tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Wednesday, December 31, 2003

Hari Ini, 2 Tahun yang Lalu



Senin, 31 Desember '01----
Bapak sudah diperbolehkan pulang ke rumah oleh dokter setelah dirawat 4 hari di rumah sakit. Alhamdulillah.
Setelah ini, banyak yang harus diperbaiki dalam hidup kami (sekali lagi: kami!). Terutama aku. Cara kami saling menghadapi dalam keluarga bisa jadi ada yang agak rancu. Tapi dari sana aku sadar bahwa tugas dari seluruh anggota keluarga adalah untuk saling menguatkan; dan bukan sekadar untuk saling melindungi saja, pada saat kita telanjang di dalamnya.

Menjadi keluarga adalah saling memberi kekuatan untuk tumbuh bersama, bukan sendiri-sendiri...

Sore hari menjelang maghrib hujan turun, kudengar adikku Fuadi bilang, "Kasihan penjual-penjual terompet itu, dagangan mereka pasti tidak laku kalau hujan terus turun..."
Ah, betapa bangganya aku menjadi kakaknya. Aku memiliki 3 orang adik yang humanis, dengan caranya masing-masing.
Ari, ketika bersamaku mencari nasi uduk buat Bapak, kuingatkan pada anak-anak kecil penjual balon di mana dia pernah kubawa bergaul. Dan Ari bilang kalau dia masih sering ketemu dengan "teman-temannya" itu.


----

Tak terasa, dua tahun berlalu. Selamat Ulang Tahun, Bapak.
Ingatkan aku. Itu mimpi belum semuanya selesai!

Tuesday, December 30, 2003

My Yearend Wishlist


No more...
No more...
No more...
No more...

Dua benda ini tak juga terbeli:
-Karrimor Ksb Sequoa Goretex (1814) Waterproof Trekking Boot
-Sleeping Bag


Moga-moga tahun depan udah bisa kebeli. Nunggu gaji ke-13!

Monday, December 29, 2003

Selamat Jalan, Bang Ersa....

Telah kau temui akhir penantianmu,
jawaban semesta pada pertanyaan tentang hakikat hidup.
Dari tanah, kembali menjadi tanah.
Karena hanya kepada-Nya kita akan berpulang.
Kita semua,
menunggu giliran.
Hanya masalah waktu....

Wednesday, December 24, 2003

Di Katedral


Alhamdulillah, diberi kesempatan melihat satu lagi bukti kebesaran Allah. Itulah apa yang selama ini aku yakini sebagai keniscayaan keberagaman.
Malam ini aku tak menyangka akan menginjakkan kaki di Gereja Katedral. Seumur-umur ini pertama kali aku masuk ke dalam gereja, apalagi tepat pada saat ribuan orang melaksanakan misa Natal, ritual yang sangat sakral bagi umat Kristiani.

Penjagaan yang sangat ketat sempat menyulitkan aku dan Mira, reporterku, untuk masuk. Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam gereja, bahkan umat Kristiani sekalipun. Pemeriksaan berlapis, dari general check sampai yang pakai metal detector. Jemaat yang tidak tertampung, terpaksa ditempatkan di tenda di luar gereja.
Tapi akhirnya setelah melewati pemeriksaan panjang dan sedikit ngotot dengan petugas keamanan dalam --free pass kami ternyata telah dipakai orang lain yang mengaku dari stasiun TV kami-- oleh seorang ibu panitia, kami diantar masuk ke dalam gereja. Aku bahkan diperbolehkan mengambil gambar dari balkon.

--------
Aku dibesarkan dalam keluarga Islam yang taat, sehingga sampai usia belasan, dongeng tentang keberagaman adalah salah satu hal yang paling sulit untuk kupahami. Saat aku masih kecil, ibuku selalu mengecilkan volume pesawat TV bila TVRI menayangkan acara Mimbar Agama selain Islam. Ketakutan ibuku pada akhirnya bisa kupahami, bahwa keberagaman memang sesuatu yang sulit diterima, bahkan oleh orang dewasa sekalipun. Jangan bilang kerusuhan di Ambon dan Poso terjadi bukan karena perbedaan agama!

...
Syukurlah, seiring dengan usia yang menjadi tua, aku banyak diajarkan apa arti berbeda. Bahwa Allah memang menciptakan kita bersuku-suku, dengan ribuan ras, bermacam-macam bahasa. Kupikir, ini adalah sunnatullah. Dan betapa bersalahnya kita bila dengan itu kita merasa berhak menista sesama. Karena tak satu pun di antara kita yang bisa memilih ingin dilahirkan sebagai apa, dan dalam keadaan bagaimana...

Waba'du, semoga kedamaian menjadi titik akhir penghentian kita. Inilah saat yang tepat untuk mempertegas perbedaan keyakinan, tapi pada saat bersamaan mencoba membangun kesepahaman. Rasanya, jika tak berlebihan, itulah yang membuat hidup menjadi indah.

Selamat Natal dan Tahun Baru bagi semua teman yang merayakannya!

Monday, December 22, 2003

Home, Somewhere...


