kawan.
Semoga kita selalu bisa berbagi ruang keriangan...