tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, January 31, 2004

Hei, aku datang lagi!

Meski belum hilang penat ini, tapi rindu tak bisa menunggu.
Perjalanan panjang dalam sunyi, menyisa banyak cerita untuk ditulis.
"karena ada sedikit gangguan dalam memori jangka panjangku, tak bisa mengingat terlalu lama, atau terlalu banyak..."
Padahal tak ingin aku kehilangan saat kau letakkan tanganmu di wajahku, lalu ada senyum;
"seperti papan catur," katamu. Kontras warna!

Sunday, January 25, 2004

Run! Run! Run!

Wednesday, January 21, 2004

Repacking Your Bag!


Hidup itu seperti ransel bagi seorang pejalan, setidaknya tak jauh beda.
Buat mencapai tujuan, kita harus membawa-bawanya. Tinggal menyusun isinya saja. Barang-barang yang tak selalu kita butuhkan, kita simpan di bagian terbawah. Yang mungkin akan sering kita gunakan, kita simpan di bagian atas, atau di kantong depan.
Seringkali kita harus berhenti sejenak untuk menata ulang dan melihat isinya. Mungkin masih ada barang-barang yang terbawa tapi sebenarnya tidak lagi kita butuhkan. Lalu seringkali kita harus meninggalkan sesuatu untuk memudahkan perjalanan kita...
Hidup juga begitu. Beban-beban berat yang membuat kita degradatif selayaknya kita tinggalkan. Yang kita bawa hanya yang membuat kita progres saja.

Kawan, beberapa hari ini aku akan menghilang sejenak dari ruang maya ini. Rasanya saatnya sudah tiba lagi bagiku untuk menata ulang ransel hidupku. Langkah kakiku mulai terasa berat, mungkin karena sudah terlalu banyak beban-beban tak perlu yang menggayutinya. Dan aku harus menata ulangnya lagi.
Mungkin untuk itu butuh beberapa hari, beberapa bulan, atau beberapa tahun.
Aku titip ruang ini kepadamu.

Sunday, January 18, 2004

Pertanyaan Besar Hari ini


Kenapa orang selalu ingin tampak lebih suci dibanding orang lain?
Pagi ini, ada kiriman berita dari Padang. Razia PSK dan orang-orang yang berkeliaran di malam hari. Pemandangan lazim mereka diseret lalu diangkut ke atas mobil. Dibariskan seperti bar code di bungkus mi instan. Lihatlah, perempuan-perempuan yang berusaha menutupi wajahnya dengan rambut atau apa saja, dan para petugas yang juga tak kalah galaknya mengibaskan rambut mereka, menjambaknya, atau membuatnya mendongak supaya wajah itu jelas ditangkap kamera.
Seakan-akan mereka lebih bersih daripada perempuan-perempuan yang mereka pelintir lengannya itu...

Teriakan mereka tak pernah ada yang peduli. Seolah memang sudah sepantasnya mereka menerima perlakuan seperti itu --sedikit di atas binatang. 15 menit bukan waktu yang sebentar untuk pemandangan seperti itu, menunggu semua gambar ter-capture ke komputer lumayan menyiksa. Aku ingat ibuku, dan mungkin pada adik perempuanku seandainya aku punya.

Ujung-ujungnya, perempuan-perempuan itu akan dikirimkan ke Panti Rehabilitasi Sosial setelah pendataan di komputer menjadikan mereka tak lebih dari deretan angka-angka.
Panti Rehabilitasi... mungkin yang lebih cocok berada di sana adalah kita... yang masih bisa tertawa saat melihat orang lain menderita!

(Di Surabaya, mayat seorang seorang bandar narkoba yang tertembak jadi bahan tertawaan dokter-dokter ko-as di sebuah rumah sakit.
Jadi teringat sama Ani, Amel, Nadya, Ida, dan teman-temanku lainnya yang juga lagi lagi ko-as di sebuah rumah sakit. Apakah kalian juga melakukan hal yang sama pada mereka yang mati seperti itu?
)

=====

Sepanjang malam hingga pagi ini, hiburan tak terkira bagi mata silih berganti menimpa.
Jam sembilan bertemu Rico Marbun, anak muda mantan Ketua BEM UI ini dituduh menyalahgunakan dana Rp.75.000.000 dari Depdiknas untuk proyek Pelatihan Life Skill. Masih lumayan berapi-api dia. Seperti melihat diriku di masa lalu.
"Kita mau bikin award lagi dalam waktu dekat, Mas. Penindas Rakyat Award..." katanya.
"Sutiyoso masuk gak?" tanyaku iseng.
"Ooo sudah pasti!"