Kawan, malam ini aku ada cerita buatmu:
Ruang tamunya tidak seberapa luas, mungkin hanya satu setengah kali dua meter. Ketika aku masuk, istrinya segera melebarkan tikar pandan di lantai. Tidak ada kursi, apalagi sofa. Di dekat kami ada TV, menayangkan lagu dangdut, satu-satunya benda mewah di ruangan itu. Sebuah kalender bergambar perempuan berpakaian seksi tergantung di dinding tripleks, membatasi ruangan dengan kamar tidur di sebelahnya.
Lampu 5 watt menyala, menerangi dengan susah payah. Di tempat seperti ini, matahari benar-benar terbunuh. Tak ada celah yang bisa benar-benar terang.

Dan tahukah kamu, di mana istrinya memasak?
Di ruangan itu juga, di samping kami. Di tempat dia menerima tamu.
Ketika aku datang, istrinya sedang menggoreng sesuatu. Sebentar dia menghilang, lalu kembali dengan lima botol teh Sosro.
"Silakan diminum, Pak. Hanya ada ini..."
Aku tersenyum, menerimanya dengan perasaan yang berkecamuk. Aku tahu uang seharga lima botol teh Sosro itu pastilah sangat berharga bagi mereka!
...
Pak Bejo namanya, empat tahun lalu datang dari Semarang. Kulitnya hitam, berbadan besar, dan meliliti badannya dengan sarung.
"Maaf ya, saya lagi menggigil ini. Kalau tidak begini, Bapak pasti tidak ketemu saya. Sudah keluar kerja."
"Kerja di mana, Pak?" tanyaku.
Istrinya yang menjawab, "Di proyek. Pasang-pasang ubin begitu..."
...
"Secara resmi kami belum terima pemberitahuannya, tapi kabarnya awal bulan Januari sampai akhir April mungkin."
"Bapak sudah melakukan apa saja?"
"Banyak. Kami sudah bertemu Menkimpraswil, minta supaya kami jangan digusur. Kami cuma ingin bertahan. Judulnya kami ini kan orang miskin, jadi kami dianggap kumuh. Dituduh sebagai sarang penjahat. Padahal kan penjahat itu ada di mana-mana, bukan di sini saja."
"Ada perkembangan gak, Pak?"
"Ndak tau itu. Sutiyoso itu anggap kita penduduk tidak sah. Katanya semua yang pendatang itu liar. Padahal dia juga pendatang kok, bukan orang Jakarta asli. Eh, ngomong-ngomong ini diminumlah..."
"Iya, makasih, Pak." Aku menyeruput teh yang mulai kehilangan dingin itu.
"Kalau memang jadi, setelah bulan April, ndak tau mau tinggal di mana lagi kita..."

...
Menjelang siang, kami meninggalkan tempat yang bertahun-tahun dianggap Pak Bejo sebagai rumah itu. Tidak satu dua kali aku melalui daerah ini jika ingin pulang kampung. Tapi aku selalu lewat di jalan yang berbeda, di atasnya, di jalan layang yang menuju bandara Cengkareng itu. Tak pernah terpikirkan olehku jika ada ratusan keluarga mencoba bertahan hidup di bawah jembatan layang itu. Beranak pinak, membangun ruang sosialnya sendiri. Dan Pak Bejo ada di antara mereka.

Di dekat jalan keluar, seorang ibu tampak mengiris sayuran di kursi bambu, seperti di beranda sebuah rumah. Memberi senyum kepadaku.


Nah, Kawan, kalau bagian ini boleh kau lewatkan. Hanya aforisma. Suara dari alam bawah sadar. Mungkin tak begitu penting buatmu:

-------
Pada awalnya adalah maaf, jika aku selalu menganggapmu seperti anak kecil. Merecoki hidupmu, mempenetrasi ideologimu seakan-akan aku telah hidup banyak tahun sebelum kamu. Aku tahu, jalur hidup kita memang beda, sebagaimana selalu kau tertawai aku jika kubilang cita-citaku adalah ingin membuat semua orang bahagia-- setidaknya saat aku ada bersama mereka. Kamu bilang itu utopia. Aku juga bilang itu utopia, tapi tetap kuinginkan!

Aku yang terlalu pemimpi memang, mencoba mengenalkanmu pada kehidupan yang tak karib denganmu. Memalingkan matamu, berharap kamu terpesona pada remah-remah roti di luar di sana sementara di depanmu segelas Double Bailey's meruap begitu lezat.
Aku mengajakmu ke tempat-tempat berlumpur yang mengotori sepatumu. Membuatmu begadang hingga anemiamu kambuh...

Pada akhirnya juga adalah maaf, atas keinginan terdalam: memaksamu memahami keresahanku. Maafkan.


----
Nobody knows the troubles I see,
Nobody knows my sorrow...

(....kepada seorang nona kecil, yang datang dari dunia mimpi. Bergabung dalam barisan. Mencoba menjajari langkahnya. Seperti rel kereta api. Selamanya bersisian, bertemu di ujung jauh. Di fatamorgana.)

Sunday, December 21, 2003

Internal Security Act


Banyak yang terasa lain dengan hari-hariku belakangan ini. Kejutan-kejutan kecil yang tak pernah terpikirkan, tak terbayangkan. Benarlah, di semesta ini kita tak lebih dari boneka dakocan, wayang tanpa kekuatan.
Aku pikir diriku kuat, dan akan terus bertahan untuk itu. Tapi sampai kapan? Dan seberapa kuat?
...
Allah, sungguh aku takut dengan semua ini. Aku takut pada dosa yang tak Kau ampuni, pada do'a yang tak Kau dengar, pada nafsu yang tak berbatas. Pada keinginan-keinginan.
Kuatkan ya, Allah... Kuatkanlah...

