tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, December 20, 2003

Sore, di Tanah Abang


Anak muda itu tertunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya. Rambutnya yang agak gondrong beriap-riap, basah. Baru saja dia dikeluarkan dari sel tempatnya dikurung seharian. Kami, yang datang sore itu, mungkin adalah yang kesekian memaksanya untuk diperiksa. Diperiksa yang berkali-kali.
Dia tidak sendiri. Ada satu orang lagi yang menemaninya. Tipikal penjahat beneran.
"Duduk di situ!" kata Pak Polisi.
Mereka berdua lalu duduk di kursi interogasi. Tampak takut-takut. Pak Polisi memasang kertas, lalu pura-pura mengetik.
...
"Mas, namanya siapa?" tanyaku sebelum Pak Polisi mulai bertanya.
"Rahmat bin Fajar."
"Kenapa sampai ngerampok?"

Mereka berdua adalah dua dari empat tersangka perampokan yang ditangkap di Senayan sore kemarin, setelah mencoba merampas hp dan memecahkan kaca samping mobil seorang cewek yang terjebak macet di arteri Pejompongan. Cewek itu luka, tapi masih sempat minta tolong. Dan tertangkaplah mereka itu!

"Kamu namanya siapa?" tanyaku pada si gondrong.
"Wawan, Pak." Dia menjawab sambil tetap menunduk.
"Wawan siapa"
"Wawan saja, Pak."
"Kamu udah sering ya?"
"Baru kali ini, Pak? Saya baru ketemu dia kemarin." Dia menunjuk Rahmat.
"Di mana?"
"Di diskotik, Pak."
"Kenapa mau diajak?"
"Butuh duit, buat pulang..."
"Pulang ke mana?"
"Ke Bandung, Pak. Saya baru dua hari di sini. Buat makan juga..."

Beberapa kali dia masih berusaha menutupi mukanya.
"Turunin tuh tangannya!" Pak Polisi tiba-tiba membentak. Refleks dia menurunkan tangannya, tidak lagi menutupi mukanya. Kupikir dia memang belum lama jadi perampok. Mukanya halus, tidak seperti perampok kebanyakan. Dan dia masih sangat muda sebenarnya.

"Di Bandung kamu kerja apa?"
"Saya jualan sepatu di Pasar Cicalengka..."
"Kamu kenapa gak terus jualan sepatu saja, daripada ngerampok..." kataku yang mungkin akan kutertawai seandainya aku di posisinya.
"Goblok dia! Baru sekali udah ketangkep!" kata Pak Polisi.

"Oi, turunin itu tangannya!" Ada lagi yang berteriak. Kali ini bukan Pak Polisi. Aku kaget dan mengangkat wajahku. Mata kami sempat bersiborok. Jangan begitu, Kawan, kataku dalam hati saja, Kita di sini bukan untuk ngebentak-bentak orang...

----

Turun ke bawah, seorang anak muda duduk di bagian depan sel, mencengkeram jeruji. Berpeci, tapi tidak berbaju.
"Dari TV mana, Mas?" tegurnya. Aku menyebut stasiun TV tempatku bekerja.
"Kamu kenapa bisa di situ? " tanyaku.
"Shabu, Mas..."
"Berapa?"
"Lapan gram."
Entah kenapa aku tertawa.
"Wah, gak bakal lama itu!" kataku.
Dia juga tertawa.

----

Di dalam mobil, sore lebih terasa indahnya. Menyusuri kawasan Tanah Abang, jalanan ramai tidak mempengaruhi kami yang diterpa AC. Orang-orang bergegas pulang, berpacu di atas kendaraan. Semuanya rindu keluarga, rindu rumah. Seperti kami.
...
"Penjahat gak boleh dibaik-baikin, Chan. Mesti dikasarin!" kata temanku itu, melanjutkan debat kami yang tertunda.
Entahlah, Kawan. Aku pikir, mereka boleh saja sakit hati, bonyok, bahkan berdarah-darah. Tapi jangan sampai itu karena mulut dan tanganku.
Begitulah. Rasanya aku telah terlalu lama mempertahankan yang sia-sia.