Anak muda dengan masa depan cemerlang, pikirku. Sepuluh tahun lagi dia mungkin sudah duduk di kursi dewan, dan ditangisi oleh sebagian temannya seperti Soe Hok Gie menangisi teman-temannya dulu.
...
Menjelang tengah malam, pesan sms masuk:
ada 365 taksi di polsek jatinegara
pengirim:
0811190xxx

Sebelumnya putau setengah kilo di Palmerah, tiga tersangka. Salah seorang seperti pernah bertemu sebelumnya, tapi entah di mana. Di Jatinegara, seorang bocah bonyok mukanya. Kelas 2 di sebuah SMU negeri di Jakarta. Dihakimi massa karena coba merampok sopir taksi. Mata kirinya tertutup rapat oleh lebam yang masih mengeluarkan darah sedikit-sedikit. Hanya berkaus Swan, dan bercelana pendek. Di depannya ada kunci inggris bekas dipakai buat menggetok kepala sopir taksi tadi.
...
"Ada beberapa lembar ribuan, Pak... di baju saya tadi. Tapi gak tau sekarang bajunya di mana."
...
Anak muda harapan bangsa, pikirku. Tak perlu ditanya kenapa dia nekat merampok. Ini bukan Jepang di mana anak mudanya membajak bus hanya untuk masuk koran atau TV. Ini Jakarta yang --siapa pun tahu-- tak pernah ramah bagi mereka yang tak berpunya.

Saturday, January 17, 2004

Survivor's Rule:

"Throw him everywhere, and he will find the way out!"

Tak mengapa jika sekali terluka,
atau berkali-kali.
Tak akan mengubah apa-apa, Sayang.
Karena telah kuberguru pada para Seiya;
semakin aku terluka, semakin aku menjadi kuat.

Tuesday, January 13, 2004

Menemani Ibu Bapak Berkemah


Ada banyak tenda, dan orang-orang berseliweran tentu saja. Bendera-bendera dipancang di dekat pintu masuk. Sisa api unggun kecil tadi malam, dan berkumpul membentuk lingkaran. Dan hei, ada antrian di WC umum pula! Mesti tertib, biar semuanya kebagian melepaskan hajat.
Jadi teringat waktu masih kecil dulu, waktu ikut perkemahan Pramuka. Tapi tadi pagi itu tidak ada satupun yang memakai kacu merah putih, dengan lambang tunas kelapa tersemat di dadanya.

Seorang bapak tampak menikmati makan paginya ditemani sang istri, di depan tenda bulannya. Yang lain memilih berkumpul dengan sesama pria, atau sesama wanita, duduk di atas tikar yang digelar di rumput.
Di beberapa tenda masih banyak yang tertidur lelap, mungkin terlalu lelah setelah menempuh jarak Bandung-Jakarta tadi malam. Mereka tidak tampak sedang berkemah hura-hura di Ragunan pagi tadi. Meski banyak yang tertawa-tawa, yang menangis juga tidak sedikit.

Aku dan Buyung memilih bergabung dengan beberapa pria yang sedang menikmati sop ayam di alam terbuka itu. Buyung berbasa-basi dengan bahasa Sunda-nya, dan aku berbasa-basi bukan dengan bahasa Sunda... Kamera yang dipegang Buyung rupanya lumayan ampuh untuk membuka obrolan.
Di tengah percakapan, seorang Bapak tiba-tiba mengeluh, "Negara ini nggak bener. Wajar kalau masayarakat tidak mengenal pemimpinnya, mereka tidak merakyat sih. Katanya wong cilik... Wong cilik apa?!"
Lalu seorang Bapak lagi, "Ya, mau apa lagi, menghadapi pemerintah yang biadab memang harus seperti ini..."
Lalu seorang Bapak lagi yang bicara tentang revolusi.
"Perlu revolusi sosial 'kali, Pak." Aku ikut menambahkan. Buyung tertawa.
...