---ini aku tulis untuk sekadar memperkuat diri melewati hari-hari yang "berat" ini. Terasa sekali aku tak bisa berbuat apa-apa.
Patok-patok hidupku yang aneh!
Bayang-bayang jahiliyah...
Ah, jiwa yang lemah ini!

Saturday, December 20, 2003

Sore, di Tanah Abang


Anak muda itu tertunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya. Rambutnya yang agak gondrong beriap-riap, basah. Baru saja dia dikeluarkan dari sel tempatnya dikurung seharian. Kami, yang datang sore itu, mungkin adalah yang kesekian memaksanya untuk diperiksa. Diperiksa yang berkali-kali.
Dia tidak sendiri. Ada satu orang lagi yang menemaninya. Tipikal penjahat beneran.
"Duduk di situ!" kata Pak Polisi.
Mereka berdua lalu duduk di kursi interogasi. Tampak takut-takut. Pak Polisi memasang kertas, lalu pura-pura mengetik.
...
"Mas, namanya siapa?" tanyaku sebelum Pak Polisi mulai bertanya.
"Rahmat bin Fajar."
"Kenapa sampai ngerampok?"

Mereka berdua adalah dua dari empat tersangka perampokan yang ditangkap di Senayan sore kemarin, setelah mencoba merampas hp dan memecahkan kaca samping mobil seorang cewek yang terjebak macet di arteri Pejompongan. Cewek itu luka, tapi masih sempat minta tolong. Dan tertangkaplah mereka itu!

"Kamu namanya siapa?" tanyaku pada si gondrong.
"Wawan, Pak." Dia menjawab sambil tetap menunduk.
"Wawan siapa"
"Wawan saja, Pak."
"Kamu udah sering ya?"
"Baru kali ini, Pak? Saya baru ketemu dia kemarin." Dia menunjuk Rahmat.
"Di mana?"
"Di diskotik, Pak."
"Kenapa mau diajak?"
"Butuh duit, buat pulang..."
"Pulang ke mana?"
"Ke Bandung, Pak. Saya baru dua hari di sini. Buat makan juga..."

Beberapa kali dia masih berusaha menutupi mukanya.
"Turunin tuh tangannya!" Pak Polisi tiba-tiba membentak. Refleks dia menurunkan tangannya, tidak lagi menutupi mukanya. Kupikir dia memang belum lama jadi perampok. Mukanya halus, tidak seperti perampok kebanyakan. Dan dia masih sangat muda sebenarnya.

"Di Bandung kamu kerja apa?"
"Saya jualan sepatu di Pasar Cicalengka..."
"Kamu kenapa gak terus jualan sepatu saja, daripada ngerampok..." kataku yang mungkin akan kutertawai seandainya aku di posisinya.
"Goblok dia! Baru sekali udah ketangkep!" kata Pak Polisi.

"Oi, turunin itu tangannya!" Ada lagi yang berteriak. Kali ini bukan Pak Polisi. Aku kaget dan mengangkat wajahku. Mata kami sempat bersiborok. Jangan begitu, Kawan, kataku dalam hati saja, Kita di sini bukan untuk ngebentak-bentak orang...

----

Turun ke bawah, seorang anak muda duduk di bagian depan sel, mencengkeram jeruji. Berpeci, tapi tidak berbaju.
"Dari TV mana, Mas?" tegurnya. Aku menyebut stasiun TV tempatku bekerja.
"Kamu kenapa bisa di situ? " tanyaku.
"Shabu, Mas..."
"Berapa?"
"Lapan gram."
Entah kenapa aku tertawa.
"Wah, gak bakal lama itu!" kataku.
Dia juga tertawa.

----

Di dalam mobil, sore lebih terasa indahnya. Menyusuri kawasan Tanah Abang, jalanan ramai tidak mempengaruhi kami yang diterpa AC. Orang-orang bergegas pulang, berpacu di atas kendaraan. Semuanya rindu keluarga, rindu rumah. Seperti kami.
...
"Penjahat gak boleh dibaik-baikin, Chan. Mesti dikasarin!" kata temanku itu, melanjutkan debat kami yang tertunda.
Entahlah, Kawan. Aku pikir, mereka boleh saja sakit hati, bonyok, bahkan berdarah-darah. Tapi jangan sampai itu karena mulut dan tanganku.
Begitulah. Rasanya aku telah terlalu lama mempertahankan yang sia-sia.

Friday, December 19, 2003

Waktunya Berkhayal!


Suatu hari nanti aku berharap ada seorang editor buku yang akan menulis riwayat hidupku seperti ini:

Ochan is a journalist, filmmaker, adventurer, and mountaineer whose work has taken him to remote locations throughout Tibet, China, Nepal, India, Pakistan, South America, and East Africa. He has worked on such feature films as One Thousand Years of Solitude and On the Last Breathe, and the co-produced the award-winning documentary Point of No Return. In the 2004 he transmitted live pictures from the summit of Mount Everest and in 2005 became the first Indonesian to twice reach its summit. He is the recipient of four Emmy award for achievement in cinematography. In 2010 he codirected, photographed, and coproduced the acclaimed large-format film Karakoram and contributed his still photos from that climb to bestselling book My Name is Nameless Tower. In 2014 he produced and photographed "Everest: The Death Calling for the PBS science series, marking his fourth ascent of the world's highest mountain. When not climbing, Ochan resides in Makassar or Jakarta, Indonesia.

