tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Tuesday, November 18, 2003

Suatu Malam di Gambir

...
"Aku udah ke Senen juga, Bang, antriannya masih sepi."
"Di sini juga, ramenya sih abis sahur gitu. Tapi hari ini kayaknya belom tuh."
...
"Udah lama di sini, Bang?"
"Saya kan sudah bilang tadi, saya ini korban sembilan tujuh. Biar kata dulu perusahaan kecil juga, tapi gaji tetap ada."
"Kalo saya dari tahun lapan sembilan. Kita ini masih baru-baru."
"Segitu masih baru?"
"Iya, ada yang dari kecil udah di sini. Dulu mereka makan dari sisa-sisa gitu."
...
"Pernah ketangkap gak, Bang?"
"Tahun lalu. Pasrah aja. Di sana dijewer sama polwan. Hahahaha."
...
"Bohong kalo ada yang bilang kerja gini duitnya banyak, bisa kaya. Bohong itu. Saya udah seminggu ini gak pegang duit!"
...
"Saya mesti bilang apa kalo anak saya nanya. Masak saya bohong. Kalo anak saya nanya 'Bapak kerja apa di Jakarta?', ya saya bilang jadi calo. Mau apa lagi?"


Tengah malam tadi aku bertemu mereka di stasiun Gambir. Duduk melingkar menghadapi segelas kopi dari plastik bekas air mineral. Ketiganya calo tiket kereta api. Satu orang mengaku berasal dari Malang, berkumis --lebih mirip serse menurutku-- oleh teman-temannya di panggil 'To'. Mungkin namanya Toto atau Anto. Seorang lagi masih lumayan muda, tapi katanya sudah sejak tahun delapan sembilan jadi calo di Gambir, berasal dari Medan. Namanya khas orang Batak: Ucok.
Yang satu lagi aku tak tahu namanya, lebih banyak diam sambil menghisap rokoknya. Orangnya kurus. Rasanya hanya sekali dia ngomong, tapi aku lupa dia ngomong apa. Tiba-tiba pamit pergi entah kemana saat obrolan masih berlangsung.

Hanya ingin tahu cara pandang mereka, sehingga aku membiarkan mereka bercerita. Selama ini mereka dianggap banyak meresahkan calon penumpang, tanpa pernah ingin tahu mengapa mereka tetap bertahan jadi calo. Sangat tidak adil menurutku. Bahkan penjahat sekalipun tetap punya hak membela diri.

"Itu, spanduk itu," Ucok menunjuk spanduk di atas kami. Aku tidak melihat apa-apa selain ucapan selamat berpuasa dari sebuah perusahaan mi instant.
"Baru saja ditutup pake itu. Di belakangnya tulisannya dua ratus ribu bagi yang bisa menangkap calo."
...
"Kami ini hanya cari makan. Lagipula kami suka sama suka, kalo nggak mau ya nggak usah. Tapi mereka mau tidak antri seharian?"

Oh aku ingat, bapak yang namanya aku lupa tadi menanyakan apa ada pasal KUHP-nya bagi kegiatan percaloan. Aku jawab tidak tahu, karena memang tidak pernah mendengar tentang itu.

Lewat tengah malam, orang kantor menelpon kami agar bergerak lagi. Tadi sudah ke Senen dan ke kantor KA di Juanda, masih sepi, nggak ada antrian padat seperti yang diperkirakan. Di Senen malah hanya ada orang yang main kiu-kiu. Tapi oleh bos disuruh ngecek ke sana lagi.

Aku pun pamit pada bapak-bapak calo itu, setelah meikhlaskan dua kaleng Pocari-ku untuk mereka. Pocari itu bekal begadangku, tapi kayaknya mereka lebih butuh. Sebenarnya mau ngasih rokok, tapi gak bawa. Meski udah lama brenti merokok, biasanya selalu ada satu dua bungkus di dalam ranselku, buat alat pergaulan kalo lagi dibutuhkan. Rokok memang senjata gaul paling ampuh! Kepada siapapun pasti mempan buat buka jalan.
...
Lewat di pintu 3, ada empat orang remaja keturunan lagi mengobrol sesama mereka sambil berdiri. Kelihatannya mau mengantri tiket juga. Di dekatnya pedagang asongan hilir mudik tak kenal jam kerja.
Sedikit lagi menuju keluar, seorang bocah dekil tertidur di lantai dekat pintu masuk. Baju gombrongnya sekalian jadi selimut. Tepat di atasnya, sebuah spanduk berkibar-kibar, bertuliskan "Selamat Berlebaran Bersama Keluarga".
Itu pesan bagi para pemudik kiranya. Bukan bagi dia yang terlelap tanpa bantal, dan kedinginan pula.