tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, November 07, 2003

Pemberontakan, Dalam Diri Sendiri

Kisah-kisah pemberontakan itu sudah dibagi setiap segmen. Sejarah Indonesia adalah rentetan panjang perlawanan, wujud ketidakpuasan yang mendarah daging. Aceh, Papua, Maluku, menyimpan bara. Tinggal menunggu picu ditarik dan berakhirlah riwayat sebuah negara kesatuan.
...
Tapi mataku lelah, padahal masih ada satu segmen lagi. Kisah Timor Leste ini rasanya makin membuat retinaku melemah. Sebuah kota dibombardir dengan bom napalm, demi kilang minyak lepas pantai, juga kayu cendana. Semua orang tahu, kroni siapa yang punya bisnis di sana.
Ada anak-anak muda yang diberondong senapan otomotis ketika berpawai sehabis misa. Di Santa Cruz, 12 November 1991. Ratusan orang mati, yang tidak mati kepalanya dipukul popor senjata, atau dipaksa menelan rosario. Tapi Indonesia bungkam, padahal beritanya hilir mudik di CNN.
Rentetanpanjangkejahatankemanusiaan.Sepertikeretaapi.
Seorang pejabat mengaku di koran asing, sepanjang perang Timor 50.000 sampai 80.000 nyawa melayang. Bayangkan! 80.000 nyawa!
Bagaimana orang tidak berontak? Sementara statistik jumlah penduduk semakin menurun entah ke mana.
...
Di Langkat, ratusan orang tersapu banjir bandang. Bencana datang tiba-tiba, tanpa permisi.
Hari ini tiga orang mati karena rebutan saat antri zakat di Pasar Minggu. Mereka mati. Mereka mati karena... miskin.
Dan kita di sini, masih bisa main komputer (punya kantor).

----

Ah, semakin lelah mata ini. Pikiran ini juga. Tak bisa lagi mikir. Hampir dua minggu ini kena insomnia, masuk kantor siangan melulu. Jadi gak enak sama Bang Buyung...
Sori, Bang. Sama sekali di luar kesengajaan. Abang boleh cek, weker dan alarm di kamarku sudah distel sedemikian rupa sehingga disiplin membangunkanku setiap waktu ideal bangun pagi.
Dan mereka rajin melaksanakan tugasnya, tapi aku yang tidak disiplin.
Tidak bisa berontak melawan kantuk yang selalu telat menyerang di pagi hari!
Jika tidak bisa memberontak melawan diri sendiri, jangan pernah mimpi menjadi kombatan, Chan!

----

ps.
untuk Bunda:
Bunda, engkau tahu bahwa ini pilihanku. Jangan dengar jika kawan mengeluh tentang aku yang kehilangan idealisme. Tidak hilang, Bunda. Hanya moksa, menunggu saat yang tepat untuk muncul kembali. Ini titik krusial yang harus kujalani: tetap di sini dan gelisah, atau pulang dan memenuhi keinginanmu, mendaftar menjadi PNS (ini juga belum tentu bisa. Bunda tahu kan seperti apa bobroknya birokrasi kita. Padahal kita tak punya koneksi.) .
Di sini, seorang abang mengajariku, melalui cerita pengalamannya. Katanya dia lebih senang menjadi buruh yang berkeringat, mengabdi pada industri, ketimbang bersembunyi dengan wajah mulus di balik topeng idealisme...
Orang berkeringat niscaya akan lebih dihargai Allah.
Thanks, Bang!