=====

Jam sepuluh pagi tepat mereka mulai bergerak meninggalkan Ragunan. 7000 karyawan dan keluarga karyawan PTDI yang dirumahkan itu berencana menemui Menaker Jacob Nuwawea dan Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat (P4P) di Depnaker Gatsu. Konvoinya panjang dan ramai. 3000-an motor dan 300 lebih mobil bergerak searah, menuju impian mereka untuk hidup lebih nyaman.
Ini unjuk rasa mereka yang ketiga kalinya di Jakarta, dan mereka berharap ini adalah yang terakhir.
...
Besok, semoga tak perlu lagi ada yang berkemah seperti ini hanya untuk menuntut hak. Sarapan pagi di rumah saja, atau di beranda, dan tak perlu ditunggui oleh istri atau suami yang menangis kehilangan nafkah.

Monday, January 12, 2004

Tempat Bernama Ujung Harapan


Keluar pintu tol Bekasi Barat, masih harus melewati jalan sempit yang penuh angkot. Dekat pabrik Aqua baru belok kanan. Kata orang Pertamina yang memandu kami lewat HP, dari sana sudah dekat. Tinggal cari arah ke Seroja saja, semua orang di situ pasti tahu, katanya.
Ternyata tempat yang dituju itu jauh banget! Bukan sepelemparan tombak seperti dugaanku. Namanya saja Kampung Ujung Harapan, tapi masih ke sananya lagi. Nah, di situlah lokasi pengeboran minyak itu berada.

Sampai di sana, hawa-hawa keras sudah terasa. Udaranya panas dan sangat gersang. Anehnya, lumpur ada di mana-mana.
It's time to drill!, kata seseorang. Aku jadi ingat sama Inul. Seorang yang lain lagi menawariku untuk naik ke atas rig. Tapi ketika mencari-cari helm sebagai syarat keselamatan, ternyata aku sudah tidak kebagian lagi. Semuanya sudah habis dipakai wartawan lain yang sudah naik lebih dulu. Untunglah, seorang reporter wanita masih mikir-mikir antara naik dan tidak. Maka untuk membantunya menetapkan pilihan, helm-nya aku pinjam dulu. Hehehehe.
...

Siang itu kami memenuhi undangan Pertamina untuk pengambilan stockshot pengeboran minyak di Tambang F Bekasi, sekaligus menunjukkan lokasi pengeboran yang baru ditemukan. Ada duapuluhan wartawan yang ikut. Kecuali tiga kendaraan operasional TV masing-masing, selebihnya memakai bis besar yang didalamnya disuguhi Hoka-Hoka Bento. Dari kantor aku berangkat berdua sama driver, gak ada tandem. Kata Mas Korlip, kita tak punya footage pengeboran minyak sehingga gambar ini perlu diselamatkan. Maka berangkatlah aku di pagi-pagi buta, menurutku...
Belakangan ini, Korlip memang sering memberiku tugas lebih pagi dari rata-rata reporter atau campers lain. Kalo biasanya teman-teman lain datang jam delapan atau jam sembilan, aku beberapa hari ini diminta datang jam enam atau setengah tujuh. Alasannya sederhana: karena tempat kostku paling dekat dari kantor!

====

Di atas rig, aku mulai menunaikan tugas muliaku mengumpulkan gambar.
Ada pipa-pipa panjang yang ditarik, lalu dilepas dan diberi selubung pelat baja. Setelah memasang pelat baja itu, empat atau lima orang itu agak menjauh, setelah itu menyemburlah lumpur berwarna kecoklatan!
"Itu udah minyak mentah, Mas?" tanyaku pada seorang kerja. Namanya Yuki, dan berbadan kekar sebagaimana lazimnya pekerja tambang.
"Belum, itu masih lumpur biasa. Minyaknya masih jauh lagi ke bawah. Ini baru kedalaman... " Yuki menyebut bilangan kedalaman, tapi aku lupa berapa.
"Sehari berapa jam kerjanya?"
"Apa, Mas?"
"Sehari berapa jam kerjanya?" Aku mengeraskan suara yang tetap saja jadi samar-samar ditelan deru mesin.
"Dua belas jam. Dari delapan ke delapan!"
...
Aku tertawa dalam hati. Gajinya pasti gede, tapi selama delapan jam berada di dekat pipa-pipa berputar itu, sepertinya bukan pekerjaan yang mengasyikkan bagi orang sepertiku. Kalo dihitung-hitung jam kerjaku malah bisa dua kali lipatnya dia. Kasarnya, jam kerja kami itu 26 jam sehari. Itu sebabnya tidak ada istilah uang lembur di kantorku, karena pasti akan bangkrut mereka jika mencoba-coba menghitungnya berdasarkan hukum personalia yang wajar.
Tapi ternyata orang kerja itu di mana-mana sama saja. Mesti berkeringat wajib hukumnya!
Bukannya duduk tenang sambil menipu orang, dan tau-tau Rp.841 milyar sudah masuk kantong.