Gubrak!!!
Waktunya sadar!

ps. tulisan ini dibuat dengan banyak ingatan pada David Breashears, seorang cameraman pemberani. Berharap suatu hari nanti bisa seperti dia, dengan pencapaian tertinggi dalam arti kiasan dan sebenarnya.

Wednesday, December 17, 2003

Jus Poligami

Kebenaran hari ini tidak lagi selalu berhadapan frontal dengan ketidakbenaran, seperti di film-film India. Tapi kebenaran satu sisi justru melawan kebenaran yang lain.
Entahlah, rasanya memang ada banyak kebenaran yang terlalu dihayati dengan membabi buta. Kebenaran anutan kita yang menyakiti dan menistakan orang lain. Bom meledak dan merampas hak hidup ratusan orang diatasnamakan kebenaran, dengan cap Tuhan. Aku tak habis pikir, bagaimana seseorang bisa merasa sebagai kalifah Allah sementara tangannya dengan begitu mudah mengalirkan darah orang yang tak sedikitpun pernah menyakitinya. Entah, apanya yang salah.
Aneh. Di negara ini bahkan persoalan tapal batas kampung bisa membuat orang saling bunuh. Padahal tanah tidak dibawa mati!

Eh, btw ada yang sudah pernah coba Jus Poligami di Rumah Makan Wong Solo, belom?
Rasanya seperti namanya: tidak bisa menentukan dengan pasti.
:p

Tuesday, December 16, 2003

Edisi Stensilan


Tadi malam ada yang ulang tahun. Masih sangat muda sebenarnya, baru 2 tahun. Andaikata bayi manusia, baru tiba saatnya untuk disapih, berhenti menyusu. Tapi bayi satu ini aneh tak dinyana luar biasa-- maksudnya di-luar-dari-yang-biasa.

Peringatan hari jadinya meriah. Dihadiri artis-artis naik daun, gemerlapan semata-mata. Ada panggung raksasa ditanggap di depan rumahnya, dengan tata cahaya puluhan ribu watt. Orang-orang berseliweran wangi-wangi, dengan strata kecantikan dan ketampanan yang naik beberapa derajat dari biasanya.
Hei, lihatlah di jas Mas Budi dan Bang Divi, ada selingkaran bunga-bunga menghias di dadanya! Indah nian!
Dan jangan lupa pada pizza gratis.

Di lantai dasarnya ada live, Sheila on 7, Iwan Fals, Siti Nurhalisa, berganti-ganti bernyanyi. Tak ketinggalan pula Moluccas, Padi, Dewa.
Meriah.
Kegembiraan paripurna.

-----

Dua lagu dari terakhir, tiba-tiba Hadad Alwi muncul ke panggung dan menyanyi Al-I'tiraf. Penonton menjadi hening.
Ya, Allah, aku tak pantas ke surga-Mu, tapi juga tak mampu menerima neraka-Mu...

Seketika itu pula aku teringat pada stensilan porno yang sering aku baca waktu SMP dulu; selalu membuat tokoh utamanya mati di halaman terakhir. Tentu saja dengan maksud untuk menetralkan rasa bersalah pengarangnya atas apa yang telah ditulisnya di sekian puluh halaman sebelumnya.
Itulah tempat bagi kesadaran.
Hanya di halaman terakhir.

Eniwei, Selamat Ulang Tahun, Trans TV. Sekolahku kali ini...
Moga-moga tambah bijak dan ramah pada "sekrup-sekrup"-nya.

Monday, December 15, 2003

Kepada Tuan Pembela Rakyat

Anggaplah ini bukan apa-apa. Hanya sebuah surat masturbasi yang tak perlu dikomentari terlalu jauh. Ditulis, dibaca, lalu ditertawai sendiri. Hanya saja melibatkanmu sebagai sosok yang tertuju.
Terima kasih banyak telah mengingatkan, Kawan. Bisa jadi rentang waktu panjang menuju pengayaan diri membuat kami alpa, lalai. Bahwa di sekitar kami banyak orang yang menderita, sementara kami di sini masih bisa tertawa-tawa sampai lupa diri.
Tentang bocah yang kau sebut gantung diri hanya karena lembaran ribuan itu, tarolah kami tahu. Seseorang dari kami pernah pernah menemuinya terbaring tak sadarkan diri di ranjangnya. Hanya saja... ya, hanya saja kami mungkin terlalu angkuh untuk menghayatinya sangat dalam. Kami bebal. Tidak seperti dirimu yang sangat welas asih....

Pada suatu hari lampau, seorang dari kami pernah menjadi sangat militan dan revolusioner sepertimu. Yah, mungkin tidak segagah dirimu, tapi bila kau berani membuka bajunya, mungkin masih akan kau temukan bekas luka di perutnya sebelah bawah. Itu upahnya dulu untuk memperjuangkan idea-nya agar orang miskin masih bisa makan. Tapi sekelompok fasis telah meninggalkan jejak kakinya di sana. Yang pasti bukan hitungan ekonomi untung rugi yang diamalkannya ketika melakukan itu. Ada sesuatu yang tak terkatakan tapi dirasakan menggerakkan kehidupannya.
Tapi itu dulu.
Sekarang zaman telah membawanya begitu jauh, menjadi seorang pengabdi kapitalis.

