tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Tuesday, December 16, 2003

Edisi Stensilan


Tadi malam ada yang ulang tahun. Masih sangat muda sebenarnya, baru 2 tahun. Andaikata bayi manusia, baru tiba saatnya untuk disapih, berhenti menyusu. Tapi bayi satu ini aneh tak dinyana luar biasa-- maksudnya di-luar-dari-yang-biasa.

Peringatan hari jadinya meriah. Dihadiri artis-artis naik daun, gemerlapan semata-mata. Ada panggung raksasa ditanggap di depan rumahnya, dengan tata cahaya puluhan ribu watt. Orang-orang berseliweran wangi-wangi, dengan strata kecantikan dan ketampanan yang naik beberapa derajat dari biasanya.
Hei, lihatlah di jas Mas Budi dan Bang Divi, ada selingkaran bunga-bunga menghias di dadanya! Indah nian!
Dan jangan lupa pada pizza gratis.

Di lantai dasarnya ada live, Sheila on 7, Iwan Fals, Siti Nurhalisa, berganti-ganti bernyanyi. Tak ketinggalan pula Moluccas, Padi, Dewa.
Meriah.
Kegembiraan paripurna.

-----

Dua lagu dari terakhir, tiba-tiba Hadad Alwi muncul ke panggung dan menyanyi Al-I'tiraf. Penonton menjadi hening.
Ya, Allah, aku tak pantas ke surga-Mu, tapi juga tak mampu menerima neraka-Mu...

Seketika itu pula aku teringat pada stensilan porno yang sering aku baca waktu SMP dulu; selalu membuat tokoh utamanya mati di halaman terakhir. Tentu saja dengan maksud untuk menetralkan rasa bersalah pengarangnya atas apa yang telah ditulisnya di sekian puluh halaman sebelumnya.
Itulah tempat bagi kesadaran.
Hanya di halaman terakhir.

Eniwei, Selamat Ulang Tahun, Trans TV. Sekolahku kali ini...
Moga-moga tambah bijak dan ramah pada "sekrup-sekrup"-nya.