tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Wednesday, November 19, 2003

Pelajaran-Pelajaran Kecil


Kabarnya di Terminal 3 Cengkareng malam ini ratusan TKI dipulangkan dari luar negeri, dan kami didrop ke sana setelah di terminal kargo gagal mengejar serah terima jenazah seorang warga Bandung yang mati di Jepang.
Di terminal 3 ternyata tidak segampang yang kami duga.
Wartawan tidak boleh masuk! Kami pun ngambil gambar sembunyi-sembunyi. Dan itulah awalnya.
Waktu masih berbasa-basi dengerin ocehan seorang calo mabuk tentang lahannya yang diserobot, tau-tau aku dengar petugas yang di dalam gedung udah teriak-teriak. Kami ketahuan!
"Oi, ada wartawan nyolot tuh. Brenti! Brenti!"
Aku, Rozak dan Beng, terkejut dan segera berbalik arah. Petugas itu masih teriak-teriak. Kami mempercepat langkah. Pura-pura tidak mendengar.
"Benny! Urus itu!"
Benny ini preman yang mangkal di terminal situ. Pake jaket kulit hitam dan kupluk. Tadi aku sempat ngomong sama dia, dan jelas sekali aroma alkohol dari mulutnya.
Mendengar kata 'urus' aku sudah punya firasat buruk. Itu bisa berarti 'beri pelajaran' kalo dalam kamus premanisme.
Aku teriak ke Rozak, kameramenku, "Jek, kamu lari duluan! Kita menyebar. Ketemu di mobil nanti!"
Kamera dipegang sama Rozak, terus di kasih ke Beng. Beng lalu ngumpet di wartel. Aku sendiri segera menghilang ke kerumunan sambil membalik jaketku yang ada logo kantornya, masalahnya aku yang paling mereka kenali.
...
Akhirnya aku ketemu Beng di lapangan. Kamera sama kasetnya aku ambil dan kubungkus dengan jaket. Beng balik ke parkiran ngambil mobil, dan aku memutuskan keluar dengan jalan kaki. Khawatir ada apa-apa dengan kamera.
"Beng, aku tunggu di depan!" kataku.
Ternyata di belakangku mereka masih diikuti. Beng panik nyetir mobil dan nabrak sesuatu. Ada bunyi keras seperti benda beradu. Akhirnya kami ketemu dekat pintu keluar, tapi masih panik.
...
Di luar bandara kami baru bisa bernafas lega. Beng turun memeriksa kendaraan. Ada sedikit penyok di bagian bemper, kayaknya nabrak drum tadi.
...
Ini bukan kali pertama aku berurusan dengan orang yang ingin mencelakakan. Selalu saja ada orang seperti ini kutemui. Mungkin mereka orang-orang yang tak sengaja aku tindas haknya. Mungkin orang-orang yang aku persempit kebebasannya. Mungkin mereka yang merasa terancam bila aku ada!
Tapi tak boleh ada yang disalahkan. Mereka bisa salah, seperti kami pun bisa bersalah. Dan itu bukan alasan untuk menghakimi.

Aku tahu kalau di dalam sana itu pungli merajalela, para calo berkeliaran mencatut harga dan memeras. Tapi itu tidak berarti orang sepertiku berada di posisi paling benar. Tak ada yang bisa menentukan bahwa nilai terbenar ada di tangan kami.

Tuhan, aku takut, semakin lama aku di sini, semakin aku menjadi pengidap hero complex. Merasa diri paling benar, paling penting, dan di luar sana bejat dan kotor belaka.
Aku takut merasa telah bersih, dan dengan itu aku sombong. Padahal kesombongan adalah kegagalan menjadi manusia.
Ingatkan aku selalu, Tuhan...
Ingatkanlah...