Suatu ketika dia pulang ke rumah dan mendapati adiknya yang paling kecil menangis --karena tak bisa minum susu. Dia terpukul, tapi sejak itu dia memutuskan memilih menjadi seorang buruh yang berkeringat, lecet, dan luka, ketimbang berjalan dengan muka mulus sembari berlindung di balik jargon idealisme. Seperti seorang peragawati busana musim panas dengan ornamen Nestor Paz di dadanya. Atau Che Guevara yang menjadi bintang iklan McD. Menjadi ikon bagi apa yang dia lawan.

Kawan kami itu, sedikit demi sedikit dia mulai mengumpulkan remah-remah uang, lalu ditabungnya. Sebagian dikirim ke orang tuanya di kampung. Niatnya, suatu hari nanti bila telah sedikit menggunung, akan dibawanya jalan ke mana dia suka; menuju matahari tenggelam.

Dan hari ini, si realis malang itu berkesempatan bermain-main komputer. Belajar nge-blog. Lalu dia dituduh tidak tahu diri karena menikmati kebahagiaan sederhana itu.
Sejatinya, dia sangat ingin menangis mengingat itu. Tapi dia sadar dia laki-laki. Dan tak boleh menangis.
Biarlah, kali ini gilirannya menjadi pengkhianat... betapapun itu menyakitkan.

Sunday, December 14, 2003

Merayakan Kezaliman


...seorang tua yang lelah,
menyerah pada nasibnya...
--sesuatu harus menyingkirkan sesuatu.

Friday, December 12, 2003

Any dan Seorang Teman yang Lain

Hari ini, Any, calon dokter temanku yang lagi ko-as di sebuah rumah sakit di Makassar mengirimiku sebuah surat dengan tulisan tangan:
...
Ochan, Ingat tidak tulisanku tentang anak-anak yang di persimpangan Urip Sumiharjo itu?
Ini juga tentang anak-anak. Saya seminggu di divisi hematologi (bagian anak). Pasiennya banyak!!! Leukimia akut-kronik, thalassamia, tumor ginjal, hati kronik, terapinya obat-obatan sitistatika yang diinjeksi lewat tulang belakang dan off course dengan jarum yang lebih besar dari biasanya. Pengobatannya periodik, 1 sampai 2 siklus, every cycle including 7 seri, tiap minggu 2 seri. Total 7 minggu x 2 = 14 minggu.
Every cell ini our body kept reborn. One die, one born, growing up, be mature, being live and die. That's a cycle. Entah kenapa, menurut referensi -- faktor radiasi, genetik, idiopatik (tidak diketahui penyebabnya) pada beberapa orang/anak, terjadi kekacauan siklus. Akibatnya sel-sel tersebut tidak bisa benar-benar menjalankan fungsinya untuk menggerakkan kehidupan, dan jeleknya lagi sel-sel itu dikenali sebagai sel aneh yang harus dihancurkan. Timbullah RX (maksudnya reaksi kali ya?-) tubuh untuk menghancurkan benda asing (sel aneh) dan seluruh sistem yang menyertainya, misal sel pada sistem pernapasan, so all the tract system blown up. That's what we call "cancer".
Leukimia itu kanker darah , penyakit paling ganas yang pernah saya tahu. Komponen darah kan salah satunya sel: eritrosit, leukosit, trombosit. Eritrosit, sel darah merah pengangkut oksigen ke seluruh tubuh. U know-lah O2 itu essential sekali untuk kehidupan. Leukosit, sel darah putih. Analoginya sama dengan prajurit-prajurit di medan perang. Dia benteng pertahanan untuk tubuh kita kalau terpapar faktor infeksi (virus, bakteri, jamur). Leukosit is similar with imunity system. Begitu kita terpapar virus, bakteri, serta merta tubuh akan memproduksi leukosit sebanyak 2 x. Trombosit (keping darah) penting untuk mencegah pendarahan (faktor pembekuan).
Di leukimia, sel darah berkurang, baik itu kualitas maupun kuantitasnya. Pada saat seorang anak di-diagnosa menderita leukimia, bagi orang awam mungkin berpikir prognosis atau probabilitasnya untuk menjadi sembuh itu kecil. Tapi kita orang medis, we still have 'a hope' no matter what. Keep trying.
Tapi masalahnya bukan itu. Masalahnya adalah --kembali ke awal cerita (berliku-liku tapi mau mi diapa...)-- si anak harus menjalani terapi yang lama. Ochan, I wish you can see how suffer they are. The child itself and also their parents.
Ada Della, 2 tahun 4 bulan, yang harus di-intartekal (diinjeksikan obat sitostatik via perselubungan antara dua tulang belakang). Untuk mendapat posisi terbaik, badan dan kaki harus ditekuk rame-rame. Hampir gak ada bedanya dengan... menyembelih ayam!
Mungkin ini pelanggaran HAM ya? Orangtua yang menandatangani surat untuk ditindaki, tapi anak yang kesakitan, setiap minggu, karena belum menyadari keadaannya yang sakit parah terpaksa kehilangan kebebasannya untuk bahagia.
Apa bedanya dengan anak-anak yang di persimpangan itu, yang juga harus kehilangan kebebasannya untuk bahagia karena harus bekerja yang sebenarnya bukan kewajiban mereka?