Sunday, January 11, 2004

Detachable

Tarolah malam ini adalah pelajaran bagi kita,
bahwa menjadi manusia betapa sangat beratnya.
Karena kita bukan, dan tak pernah bisa jadi malaikat...

Saturday, January 10, 2004

Lagu Pengantar Tidur


Hari ini aku jalan liputan sendiri, reporter merangkap camera person. Di tempatku posisi itu disebut VJ (Video Journalist). Sebenarnya agak menyebalkan mesti mengambil alih tugas dua orang, tapi dalam kondisi tertentu peran ini mesti dilakoni. Dua kali dalam minggu ini! Kadang-kadang aku heran juga dengan cara mereka "mengerjaiku". Satu-satunya yang menghiburku adalah bahwa tidak semua reporter dipercaya untuk menjadi VJ dalam liputan. Kalau kata senior-seniorku, hanya orang-orang tertentu saja yang dianggap mampu. Mudah-mudahan ini akan berpengaruh pada gaji. :-)

Liputanku hari ini tentang ruislag sebuah gedung SLTP di daerah Melawai. Berdasarkan perjanjian Depdiknas dengan sebuah perusahaan, lahan bekas SLTP itu akan dikosongkan dan konon gantinya akan dibangun hotel dan restoran terbesar di Jakarta Selatan. Proses belajar mengajar pun dipindahkan ke gedung sekolah baru di Jeruk Purut, Pasar Minggu. Masalahnya, di tempat lama itu masih ada sekitar 60 orang siswa yang bertahan untuk tetap belajar di situ. Akibatnya nasib mereka jadi tidak jelas. Di hari seharusnya mereka menerima raport, mereka tidak bisa menerima raport asli, tapi hanya raport sementara yang dikeluarkan Komite Sekolah. Jangankan raport, Nomor Induk pun mereka tidak punya!
Sebenarnya yang aku lihat kasus ini tak lebih dari perbenturan kepentingan orang-orang dewasa --atas beberapa muatan ekonomis-- yang pada ujungnya menyeret anak-anak yang tak tahu apa-apa menjadi korbannya.

====

Saat mengambil gambar establish shot di sebuah gedung SLTP yang lumayan megah, seorang bocah perempuan mendekatiku. Dari sejak aku datang, aku memang sudah melihat banyak bocah laki-laki dan perempuan mondar-mondir dengan dandanan agak di luar jalur. Bocah itu juga...

"Kakak, syutingnya nanti di mana?" tanyanya.
Aku menghentikan kegiatanku sejenak. Seraut wajah mungil itu tampak tersenyum. Usianya mungkin gak lebih dari sepuluh tahun. Tapi lihatlah, apa yang dikenakan di wajahnya itu. Adek, siapa yang tega mengajarimu mencoreng-coreng mukamu seperti itu?
"Syuting apa, Dek?"
"Sinetron. Aku disuruh datang jam dua belas."
"Wah, Kakak nggak tau tuh. Kakak bukan yang bikin sinetron. Mungkin mereka datangnya telat. Tunggu saja ya..."
Bocah itu tersenyum, lalu menggoyang-goyangkan kepangnya.
"Eh, sinetron apaan sih?" tanyaku penasaran, sebelum dia beranjak pergi.
"Sinetron Papaku Keren-Keren, syutingnya di sini katanya..."

Aku diam, teringat pada Daun Di Atas Bantal-nya Garin. Mungkin terlalu naif, tapi rasanya tidak jauh beda. Keduanya sama-sama melibatkan anak-anak sebagai komoditas tontonan. Tapi yang satu tidak membuat mereka tampak tolol begitu rupa!

