tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, December 22, 2003

Home, Somewhere...


Kawan, malam ini aku ada cerita buatmu:
Ruang tamunya tidak seberapa luas, mungkin hanya satu setengah kali dua meter. Ketika aku masuk, istrinya segera melebarkan tikar pandan di lantai. Tidak ada kursi, apalagi sofa. Di dekat kami ada TV, menayangkan lagu dangdut, satu-satunya benda mewah di ruangan itu. Sebuah kalender bergambar perempuan berpakaian seksi tergantung di dinding tripleks, membatasi ruangan dengan kamar tidur di sebelahnya.
Lampu 5 watt menyala, menerangi dengan susah payah. Di tempat seperti ini, matahari benar-benar terbunuh. Tak ada celah yang bisa benar-benar terang.

Dan tahukah kamu, di mana istrinya memasak?
Di ruangan itu juga, di samping kami. Di tempat dia menerima tamu.
Ketika aku datang, istrinya sedang menggoreng sesuatu. Sebentar dia menghilang, lalu kembali dengan lima botol teh Sosro.
"Silakan diminum, Pak. Hanya ada ini..."
Aku tersenyum, menerimanya dengan perasaan yang berkecamuk. Aku tahu uang seharga lima botol teh Sosro itu pastilah sangat berharga bagi mereka!
...
Pak Bejo namanya, empat tahun lalu datang dari Semarang. Kulitnya hitam, berbadan besar, dan meliliti badannya dengan sarung.
"Maaf ya, saya lagi menggigil ini. Kalau tidak begini, Bapak pasti tidak ketemu saya. Sudah keluar kerja."
"Kerja di mana, Pak?" tanyaku.
Istrinya yang menjawab, "Di proyek. Pasang-pasang ubin begitu..."
...
"Secara resmi kami belum terima pemberitahuannya, tapi kabarnya awal bulan Januari sampai akhir April mungkin."
"Bapak sudah melakukan apa saja?"
"Banyak. Kami sudah bertemu Menkimpraswil, minta supaya kami jangan digusur. Kami cuma ingin bertahan. Judulnya kami ini kan orang miskin, jadi kami dianggap kumuh. Dituduh sebagai sarang penjahat. Padahal kan penjahat itu ada di mana-mana, bukan di sini saja."
"Ada perkembangan gak, Pak?"
"Ndak tau itu. Sutiyoso itu anggap kita penduduk tidak sah. Katanya semua yang pendatang itu liar. Padahal dia juga pendatang kok, bukan orang Jakarta asli. Eh, ngomong-ngomong ini diminumlah..."
"Iya, makasih, Pak." Aku menyeruput teh yang mulai kehilangan dingin itu.
"Kalau memang jadi, setelah bulan April, ndak tau mau tinggal di mana lagi kita..."

...
Menjelang siang, kami meninggalkan tempat yang bertahun-tahun dianggap Pak Bejo sebagai rumah itu. Tidak satu dua kali aku melalui daerah ini jika ingin pulang kampung. Tapi aku selalu lewat di jalan yang berbeda, di atasnya, di jalan layang yang menuju bandara Cengkareng itu. Tak pernah terpikirkan olehku jika ada ratusan keluarga mencoba bertahan hidup di bawah jembatan layang itu. Beranak pinak, membangun ruang sosialnya sendiri. Dan Pak Bejo ada di antara mereka.

Di dekat jalan keluar, seorang ibu tampak mengiris sayuran di kursi bambu, seperti di beranda sebuah rumah. Memberi senyum kepadaku.


Nah, Kawan, kalau bagian ini boleh kau lewatkan. Hanya aforisma. Suara dari alam bawah sadar. Mungkin tak begitu penting buatmu:

-------
Pada awalnya adalah maaf, jika aku selalu menganggapmu seperti anak kecil. Merecoki hidupmu, mempenetrasi ideologimu seakan-akan aku telah hidup banyak tahun sebelum kamu. Aku tahu, jalur hidup kita memang beda, sebagaimana selalu kau tertawai aku jika kubilang cita-citaku adalah ingin membuat semua orang bahagia-- setidaknya saat aku ada bersama mereka. Kamu bilang itu utopia. Aku juga bilang itu utopia, tapi tetap kuinginkan!

Aku yang terlalu pemimpi memang, mencoba mengenalkanmu pada kehidupan yang tak karib denganmu. Memalingkan matamu, berharap kamu terpesona pada remah-remah roti di luar di sana sementara di depanmu segelas Double Bailey's meruap begitu lezat.
Aku mengajakmu ke tempat-tempat berlumpur yang mengotori sepatumu. Membuatmu begadang hingga anemiamu kambuh...

Pada akhirnya juga adalah maaf, atas keinginan terdalam: memaksamu memahami keresahanku. Maafkan.


----
Nobody knows the troubles I see,
Nobody knows my sorrow...

(....kepada seorang nona kecil, yang datang dari dunia mimpi. Bergabung dalam barisan. Mencoba menjajari langkahnya. Seperti rel kereta api. Selamanya bersisian, bertemu di ujung jauh. Di fatamorgana.)