Ada juga Mariadi, 4 tahun, tinggal di Maros, tempo hari dia berhasil melalui 1 siklus. Orangtuanya nangis luar biasa. Gado2 perasaannya katanya, bahagia karena he still alive, was-was juga karena melalui satu siklus tidak berarti sembuh benar-benar. Masih ada kemungkinan remisi/relapse (gejala berulang karena tubuh tidak responsif dengan pengobatan). Sedih juga karena anaknya betul-betul kesakitan. Pengalaman traumatik Mariadi setelah melalui satu siklus, mungkin terepresi, terpaksa untuk dia tekan. Suatu saat dia menjadi paranoid pada segala dokter, perawat, RS. Sekarang pun itu anak sudah antisosial. Dia takut dengan dokter. Dia juga stress! (anak-anak stress... waah, mereka belum matang kepribadiannya, mekanisme adaptasinya.)
Mariadi telah kehilangan keceriaannya. Anak-anak di persimpangan itu masih bisa bernyanyi, tertawa, berlari. Tapi Mariadi tidak. Mariadi punya orang tua atau keluarga yang bisa menjadi tempat melepaskan ketakutannya, kegelisahannya. Tapi anak-anak di persimpangan itu tidak punya...
Nyatalah, bahwa setiap orang memang dilahirkan dengan ceritanya masing-masing.


---

Penggalan surat --yang sebenarnya lebih mirip kuliah kedokteran-- dari Any itu, mau tidak mau mengingatkanku pada seorang teman yang lain. Seorang laki-laki, penabuh drum di sebuah band indie, penderita leukimia stadium 3! Kemarin tak sempat ketemu dia waktu dirawat beberapa lama di Dharmais.
Baru ketemu dia lagi tadi malam di Pintu 2 Kampus Unhas. Pertemuan tak disengaja, tapi karena tahu besoknya aku sudah harus balik ke Jakarta lagi, dia rela menemaniku begadang di penjual sarabba dan pisang goreng pinggir jalan sampai jam 2 pagi.
Aku tak pernah habis pikir semangat seperti apa yang bisa membuatnya bertahan begitu rupa.
"Dengan pengetahuannya, dokter memang bisa memberi batas seberapa lama saya bisa bertahan, tapi pada akhirnya tetap Allah yang punya kuasa, Chan.." katanya.
Tadi malam itu dia memang tampak semakin kurus, tapi tetap masih banyak tawa. Sering memang tiba-tiba seluruh badannya gemetar dan kedinginan, tapi dia masih bisa menunjukkan bekas suntikan serum di pergelangan tangannya seringan seperti seorang anak kecil menunjukkan gambar tato tempel. Dia contoh orang yang tak mau menyerah. Hampir tidak masuk akal, di tengah sakitnya itu, dia sempat-sempatnya bekerja di sebuah kilang minyak sampai sekarang!
Dan dengar apa katanya padaku tadi malam ketika akan berpisah, "Kamu jangan pernah takut pada apa pun, selama dia masih makhluk. Bila itu kamu lakukan, berarti Tuhanmu empat belas!"

Bro, rasanya tak bosan aku bilang ini: Tetap Semangat!!! (dengan tiga tanda seru)

Trouble #1

Baru saja bangun tidur waktu sms dari Piyo masuk.
Udin di RS Wahidin, mukanya bengap, tulang hidungnya patah. Dia dikeroyok mahasiswa Teknik saat menjenguk temannya yang luka karena tawuran di UGD.
Bangsat! Banci! Bisanya main keroyokan!
Sori, Bro, aku gak bisa menjengukmu. Aku sudah di Jakarta lagi.
Padahal kemarin sore aku ketemu dia saat melintas di lapangan Fakultas Teknik. Dan semuanya masih sangat aman sentosa.
...
Din, kamu boleh ingat ini, aku janji, suatu hari nanti kita akan bikin "silaturrahmi" dengan mereka yang sudah bikin wajahmu tak beraturan begitu!

... (lagi)

Whoaammmmm!
Silau!!!

Sunday, December 07, 2003

...

Sepertinya ini tempat terakhir aku bisa bermain-main dengan teknologi.
Dua jam lagi sudah harus bergeser beberapa derajat di lintang bumi, menuju sebuah kota yang di dalam peta tak pernah tertulis dengan huruf besar.

Anyway, it's time to be on my way again.
Mama, I'll be home soon...
Aku rindu ingin menghitung uban di rambutmu, pasti tidak sebanyak itu saat kutinggalkan rumah pertama kali.

Thursday, December 04, 2003

Bright Morning

not really bright morning,
and works still turn my head on
just wanna try to get little escape
from this beloved jail,
for a while.
Maybe, there's happy land somewhere...
I see you there.

Wednesday, December 03, 2003

Bonus Pagi Hari


Mas EP mulai buka suara, "Coba jelaskan kenapa bisa seperti itu?"
Di pagi itu pun kami dikumpulkan. Dan kami berdua adalah terdakwa.
Mas Eksekutif Produser, Mas AsProd, Mas Presenter, dan dua PA --itulah aku dan Rozak, duduk melingkar berhadapan, kecuali Mas Budi --presenter, yang duduk agak ke belakang.
Rozak bicara sedikit. Sementara aku bertahan tetap diam. Dari pengalaman lalu-lalu, tak ada gunanya membela diri dalam kondisi seperti ini. Dan memang betul.
Secepat Rozak mengakhiri kalimatnya, Mas EP --yang di-amin-kan secara khidmat oleh Mas AsProd-- secepat itu pula meneruskan dakwaannya.
"Saya tidak bisa menerima excuse apa pun. Apapun alasanmu, toh semuanya sudah berantakan. Seperti orang berperang, gak ada itu excuse-excuse-an. Kena tembak, ya mati kamu! Maaf juga tidak berlaku di sini. Ini medan perang. Kamu tidak boleh bilang, maaf saya tidak punya peluru. Ketembak kamu! Mati kamu!"
Tidak seperti biasa kalo dimarahin produser, kali ini aku jadi tidak tega cengengesan.