====

Malam ini, terkenang pada sebuah "akhir di tanda titik".
Syair itu! Syair itu! Dari sebuah lagu pengantar tidur.
Masih terngiang di telinga.
: seddimi laleng tenriola,
wirinnami bittara-e....

Wednesday, January 07, 2004

Pulang

Putri Bungsu dari Kerajaan Bidadari, hari ini dia akan pergi, kembali ke khayangannya.
So Long, Little Sister... Semoga kau temukan apa yang kau cari...

Monday, January 05, 2004

Edisi Senin Pagi


Bunda, tadi pagi aku liputan tentang rencana pemberlakuan peraturan three in one baru di Sudirman. Di tengah-tengah liputan, ada copet ketangkap di depan Graha Niaga. Empat orang! Katanya mereka mencopet HP penumpang bis Kopaja P-19.

Aku ada kemajuan, Bunda. Sekarang aku sudah bisa tertawa-tawa melihat mereka dipukuli dan ditendangi.

Sunday, January 04, 2004

De Javu Seorang Kawan

Aku juga gak ngerti, Bang. Aku udah tahu ini bakal rumit banget jalannya. Tapi aku gak punya pilihan buat berhenti. Aku mesti ngambil resiko buat ngejalanin ini, meski aku tahu kemungkinan ke sana sangat kecil, hampir gak ada malah...
Aku sadar kalo buat sampe ke tujuan itu aku harus struggle lebih banyak. Mungkin banyak yang harus aku korbanin, seperti yang kau bilang, salah satu harus ada yang menjadi mortal!
...
Aku sejatinya ingin semuanya berjalan lurus-lurus saja. Bisa jadi aku yang mulai lelah hidup tanpa patron. Aku ingin hidup 'normal', berhenti dan berdiam, melupakan semua cita-cita masa muda itu!
Tapi kenapa justru di saat keinginan itu datang, dan kutemukan tempat-- jalannya ternyata gak segampang yang kuduga. Hitungan matematisnya adalah mendekati NOL. Bahasa Indonesianya: hampir mustahil!
Lalu apa sebutan yang pantas bagi seorang yang memutuskan berperang padahal dia tahu pasti bakal kalah?
...
"Ini resiko gue sebagai laki-laki, Bang..."
"Terserah, yang pasti itu jangan mempengaruhi pekerjaanmu. Kalo itu terjadi, lo bakal liat gue juga teriak-teriak ke elo!"

Saturday, January 03, 2004

Bagaimana Rasanya 42 Tahun Menjadi Ketua RT?

Dia tinggal di daerah itu sejak tahun 1959. Rumah yang ditempatinya sebuah bangunan tua hampir sepanjang gerbong, yang dibangun tahun 1919. Suaminya, mantan duta besar di tiga negara, telah lama meninggal. Bersamanya kini, satu keluarga pelayan yang setia menemaninya puluhan tahun.
Hampir semua orang di sepanjang jalan itu mengenalnya. Jika suatu hari kamu tersesat di jalan Teuku Umar, Menteng, tanyakanlah, siapa ibu RT di situ. Maka semua jari akan menunjuk ke rumah berpagar putih dengan nomor 30 itu. Ibu Khadijah Imron Rosyiadi, 74 tahun, telah menjabat Ketua RT di sekitar rumah Presiden Mega itu selama 42 tahun!
Fisiknya memang tidak lagi kuat. Sebuah infeksi di tiga tahun lalu telah merenggut kaki kirinya. Kini hampir sepanjang hari dilewatinya dengan duduk, atau menerima tamu yang tak henti berdatangan. Tapi ingatannya, hampir setajam tatapan mata dan pendengarannya.
...
"Saya dulu Tentara Pelajar, ikut memanggul senjata di Bandung Utara..."
Sesekali bahasa asing keluar dari mulutnya, menandakan banyaknya ranah ilmu yang telah ditelusurinya.
"Tapi saya heran, kenapa anak-anak muda sekarang tidak ada yang mau jadi Ketua RT..." katanya, yang hampir saja membuatku tertawa. Pikiran goblokku pun membuatku berargumen.
"Tidak ada prestisenya mungkin, Ibu."
Ibu Khodijah menatapku lurus-lurus, seperti ingin menembus manik mataku. Tatapan seperti itu selalu membuatku merasa terintimidasi. Tapi oleh seorang ibu se-bijak dia, tak apalah. Aku pun mereka-reka apa kira-kira yang ada dalam hatinya.
Hei, inilah produk generasi muda pragmatis yang berpikir untung rugi melulu!
Ataukah, di depannya aku tak lebih dari seorang bocah oportunis yang selalu hanya bermimpi bisa tampil menawan di setiap kesempatan --menghabiskan sepertiga umur untuk menebar pesona?
...
"Mungkin itu juga penyebabnya. Tapi di sini, memang susah jadi Ketua RT, karena harus bisa mengajak dubes-dubes di depan sana itu."
Di jalan seberang rumahnya memang berjajar rumah-rumah para duta besar berbagai negara yang selalu dijaga petugas dan galaknya seringkali melebihi interpol!
Konon, untuk membuat orang-orang terhormat itu memahami budaya Indonesia, Ibu Khodijah tak segan-segan mengajak istri-istri dubes itu untuk ikut arisan!
Arisan, katanya, adalah ciri unik masyarakat perempuan kita, dengan satu fungsi 'utama' yang tak bisa dipungkiri: pusat perputaran informasi --untuk tidak menyebut gosip...

