tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, November 10, 2003

Satu Hari Belajar Sejarah


"Sebulan lagi saya sudah 94 tahun, telinga saya sudah tidak begitu mendengar. Kalau kamu bicara tolong dikeraskan..."
Saya menggeser kepala lebih dekat kepadanya. "Kalo seperti ini Bapak bisa dengar?"
"Iya, bisa..."
...
Saya sodorkan daftar pertanyaan. Bapak itu menggeleng.
"Saya sudah tidak bisa melihat tulisan sekecil itu..."
Saya tulis sesuatu di atas kertas dengan hurup agak besar, dan bapak itu mengangguk, "GAM..."

Tak lama, Bang Buyung dan Cahyo sudah mengeset kamera dan mengatur ruangan. Beberapa kali kami harus menggeser kursi rodanya untuk mendapatkan cahaya paling bagus yang menerpa wajahnya. Demi menghormati keterbatasan beliau, kami sepakat untuk mewawancarainya di kamar saja, di dekat tempat tidur yang telah menjadi tahtanya bertahun-tahun.
"Sudah bertahun-tahun saya minum obat jantung. Dan saya lupa kalau hari ini hari Senin. Hari Senin dan Kamis pengaruh obat jantung itu bekerja, jadi tiap lima belas menit saya harus ke kamar mandi..."
Suster yang selama ini merawatnya menjelaskan nama obat itu Lazic (atau kedengaran seperti itu...) konon efeknya membuat pembuangan kemih agak tidak terkontrol.
...
Nur El Ibrahimi, satu-satunya saksi sejarah yang masih bisa ditemui berkaitan peristiwa pemberontakan DI/TII Daud Beureuh. Dia yang berhasil membujuk Daud Beureuh untuk turun gunung dan menghentikan gerilya. Kami pun datang untuk kisah tentang itu. Dia menantu Tengku Daud Beureuh, dan tahu banyak tentang Daud dan DI/TII.

Pak Nur bercerita dengan suaranya yang terbata-bata tapi masih jelas kedengaran. Pak Nur bercerita tentang kekecewaan rakyat Aceh terhadap pemerintah. Tentang gaji pejabat di zaman Soekarno yang dibayar dengan dolar Aceh. Tentang pesawat pertama Indonesia yang disumbangkan oleh rakyat Aceh.
"Abo Daud menyumbang 1300 dolar kepada pemerintah untuk membeli pesawat Seulawah itu... Itu untuk dua pesawat terbang."
Tapi Pak Nur mengaku tidak tahu mengapa uang yang dikumpulkan dari sumbangan rakyat Aceh itu hanya dibelikan satu pesawat, sementara satu pesawat lagi tak pernah tampak mengudara.
...
Lalu matanya menerawang, seperti mengenang.
"Hasan Tiro itu murid saya di madrasah. Saya lihat dia memang punya bakat menjadi pemimpin. Tidak ada hubungan apa-apa GAM dengan Daud Beureuh. Daud Beureuh bercita-cita negara Islam. GAM itu sekuler. Hasan Tiro itu dihormati karena dia cucunya Tengku Cik Di Tiro..."
...
Ketika kamera sudah dimatikan, dan kami mengobrol santai, Pak Nur menarik saya lebih mendekat.
"Kamu harus tahu ini, karena ini tidak banyak yang tahu..." Lalu Pak Nur bercerita tentang sebuah peristiwa penculikan oleh tentara. Tentang jarum suntik bius yang ditinggalkan patah di lengan Daud Beureuh, dan mengalirkan darahnya.
...
"Kamu sudah menulis namamu di buku itu?" Pak Nur menunjuk sebuah buku hardcover warna coklat, tempat saya menulis nama kami tadi. Di buku itu, di baris di atas nama kami, ada lima nama wartawan Tempo yang rupanya juga telah mengunjungi beliau sebelum kami.
"Saya akan mengundang kalian untuk makan-makan. Kalian pernah coba masakan Aceh?"

----

Jam tiga lewat kami meninggalkan rumah Pak Nur di bilangan Tebet. Kami masih ada janji untuk bertemu dengan Pak Murad Aidit, adik DN. Aidit, tokoh PKI yang dihukum mati itu. Sebuah hutang harus kami lunasi hari ini juga.
Siang tadi kami sudah bertandang ke Pak Ventje Sumual, pemimpin pemberontakan PRRI/Permesta di tahun 1950-an. Sama menariknya dengan pertemuan dengan Pak Nur El Ibrahimi. Banyak pelajaran kami dapatkan hari ini dari para pelaku sejarah itu. Kesadaran bahwa sejarah bertelikung di sekitar kami. Dan selalu milik orang-orang yang menang.

Sejarah yang menyisakan kepahitan bagi orang-orang tertindas, yang jika tidak membatu menjadi dendam maka akan berbuah kebahagiaan.
Saya bisa merasakan itu melalui senyum berbinar seorang ibu di menjelang maghrib tadi. Ibu Murad yang dengan bahagia mengabarkan anaknya sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan finansial otomotif di Sudirman.
Saya dan Bang Buyung senang sekali mendengar kabar itu. Kami tahu, di Indonesia pernah sangat tidak mungkin untuk mendapatkan pekerjaan --di mana pun-- jika wajah dan KTP tercoreng tanda hitam.

(Kawan, entah mengapa hari ini saya merasa lelah sekali...)