tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Wednesday, December 24, 2003

Di Katedral


Alhamdulillah, diberi kesempatan melihat satu lagi bukti kebesaran Allah. Itulah apa yang selama ini aku yakini sebagai keniscayaan keberagaman.
Malam ini aku tak menyangka akan menginjakkan kaki di Gereja Katedral. Seumur-umur ini pertama kali aku masuk ke dalam gereja, apalagi tepat pada saat ribuan orang melaksanakan misa Natal, ritual yang sangat sakral bagi umat Kristiani.

Penjagaan yang sangat ketat sempat menyulitkan aku dan Mira, reporterku, untuk masuk. Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam gereja, bahkan umat Kristiani sekalipun. Pemeriksaan berlapis, dari general check sampai yang pakai metal detector. Jemaat yang tidak tertampung, terpaksa ditempatkan di tenda di luar gereja.
Tapi akhirnya setelah melewati pemeriksaan panjang dan sedikit ngotot dengan petugas keamanan dalam --free pass kami ternyata telah dipakai orang lain yang mengaku dari stasiun TV kami-- oleh seorang ibu panitia, kami diantar masuk ke dalam gereja. Aku bahkan diperbolehkan mengambil gambar dari balkon.

--------
Aku dibesarkan dalam keluarga Islam yang taat, sehingga sampai usia belasan, dongeng tentang keberagaman adalah salah satu hal yang paling sulit untuk kupahami. Saat aku masih kecil, ibuku selalu mengecilkan volume pesawat TV bila TVRI menayangkan acara Mimbar Agama selain Islam. Ketakutan ibuku pada akhirnya bisa kupahami, bahwa keberagaman memang sesuatu yang sulit diterima, bahkan oleh orang dewasa sekalipun. Jangan bilang kerusuhan di Ambon dan Poso terjadi bukan karena perbedaan agama!

...
Syukurlah, seiring dengan usia yang menjadi tua, aku banyak diajarkan apa arti berbeda. Bahwa Allah memang menciptakan kita bersuku-suku, dengan ribuan ras, bermacam-macam bahasa. Kupikir, ini adalah sunnatullah. Dan betapa bersalahnya kita bila dengan itu kita merasa berhak menista sesama. Karena tak satu pun di antara kita yang bisa memilih ingin dilahirkan sebagai apa, dan dalam keadaan bagaimana...

Waba'du, semoga kedamaian menjadi titik akhir penghentian kita. Inilah saat yang tepat untuk mempertegas perbedaan keyakinan, tapi pada saat bersamaan mencoba membangun kesepahaman. Rasanya, jika tak berlebihan, itulah yang membuat hidup menjadi indah.

Selamat Natal dan Tahun Baru bagi semua teman yang merayakannya!