tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, December 12, 2003

Any dan Seorang Teman yang Lain

Hari ini, Any, calon dokter temanku yang lagi ko-as di sebuah rumah sakit di Makassar mengirimiku sebuah surat dengan tulisan tangan:
...
Ochan, Ingat tidak tulisanku tentang anak-anak yang di persimpangan Urip Sumiharjo itu?
Ini juga tentang anak-anak. Saya seminggu di divisi hematologi (bagian anak). Pasiennya banyak!!! Leukimia akut-kronik, thalassamia, tumor ginjal, hati kronik, terapinya obat-obatan sitistatika yang diinjeksi lewat tulang belakang dan off course dengan jarum yang lebih besar dari biasanya. Pengobatannya periodik, 1 sampai 2 siklus, every cycle including 7 seri, tiap minggu 2 seri. Total 7 minggu x 2 = 14 minggu.
Every cell ini our body kept reborn. One die, one born, growing up, be mature, being live and die. That's a cycle. Entah kenapa, menurut referensi -- faktor radiasi, genetik, idiopatik (tidak diketahui penyebabnya) pada beberapa orang/anak, terjadi kekacauan siklus. Akibatnya sel-sel tersebut tidak bisa benar-benar menjalankan fungsinya untuk menggerakkan kehidupan, dan jeleknya lagi sel-sel itu dikenali sebagai sel aneh yang harus dihancurkan. Timbullah RX (maksudnya reaksi kali ya?-) tubuh untuk menghancurkan benda asing (sel aneh) dan seluruh sistem yang menyertainya, misal sel pada sistem pernapasan, so all the tract system blown up. That's what we call "cancer".
Leukimia itu kanker darah , penyakit paling ganas yang pernah saya tahu. Komponen darah kan salah satunya sel: eritrosit, leukosit, trombosit. Eritrosit, sel darah merah pengangkut oksigen ke seluruh tubuh. U know-lah O2 itu essential sekali untuk kehidupan. Leukosit, sel darah putih. Analoginya sama dengan prajurit-prajurit di medan perang. Dia benteng pertahanan untuk tubuh kita kalau terpapar faktor infeksi (virus, bakteri, jamur). Leukosit is similar with imunity system. Begitu kita terpapar virus, bakteri, serta merta tubuh akan memproduksi leukosit sebanyak 2 x. Trombosit (keping darah) penting untuk mencegah pendarahan (faktor pembekuan).
Di leukimia, sel darah berkurang, baik itu kualitas maupun kuantitasnya. Pada saat seorang anak di-diagnosa menderita leukimia, bagi orang awam mungkin berpikir prognosis atau probabilitasnya untuk menjadi sembuh itu kecil. Tapi kita orang medis, we still have 'a hope' no matter what. Keep trying.
Tapi masalahnya bukan itu. Masalahnya adalah --kembali ke awal cerita (berliku-liku tapi mau mi diapa...)-- si anak harus menjalani terapi yang lama. Ochan, I wish you can see how suffer they are. The child itself and also their parents.
Ada Della, 2 tahun 4 bulan, yang harus di-intartekal (diinjeksikan obat sitostatik via perselubungan antara dua tulang belakang). Untuk mendapat posisi terbaik, badan dan kaki harus ditekuk rame-rame. Hampir gak ada bedanya dengan... menyembelih ayam!
Mungkin ini pelanggaran HAM ya? Orangtua yang menandatangani surat untuk ditindaki, tapi anak yang kesakitan, setiap minggu, karena belum menyadari keadaannya yang sakit parah terpaksa kehilangan kebebasannya untuk bahagia.
Apa bedanya dengan anak-anak yang di persimpangan itu, yang juga harus kehilangan kebebasannya untuk bahagia karena harus bekerja yang sebenarnya bukan kewajiban mereka?

Ada juga Mariadi, 4 tahun, tinggal di Maros, tempo hari dia berhasil melalui 1 siklus. Orangtuanya nangis luar biasa. Gado2 perasaannya katanya, bahagia karena he still alive, was-was juga karena melalui satu siklus tidak berarti sembuh benar-benar. Masih ada kemungkinan remisi/relapse (gejala berulang karena tubuh tidak responsif dengan pengobatan). Sedih juga karena anaknya betul-betul kesakitan. Pengalaman traumatik Mariadi setelah melalui satu siklus, mungkin terepresi, terpaksa untuk dia tekan. Suatu saat dia menjadi paranoid pada segala dokter, perawat, RS. Sekarang pun itu anak sudah antisosial. Dia takut dengan dokter. Dia juga stress! (anak-anak stress... waah, mereka belum matang kepribadiannya, mekanisme adaptasinya.)
Mariadi telah kehilangan keceriaannya. Anak-anak di persimpangan itu masih bisa bernyanyi, tertawa, berlari. Tapi Mariadi tidak. Mariadi punya orang tua atau keluarga yang bisa menjadi tempat melepaskan ketakutannya, kegelisahannya. Tapi anak-anak di persimpangan itu tidak punya...
Nyatalah, bahwa setiap orang memang dilahirkan dengan ceritanya masing-masing.


---

Penggalan surat --yang sebenarnya lebih mirip kuliah kedokteran-- dari Any itu, mau tidak mau mengingatkanku pada seorang teman yang lain. Seorang laki-laki, penabuh drum di sebuah band indie, penderita leukimia stadium 3! Kemarin tak sempat ketemu dia waktu dirawat beberapa lama di Dharmais.
Baru ketemu dia lagi tadi malam di Pintu 2 Kampus Unhas. Pertemuan tak disengaja, tapi karena tahu besoknya aku sudah harus balik ke Jakarta lagi, dia rela menemaniku begadang di penjual sarabba dan pisang goreng pinggir jalan sampai jam 2 pagi.
Aku tak pernah habis pikir semangat seperti apa yang bisa membuatnya bertahan begitu rupa.
"Dengan pengetahuannya, dokter memang bisa memberi batas seberapa lama saya bisa bertahan, tapi pada akhirnya tetap Allah yang punya kuasa, Chan.." katanya.
Tadi malam itu dia memang tampak semakin kurus, tapi tetap masih banyak tawa. Sering memang tiba-tiba seluruh badannya gemetar dan kedinginan, tapi dia masih bisa menunjukkan bekas suntikan serum di pergelangan tangannya seringan seperti seorang anak kecil menunjukkan gambar tato tempel. Dia contoh orang yang tak mau menyerah. Hampir tidak masuk akal, di tengah sakitnya itu, dia sempat-sempatnya bekerja di sebuah kilang minyak sampai sekarang!
Dan dengar apa katanya padaku tadi malam ketika akan berpisah, "Kamu jangan pernah takut pada apa pun, selama dia masih makhluk. Bila itu kamu lakukan, berarti Tuhanmu empat belas!"

Bro, rasanya tak bosan aku bilang ini: Tetap Semangat!!! (dengan tiga tanda seru)