====
Hari ini, aku pulang dengan banyak pelajaran baru dari Ibu Khodijah. Seorang perempuan biasa pada awalnya, tapi pengalaman membuatnya matang. Di usia senjanya, masih aktif di lembaga internasional. Siapa sangka bila melalui rekomendasinyalah, para petugas PBB bisa bekerja dengan nyaman di banyak wilayah Indonesia....

Ada juga pelajaran-pelajaran kecil, seperti: Jangan pernah menanyakan usia kepada seorang wanita, karena itu akan membuat yang ditanya sangat tersinggung. Hehehehe. Betulkah demikan, Ibu-ibu?

Eh, ada satu lagi, tapi yang ini off the record: tentang sebuah sekolah untuk anak-anak cacat di sebuah negara tempat para pembesar-pembesar dari seluruh dunia termasuk Indonesia --yang kebanyakan karena ingin lepas tanggung jawab-- menitipkan anak-anak mereka untuk dididik (atau --maaf---diasingkan kali ya...)

Thursday, January 01, 2004

Berbagi Ruang Keriangan


Laki-laki berjas hitam itu begitu teguh menarik tali sedetik demi sedetik, mengikuti gerak jarum jam di depannya. Setiap satu tarikan tali, satu bunyi lonceng terdengarkan. Ada monitor TV terpasang di atasnya, di batang bambu yang ikat, menampilkan gambar mulut semata-mata. Konon, dia akan seperti itu sampai tahun baru tiba. Tapi ketika kucari namanya di brosur, tak juga kutemukan tentang dia. Mungkin tak begitu terkenal.

TIM sangat ramai malam tadi. Ada penyanyi marawis "Al-Badru", anak-anak muda yang mempertontonkan Capoeira, sulap, lagu keroncong, pemain gitar jazz...

Saat menikmati melihat orang bermain komidi putar, seorang perempuan mendekatiku. Rasanya aku kenal dia, pernah beberapa kali bertemu, tapi dia juga sepertinya tidak mengenaliku.
Di panggung utama, seseorang tiba-tiba muncul membaca puisi. "Itu suamiku," katanya menunjuk ke atas panggung. Oh, aku ingat! Ternyata dia Mbak Nungki, dan laki-laki yang membaca puisi itu Bang Jose Rizal Manua...
"Sudah ke stand Cirebon?" tanyanya.
"Di mana, Mbak?" tanyaku. Dia menunjuk sebuah stand yang seperti terasing di keramaian. Sebuah tayuban kiranya.
"Nggak ada penontonnya. Kalah riuh sama suara panggung itu..."
...
"Kalau naik ini, rasanya jantungan saya." Katanya sambil menunjuk komidi putar yang perlahan berhenti berputar. Dua anak kecil turun dan mendekatinya. Mbak Nungki tertawa. Saya juga tertawa.
"Salam sama Cipta ya..." Dia menyebut nama seorang art director di tempatku bekerja.
"Insya Allah, akan saya sampaikan, Mbak." Lalu dia pergi, mungkin ke panggung utama, menonton suaminya membaca puisi.
...