...
Pagi ini, sarapanku memang agak lain dari biasanya. Stress tingkat tinggi. On-air hari ini berantakan. File missing di server, media-id gak ada, kaset masih di luar saat siaran sudah mulai, bumper sempat freeze beberapa saat, karena berita segmen satu kosong, dan harus menarik berita segmen dua naik ke atas!
Tentu saja rentetan peristiwa sedemikian itu bisa membuat produser dan asprod di stasiun TV manapun jadi naik darah.
...
Aku lagi asyik membandingkan rundown berita pagi RCTI dan SCTV saat aku dengar Mas AsProd teriak-teriak. "Bagaimana mau siaran, kasetnya pada gak ada! Hancur!Segmen dua-ku hancur, Mas...!"
Ternyata yang hancur bukan segmen dua saja, bisa dibilang semuanya!
Ujung-ujungnya, kami lah yang kena getahnya. Sebagai PA (Production Assistant) memang tak ada lagi posisi di bawah kami yang bisa dipersalahkan kalau terjadi trouble seperti ini. Ketidakbecusan kerja berakhir di level kami. Makanya pada saat duduk melingkar di briefeng evaluasi, jawaban atas pertanyaan "kenapa bisa seperti itu?" dibebankan ke mulut kami.

Minggu ini memang tampaknya minggu yang kejam bagiku. Setelah lama tidak melakukan tugas mulia sebagai PA, minggu ini aku harus menjalaninya lagi. Itu karena hampir dua pertiga SDM di lantai ini dikerahkan untuk mensukseskan arus mudik tahun ini, jadi populasi manusia menjadi begitu jarang. Dengan Rozak pula, yang sebelumnya diposkan di Fenomena--dan belum berpengalaman menangani flow berita pagi yang asli menggetarkan jiwa. Hwaawwwwwwwww...

Sejatinya, aku lebih senang tugas luar kantor daripada di BKO-kan seperti ini. Meskipun tanggung jawabnya sama-sama berat. Setidaknya kalo liputan malam di luar, masih bisa tidur di perjalanan kalo ngantuk, atau singgah di Blok M kalo tidak di Sunda Kelapa.
Kalo jadi PA malam, terus terang badan agak sedikit terzalimi. Dalam 2 x 24 jam terakhir ini, tidurku nggak sampai 5 jam. Rozak lain lagi, sudah tiga hari ini dia tidak bisa makan nasi, katanya....

Nanti malam kami berdua masih tugas PA, dan Mas EP sudah mewanti-wanti. Tak ada toleransi kalau masih kejadian seperti itu lagi!

Oh ya, kayaknya untuk sementara mulai besok sudah gak bisa postingan lagi nih. Aku ada niat memanfaatkan compday-ku (bonus hari libur karena masuk kerja di hari libur lain. Kalo kerja pas hari raya, liburnya bisa diganti di hari lain. Atau misalnya jadwal kita libur dan sedang leyeh-leyeh di rumah, tapi karena ada peristiwa penting yang harus diliput, bos berhak meminta kita untuk masuk kantor dan bekerja. Nanti liburnya bisa di ganti lain hari. Nah, di kantorku, itulah yang disebut compday).
Aku sebenarnya sudah mengumpulkan banyak compday, tapi yang legal formal di komputer AE hanya empat hari. Itupun sudah cukup aku syukuri. Kalo dimenej, empat hari itu bisa melar sampai sembilan atau sepuluh hari. Lumayanlah, bisa sedikit mendinginkan otak dari kekejaman deadline dan rush hour.
Jadi kangen pengen jalan lagi. Ada yang mau ikut?

Eh, makasih banyak buat Mbak Tira dan Ibu Syl yang telah menyempatkan waktunya mengobati kecacatan blog-ku ini di sela hari-harinya yang padat, dan membuatnya jadi lebih cantik dibanding sebelumnya. Juga untuk respon teman-teman yang progress. Makasih saja kayaknya gak bakal cukup!
Tetap Semangat.

