tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, December 01, 2003

Gerimis Malam Hari


Dia menghentikan pekerjaannya, lalu melongok keluar. Melalui kaca jendela dilihatnya titik-titik air jatuh beriringan, tak putus-putus. Gerimis. Beberapa tampak menempel di kaca, bersekutu dengan debu. Menyisakan jejak bagi tugas mulia para pekerja bergondola besok pagi.
Dia menggumam sebentar sebelum meninggalkan mejanya. Komputer dibiarkan tetap menyala. Biarlah, pikirnya, toh screensaver akan menyelamatkannya nanti.
Apa salahnya sedikit membangkang. Naskah-naskah itu bisa menunggu, tapi gerimis di malam hari tidak selalu dia bisa nikmati.
Setengah berlari dia menuju ke teras belakang, tempat segala mesin dan ac sentral berkuasa. Udara hangat menerpa tubuhnya ketika dia membuka pintu, mengusir dinginnya molekul 18 derajat celcius. Berdiam sebentar sebelum deru kipas raksasa menjadi akrab di telinganya.
Dari lantai 3 itu cukup banyak yang bisa kelihatan. Display hotel Maharaja tampak di kejauhan. Dia tertawa, mengenang Nanda dan Ahmed-- bintang utama BLA. Pernah dia menjadi pengedar keping vcd-nya dulu. Sebiji dua puluh lima ribu rupiah, dan laku lumayan banyak.
...
Deretan rumah-rumah. Menara dan kubah mesjid.
Gerimis masih betah. Turun satu-satu. Stabil dan terkontrol. Ada yang membentuk genangan di ubin yang tak rata, memantulkan cahaya dari lampu entah di mana.
...
Dia, seorang laki-laki tak berpendirian. Kesepian tapi selalu merasa ramai. Tidak yakin pada pilihan jalannya. Setahun lalu dia masihlah seorang mahasiswa biasa yang bebas berkelana kemana dia suka. Berbekal ransel butut dia pikir bisa menaklukan dunia. Tabungan kekecewaan yang luar biasa.
Semakin tinggi dia membangun tembok utopia-nya sendiri. Dunia sangat lucu, tak bisa dihadapi dengan terlalu serius, ternyata. Padahal dia terlanjur memberi janji, pada ujung tanah jauh di sana.
Tapi seberapa tinggi kau bisa terbang dengan sayap patahmu, Kawan?
...
Teringat dia pada sebuah rumah maya, berwarna hijau. When an adventurer get bored. Mungkin seperti itulah dia kini. Atau malah lebih parah: patah taji. Petualang patah taji!!
Dia tahu tujuan tak pernah jelas, tapi tetap saja dia melangkah. Padahal sejatinya dia ingin rebah di pangkuan seorang perempuan yang setia mengajarkannya mencintai hujan, juga langit sore. Entah kapan.
...
Jam setengah dua dini hari. Di ketinggian itu gerimis masih turun. Setia memukul bumi. Ada yang terasa sesak. Lalu dia tengadah memandang langit, mencoba mencari wajah itu di sana.



____________
::Coretan pagi-pagi, saat kantor mulai rame. Masuk hari pertama sehabis mudik. Salam-salaman: "maafin dosa-dosa gue yang lalu.. dan yang direncanakan". Cipika-cipiki. Semangat baru. Gairah baru. Ayo kerja, biar rating naik. Perusahaan B-E-P, gaji nambah. Dirut senang, pundak ditepuk.
Wah, pada cantik dan wangi-wangi semua. Jadi malu nih, di sepagi ini belum sempat mandi dan juga gosok gigi.