Jam sepuluh lewat, kami sudah harus bergeser lagi. Kabarnya banjir masih menggenang di sebagian wilayah Jakarta di malam tahun baru ini. Di daerah Pedongkelan, Jakarta Timur, air menggenangi jalan sampai di atas lututku. Kendaraan mogok terjebak dalam banjir. Anak-anak muda mengambil kesempatan meminta upah dengan alasan telah membantu mendorong kendaraan mereka yang terjebak. Padahal yang mereka dorong tidak selalu motor atau mobil yang tak bisa maju. Aku melihat seorang gadis terkesiap saat pahanya diremas oleh puluhan anak-anak muda yang pura-pura membantu itu! Tak bisa protes atau berbuat apa-apa.
Rasanya ingin kutimpuk kepala mereka itu!

Pukul dua belas kurang seperempat, selesai mengambil gambar dan mewawancarai beberapa warga sekitar. Mesti balik lagi ke tempat ramai yang ada acara penghitungan mundurnya. Minta maaf pada driver yang kukotori jok mobilnya oleh jinsku yang basah sampai di atas lutut.
Kami lalu memutuskan kembali ke TIM, karena itu adalah tempat yang paling cepat yang bisa kami jangkau dalam lima belas menit sebelum tahun benar-benar berganti. Sepanjang jalan kami meniup terompet yang tadi kami beli seharga dua ribu rupiah. Riuh sekali. Dan jalanan jadi macet.

Sampai di TIM lagi, tengah malam sudah berlalu hampir setengah jam. Masih ada waktu untuk melakukan tugas mengumpulkan vox pop beberapa orang, dengan pertanyaan standar tahun baru:

Amanda (cewek funky, potongan anak band, agak-agak pirang) : "Semoga gak ada lagi perang. Piss. Dan gue bisa nyelesaiin skripsi gue tahun ini!"
Desy (cewek berkaca mata, tipe serius gitu...) : "Jangan ada bom lagi deh...."
Ibu Rosnila (berkerudung, usia sekitar 50 tahunan) : "...supaya kondisinya aman, tidak ada lagi penggusuran..."
Pak Lubis (tipikal bapak kepala keluarga, menggendong anak, datang sekeluarga) : "Orang-orang politik itu bisa lebih beres mengelola negara... Ekonomi keluarga saya bisa lebih mapanlah.."
Pak Suripto (tukang sate depan TIM) : "...--aku nggak nyimak dia ngomong apa, sibuk membereskan framing yang kacau balau. Tapi kalau gak salah dia ngomong tentang harga daging gitu deh pokoknya..--...)

====

Lalu sebuah panggilan telepon masuk:
"Di mana, Bang?"
"Masih di TIM, liputan. Kamu di mana?"
(Dia menyebut nama sebuah hotel bintang lima)
"Tapi di kamar aja..."
Suaranya parau, menandakan raganya yang lelah melalui hari yang lewat. Sekelompok orang yang disebutnya baik--tapi tidak peka itu telah mengeksploitasinya sedemikian rupa.
...
"Met tahun baru..."
"Met tahun baru juga..."
"Istirahat yang banyak ya, Adek..."
...
Klik. Telepon putus. Terasa ada yang hilang. Entah kenapa hari-hari belakangan ini aku begitu mengkhawatirkannya...

====

Di jalan pulang ke kantor, jalanan macet minta ampun. Di kursi belakang, kawanku masih betah meniup terompetnya keras-keras. Aku memeriksa kantong bajuku, mencari potongan kupon yang kuselipkan sembarangan tadi. Ada kupon makan lebih, dan rencananya akan kukasih ke Pak Oki, driver yang telah mengantar kami. Dengan menambah gopek, kupon itu bisa ditukar dengan tiga kotak susu ultra buat anak-anaknya di rumah nanti...

Ada juga undangan dari dua hotel berbintang yang mengadakan acara old and new, kukeluarkan dari kantongku. Dan brosur acara di TIM tadi, dengan tulisan di pojok bawahnya:
Selama ini kita telah memberi ruang berlebih pada kemarahan, kebencian dan dendam. Kita telah begitu asyik mengutuk, meratap, meradang, memaki dan mempermasalahkan. Barangkali, sekali waktu kita perlu memberi ruang bagi keriangan.

Selamat Tahun Baru, Kawan.
Semoga kita selalu bisa berbagi ruang keriangan...