tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, January 03, 2004

Bagaimana Rasanya 42 Tahun Menjadi Ketua RT?

Dia tinggal di daerah itu sejak tahun 1959. Rumah yang ditempatinya sebuah bangunan tua hampir sepanjang gerbong, yang dibangun tahun 1919. Suaminya, mantan duta besar di tiga negara, telah lama meninggal. Bersamanya kini, satu keluarga pelayan yang setia menemaninya puluhan tahun.
Hampir semua orang di sepanjang jalan itu mengenalnya. Jika suatu hari kamu tersesat di jalan Teuku Umar, Menteng, tanyakanlah, siapa ibu RT di situ. Maka semua jari akan menunjuk ke rumah berpagar putih dengan nomor 30 itu. Ibu Khadijah Imron Rosyiadi, 74 tahun, telah menjabat Ketua RT di sekitar rumah Presiden Mega itu selama 42 tahun!
Fisiknya memang tidak lagi kuat. Sebuah infeksi di tiga tahun lalu telah merenggut kaki kirinya. Kini hampir sepanjang hari dilewatinya dengan duduk, atau menerima tamu yang tak henti berdatangan. Tapi ingatannya, hampir setajam tatapan mata dan pendengarannya.
...
"Saya dulu Tentara Pelajar, ikut memanggul senjata di Bandung Utara..."
Sesekali bahasa asing keluar dari mulutnya, menandakan banyaknya ranah ilmu yang telah ditelusurinya.
"Tapi saya heran, kenapa anak-anak muda sekarang tidak ada yang mau jadi Ketua RT..." katanya, yang hampir saja membuatku tertawa. Pikiran goblokku pun membuatku berargumen.
"Tidak ada prestisenya mungkin, Ibu."
Ibu Khodijah menatapku lurus-lurus, seperti ingin menembus manik mataku. Tatapan seperti itu selalu membuatku merasa terintimidasi. Tapi oleh seorang ibu se-bijak dia, tak apalah. Aku pun mereka-reka apa kira-kira yang ada dalam hatinya.
Hei, inilah produk generasi muda pragmatis yang berpikir untung rugi melulu!
Ataukah, di depannya aku tak lebih dari seorang bocah oportunis yang selalu hanya bermimpi bisa tampil menawan di setiap kesempatan --menghabiskan sepertiga umur untuk menebar pesona?
...
"Mungkin itu juga penyebabnya. Tapi di sini, memang susah jadi Ketua RT, karena harus bisa mengajak dubes-dubes di depan sana itu."
Di jalan seberang rumahnya memang berjajar rumah-rumah para duta besar berbagai negara yang selalu dijaga petugas dan galaknya seringkali melebihi interpol!
Konon, untuk membuat orang-orang terhormat itu memahami budaya Indonesia, Ibu Khodijah tak segan-segan mengajak istri-istri dubes itu untuk ikut arisan!
Arisan, katanya, adalah ciri unik masyarakat perempuan kita, dengan satu fungsi 'utama' yang tak bisa dipungkiri: pusat perputaran informasi --untuk tidak menyebut gosip...

====
Hari ini, aku pulang dengan banyak pelajaran baru dari Ibu Khodijah. Seorang perempuan biasa pada awalnya, tapi pengalaman membuatnya matang. Di usia senjanya, masih aktif di lembaga internasional. Siapa sangka bila melalui rekomendasinyalah, para petugas PBB bisa bekerja dengan nyaman di banyak wilayah Indonesia....

Ada juga pelajaran-pelajaran kecil, seperti: Jangan pernah menanyakan usia kepada seorang wanita, karena itu akan membuat yang ditanya sangat tersinggung. Hehehehe. Betulkah demikan, Ibu-ibu?

Eh, ada satu lagi, tapi yang ini off the record: tentang sebuah sekolah untuk anak-anak cacat di sebuah negara tempat para pembesar-pembesar dari seluruh dunia termasuk Indonesia --yang kebanyakan karena ingin lepas tanggung jawab-- menitipkan anak-anak mereka untuk dididik (atau --maaf---diasingkan kali ya...)