tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, November 16, 2003

Piece To Camera

Pasar Tanah Abang ramainya minta ampun.
Untuk bergerak pun susah. Pembeli dan pedagang bercampur baur.
Seorang ibu menggetok kap sebuah mobil Peugeot karena mobil itu ngotot maju di jalan yang padat. Ketidakpedulian yang mendarah daging! Egois tak berperikemanusiaan. Sudah tahu jalan sempit dan ramai, kenapa pula selalu merasa seperti raja?
Teriakan pedagang yang menawarkan diskon riuh sekali, dan pembeli yang menawar tak kalah riuhnya.

Sogo Jongkok, ke sanalah kami pagi tadi.
Kata pedagangnya, pasar kaget ini hanya buka pada hari Minggu. Diberi nama Sogo Jongkok karena serasa berbelanja di Sogo tapi dengan harga jongkok!
"Inul aja belanja di sini, Mas," kata seorang bapak.
Liputanku bersama Muhar hari ini tentang perang diskon di pasar-pasar tradisional. Mestinya tadi ke Cipulir juga, tapi hujan deras membuat mobil susah sekali melaju di tengah kemacetan. Akhirnya berbelok ke Kebayoran Baru, tidur siang di emperan Mesjid Al-Ihsan.

Tidur sekitar satu setengah jam di bawah riuhnya petir. Jam tiga sudah harus ke Kelapa Dua, merapat ke markas Brimob di sana. Pak Brimob lagi ulang tahun, kata bos di kantor.
Ada AA Gym, berceramah di hadapan pejabat-pejabat polisi, memberi nasehat bahwa sebaik-baik manusia adalah yang membuat sekelilingnya tidak merasa terancam di mana pun dia berada.

Pulang ke kantor. Tiba-tiba merasa begitu malas. Kayaknya butuh beberapa potong roti pisang bakar coklat dulu untuk bisa semangat. (hmmm... Ibu Negeri Senja, roti pisang bakar coklat nih...:-p).


Btw, hari ini ulang tahunnya Brother Uce.
Aku tahu, Ce', sepertiku, kau pun telah lama mengabaikan hitungan matematis seperti ini. Tapi ini satu puisi yang selalu mengingatkan kita pada kenangan yang tak bisa lagi dicetak ulang. Jangan anggap ini ucapan selamat ulang tahun, apalagi hadiah:

Seperti Pohon..
Di pokok kita masih satu
Lantas kita berpisah di cabang
Ada yang ke kiri, ada yang ke kanan
Ada yang terus ke atas
Ada yang kedepan, ada yang ke belakang
Atau bilapun masih satu di cabang
Kita nanti akan berpisah juga di ranting
Ke atas, ke kiri, ke kanan, kedepan, ke belakang

Saat kita kecil dulu kita masih satu
Masih anak kecil
Lantas sedikit demi sedikit
Waktu kita bikin kita beda
Waktunya makin banyak, beda kita tambah banyak
Itulah kita...

(Jejak-Jejak, Bubin Lantang)


Tetap Semangat! Karena dunia tidak berutang apa-apa pada kita!
---Bikin Bapak dan Bunda bahagia, Bro... karena mereka terlanjur berharap banyak kepadamu.
Ini dari abangmu, yang masih ingin menjadi peluru bagi bedil hidupnya sendiri: melesat tak tentu arah, tak tentu makna.
Suatu hari nanti aku pulang, kita selesaikan semua yang tak pernah benar-benar selesai itu...
Aku janji.
----