tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Wednesday, November 26, 2003

Setelah Satu Bulan Mencari Tuhan


Sangat Minimalis!
Satu lagi Ramadhan berlalu, dan rasanya tidak banyak peningkatan kualitas keimanan yang kualami. Masih biasa-biasa saja. Meski puasaku lancar dalam kalkulasi kuantitas --artinya tidak ada yang bolong-- tapi shalat tarawehnya sangat minimalis; bisa direken dengan jumlah jari dua tangan.
Sebulan lalu, aku punya niat memperbaharui tekad menjelang Ramadhan. Atas nama semangat progresivitas, tak ada pilihan lain! Ramadhan ini harus lebih baik! Maka aku pun melakukan tindakan antisipatif untuk sedapat mungkin menghalau iblis yang bersarang di atas kepala.
Ikut di Majelis Ta'lim, adalah satu yang aku lakukan di (awal-awal) Ramadhan ini. Tapi semakin lama, majelis taqwa itu juga semakin jauh dariku. Makin hari, rasanya jadi berat sekali jika harus melangkahkan kaki ke lantai 1 setiap menjelang maghrib. Pada akhirnya aku hanya bisa beralasan, tak banyak waktu luang tersisa. Jadi, maafkan. Ajakan Bang Abaw untuk itikaf juga kutanggapi dengan garukan kepala, padahal dulu itu juga salah satu niatku, dalam rangka memperbaiki diri.

Tidak boleh menyalahkan situasi. Pada intinya memang aku yang malas. Entah kenapa.
Padahal seharusnya bisa menjadi lebih kuat di Ramadhan ini.

Di Mana Kamu Malam Lebaran Kali Ini?
Ternyata betul-betul gak bisa pulang kampung. Maka terjebaklah aku di belantara sunyi Jakarta yang malu-malu ditinggalkan penghuninya. Jakarta, kau sangat tidak menarik di saat-saat seperti ini!
Malam Lebaran, Istiqlal kehujanan. Menunggu fatwa dari Depag bahwa Idul Fitri jadi besok hari. Menghitung-hitung orang yang datang. Tidak banyak. Sekelompok polisi bergerombol di saf belakang. Seorang kerdil bertongkat tertatih-tatih menyusuri karpet. Di saf depan, mereka sibuk mengaji, untuk khatam yang kesekian kalinya, mungkin.
Ada ibu-ibu, gila kamera. Katanya mau bayar sepuluh ribu kalo bisa masuk tivi. Hahahaha.

Selamat Idul Fitri 1424 H, Selamat Menempuh Jiwa yang Baru...
Alhamdulillah, masih diberi kesempatan shalat Id di mesjid dekat rumah. Hari ini masuk siang, karena kemarin dapat jatah liputan sampai malam. Sehari sebelumnya, menjenguk warga korban gusuran di Kali Adem mempersiapkan lebaran mereka. Tak ada opor ayam, apalagi baju baru. Hanya tenda memanjang biru merah yang melindungi mereka dari ganasnya hujan. Seorang bocah lahir seminggu lalu, ditengah puing dan bekas bongkaran, oleh ibunya diberi nama: Gusurianto.

----

Masuk kantor, bahkan ketika air mancur di depan lobi juga mati. Gak ada istilah bagi pekerja seperti kami. Lupakan sentimentalisme berkumpul dengan keluarga di hari lebaran. Libur masih jauh, dan tak perlu dikejar. Harus standby jika seketika ada apa-apa menimpa Jakarta.
Malamnya aku dan Mira ditugasin ke RS Fatmawati, up date kondisi korban kecelakaan metromini yang ditabrak kereta di Bintaro. Harusnya ada ketupat malam ini, bukan bocah berdarah yang terisak memandangi ibunya juga penuh luka. Hari lebaran ini, satu keluarga berkumpul. Seorang nenek, seorang ibu, dan tiga cucu, ---kecuali dua bocah laki-laki yang digabung jadi satu--- masing-masing dapat satu ranjang di ruang observasi RS. Fatmawati.
Di tivi, suara takbir menggema gembira, tapi bau obat itu terasa sangat menyengat. Dan banyak selang infus berseliweran di mana-mana.