Tuesday, December 02, 2003

Puisi Pengantar Bobo

Ngantuk berat, habis makan indomie dobel.
mau balik ke kosan, tanggung.
mending tidur aja di sini sekalian.
ntar dikasih satu kupon.
special event, bisa dipake kapan saja.
Asal gak lewat satu minggu.
Satu kupon dua pocari + Rp1000,-
Kalo susu ultra, dapat 3 + gopek.
Chicken katsu juga boleh, dapat bonus sepasang sumpit.
Kalo kagok, boleh minta sendok.
...
Tadi pagi ada trouble.
Berita hilang satu.
Keselip di rundown, dikira udah diedit, ternyata belum diprint.
Rozak panik.
Kaset belum di-injest. Editor marah-marah.
Ngomong jorok: diancuk, asu, dan sebagainya. Fasih sekali.
Hampir kupukul, untung ingat masih syawal.
Gak boleh bikin dosa terlalu banyak.
Lagipula aku maklum dia capek.
Kita semua sama-sama capek. Belum tidur sedikitpun.
Sudahlah. Mohon maaf lahir batin.
...
Mbak presenter rambutnya makin oke.
Dikasih warna kayak kuning telur.
Seolah-olah di bawah matahari melulu.
Atau dikasih hairlight.
Tiada kemilau seindah Rinso.
Sekaligus bisa menghilangkan lemak.
...
Ada yang pusing di ujung sana.
Ngecek rekening gaji, sudah berkurang sepertiganya.
Gak jadi beli DVD Slim merk Philips + Ericsson R250 Pro.
Dipotong beli weker kemarin, dan juga jaket.
Di sini dinginnya minta ampun. 18-20 derajat celsius.
Lebih dari itu supervisor marah-marah. Bisa merusak alat katanya.
...
Lihatlah di sana. Ada peringatan di tempel.
Hati2, di ruangan ini sudah 5 orang yang sakit.
Penyakitnya sama; radang paru-paru kalo gak asma.
Maka dari itu dilarang merokok.
Kalo melanggar disambit ramai-ramai.
Jagalah kesehatan janin dan kandunganmu.
kalo mau merokok di teras, atau di tangga darurat.
Sore-sore pada ngumpul semua di situ. Asap-asapan.
Mbak-mbak presenter juga, ikut-ikutan ngerokok.
katanya bagus, buat bikin berat suara.
Kedengaran berwibawa dan disukai khalayak ramai.
...
Ada Pak Gus Dur juga di ruang make-up.
Mau dishooting untuk acara dialog.
Mengenai permasalahan bangsa dewasa ini.
Pura-puranya kasih solusi. Habis itu ketawa-ketawa.
...
Eh, turut berduka cita,
atas menikahnya idola tercinta.
Ine Febrianti dewi selebriti.
Setelah itu Riyanni Djangkaru akan menyusul.
Patah hatilah aku berkepanjangan....

Monday, December 01, 2003

Gerimis Malam Hari


Dia menghentikan pekerjaannya, lalu melongok keluar. Melalui kaca jendela dilihatnya titik-titik air jatuh beriringan, tak putus-putus. Gerimis. Beberapa tampak menempel di kaca, bersekutu dengan debu. Menyisakan jejak bagi tugas mulia para pekerja bergondola besok pagi.
Dia menggumam sebentar sebelum meninggalkan mejanya. Komputer dibiarkan tetap menyala. Biarlah, pikirnya, toh screensaver akan menyelamatkannya nanti.
Apa salahnya sedikit membangkang. Naskah-naskah itu bisa menunggu, tapi gerimis di malam hari tidak selalu dia bisa nikmati.
Setengah berlari dia menuju ke teras belakang, tempat segala mesin dan ac sentral berkuasa. Udara hangat menerpa tubuhnya ketika dia membuka pintu, mengusir dinginnya molekul 18 derajat celcius. Berdiam sebentar sebelum deru kipas raksasa menjadi akrab di telinganya.
Dari lantai 3 itu cukup banyak yang bisa kelihatan. Display hotel Maharaja tampak di kejauhan. Dia tertawa, mengenang Nanda dan Ahmed-- bintang utama BLA. Pernah dia menjadi pengedar keping vcd-nya dulu. Sebiji dua puluh lima ribu rupiah, dan laku lumayan banyak.
...
Deretan rumah-rumah. Menara dan kubah mesjid.
Gerimis masih betah. Turun satu-satu. Stabil dan terkontrol. Ada yang membentuk genangan di ubin yang tak rata, memantulkan cahaya dari lampu entah di mana.
...
Dia, seorang laki-laki tak berpendirian. Kesepian tapi selalu merasa ramai. Tidak yakin pada pilihan jalannya. Setahun lalu dia masihlah seorang mahasiswa biasa yang bebas berkelana kemana dia suka. Berbekal ransel butut dia pikir bisa menaklukan dunia. Tabungan kekecewaan yang luar biasa.
Semakin tinggi dia membangun tembok utopia-nya sendiri. Dunia sangat lucu, tak bisa dihadapi dengan terlalu serius, ternyata. Padahal dia terlanjur memberi janji, pada ujung tanah jauh di sana.
Tapi seberapa tinggi kau bisa terbang dengan sayap patahmu, Kawan?
...
Teringat dia pada sebuah rumah maya, berwarna hijau. When an adventurer get bored. Mungkin seperti itulah dia kini. Atau malah lebih parah: patah taji. Petualang patah taji!!
Dia tahu tujuan tak pernah jelas, tapi tetap saja dia melangkah. Padahal sejatinya dia ingin rebah di pangkuan seorang perempuan yang setia mengajarkannya mencintai hujan, juga langit sore. Entah kapan.
...
Jam setengah dua dini hari. Di ketinggian itu gerimis masih turun. Setia memukul bumi. Ada yang terasa sesak. Lalu dia tengadah memandang langit, mencoba mencari wajah itu di sana.



____________
::Coretan pagi-pagi, saat kantor mulai rame. Masuk hari pertama sehabis mudik. Salam-salaman: "maafin dosa-dosa gue yang lalu.. dan yang direncanakan". Cipika-cipiki. Semangat baru. Gairah baru. Ayo kerja, biar rating naik. Perusahaan B-E-P, gaji nambah. Dirut senang, pundak ditepuk.
Wah, pada cantik dan wangi-wangi semua. Jadi malu nih, di sepagi ini belum sempat mandi dan juga gosok gigi.