tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, November 02, 2003

Tak Perlu Terlalu Resah, Anak Muda, Hidup Tak Sekejam yang Kau Bayangkan...


"Saya udah coba nahan, udah coba buat ngertiin semuanya. Tapi tetap aja gak bisa. Kayanya saya mesti bilang ke kamu, kalo itu nyakitin saya. Saya mau nangis kalo ingat itu. Kemarin itu I feel nothing karena tau kamu dan dia broke up just bcoz one of you leaving, dan gak ada bedanya dengan kita sekarang. I feel like a fool karena tau kamu bisa menemukan orang lain semudah kamu menemukan saya..."

----

Pukul setengah tiga. Miing dkk masih ngoceh di TV, berusaha membangkitkan semangat orang-orang di dini hari ini. Pagi ini aku sahur sendiri, Ewin belum balik dari Bandung. Di luar masih lengang saat pintu pagar kubuka. Tidak kugembok, sering susah ngebukanya lagi. Jalan dengan hawa dingin menusuk, teringat lagi pada kosan-ku di Makassar dulu. Lagi bikin apa ya Uce sekarang? Dua hari ini kutelpon hp-nya gak pernah aktif.
Soto Ibu Dian masih dua ribu lima ratus seporsi, Ce? Trafo ketel nangis-nya masih bagus gak? Kalo nggak, singkirin aja dulu. Ntar balik aku beresin. Jangan dibiarin di situ saja, keiris kaki orang. Hati-hati, nanti kesetrum kamu!

----

Becanda kalian gak bagus. Bukan apa-apa, itu bisa jadi doa! Asal kalian tau, aku gak suka itu!

----

Ngapain dia makan di atas motor itu. Warteg kan masih sepi, belum banyak orang yang sahur.
Lho motornya tiga roda toh?
Oh, maaf, Mas. Kakinya invalid ternyata, dua-duanya kecil.
Maaf, Mas...
Maaf...

----

Dini hari, mesjid itu sudah terang. Bocah-bocah berlarian di dalamnya. Sebentar lagi mereka akan shalat lail dan ngaji. Sepuluh tahun lagi sebagian dari mereka akan jadi takmir mesjid. Beberapa tahunnya lagi, sebagian dari mereka mungkin saja akan ditangkap karena dituduh teroris!

----

Apa-apaan kamu ini. Mau sok jagoan ya? Mau jadi pahlawan kamu?
Jangan di sini. Kita tak butuh superman!