tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, December 15, 2003

Kepada Tuan Pembela Rakyat

Anggaplah ini bukan apa-apa. Hanya sebuah surat masturbasi yang tak perlu dikomentari terlalu jauh. Ditulis, dibaca, lalu ditertawai sendiri. Hanya saja melibatkanmu sebagai sosok yang tertuju.
Terima kasih banyak telah mengingatkan, Kawan. Bisa jadi rentang waktu panjang menuju pengayaan diri membuat kami alpa, lalai. Bahwa di sekitar kami banyak orang yang menderita, sementara kami di sini masih bisa tertawa-tawa sampai lupa diri.
Tentang bocah yang kau sebut gantung diri hanya karena lembaran ribuan itu, tarolah kami tahu. Seseorang dari kami pernah pernah menemuinya terbaring tak sadarkan diri di ranjangnya. Hanya saja... ya, hanya saja kami mungkin terlalu angkuh untuk menghayatinya sangat dalam. Kami bebal. Tidak seperti dirimu yang sangat welas asih....

Pada suatu hari lampau, seorang dari kami pernah menjadi sangat militan dan revolusioner sepertimu. Yah, mungkin tidak segagah dirimu, tapi bila kau berani membuka bajunya, mungkin masih akan kau temukan bekas luka di perutnya sebelah bawah. Itu upahnya dulu untuk memperjuangkan idea-nya agar orang miskin masih bisa makan. Tapi sekelompok fasis telah meninggalkan jejak kakinya di sana. Yang pasti bukan hitungan ekonomi untung rugi yang diamalkannya ketika melakukan itu. Ada sesuatu yang tak terkatakan tapi dirasakan menggerakkan kehidupannya.
Tapi itu dulu.
Sekarang zaman telah membawanya begitu jauh, menjadi seorang pengabdi kapitalis.

Suatu ketika dia pulang ke rumah dan mendapati adiknya yang paling kecil menangis --karena tak bisa minum susu. Dia terpukul, tapi sejak itu dia memutuskan memilih menjadi seorang buruh yang berkeringat, lecet, dan luka, ketimbang berjalan dengan muka mulus sembari berlindung di balik jargon idealisme. Seperti seorang peragawati busana musim panas dengan ornamen Nestor Paz di dadanya. Atau Che Guevara yang menjadi bintang iklan McD. Menjadi ikon bagi apa yang dia lawan.

Kawan kami itu, sedikit demi sedikit dia mulai mengumpulkan remah-remah uang, lalu ditabungnya. Sebagian dikirim ke orang tuanya di kampung. Niatnya, suatu hari nanti bila telah sedikit menggunung, akan dibawanya jalan ke mana dia suka; menuju matahari tenggelam.

Dan hari ini, si realis malang itu berkesempatan bermain-main komputer. Belajar nge-blog. Lalu dia dituduh tidak tahu diri karena menikmati kebahagiaan sederhana itu.
Sejatinya, dia sangat ingin menangis mengingat itu. Tapi dia sadar dia laki-laki. Dan tak boleh menangis.
Biarlah, kali ini gilirannya menjadi pengkhianat... betapapun itu menyakitkan.