tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, November 28, 2003

Kepada Yang Mendahului


Tadi malam ikut melayat ke rumahnya Arie Wailan Orah, kameramen Indosiar yang meninggal karena kecelakaan panser di Aceh. Melihatnya terbaring di peti mati, membuatku berpikir ulang tentang banyak hal. Ah, pasti beku dan dingin sekali di dalam kotak itu!
Satu lagi wartawan mati. Bukan persoalan resiko pekerjaan. Bahkan di masa damai sekalipun ajal bisa menjemput sebelum kita benar-benar siap.
Pastilah, sebagai mahluk yang hidup kita semua akan mengalaminya. Siap atau tidak.
Mereka yang telah pergi sebelum kita, dengan cara bagaimanapun, seharusnya bisa menjadi petanda. Kata Victor Hugo, setiap manusia pada saat dia lahir telah menerima hukuman mati dalam hidupnya, dan tinggal menunggu kapan hukuman mati akan dijatuhkan. Maka dalam masa penantian yang menyiksa itu, sebagai mahluk lemah dan tak bisa berbuat apa-apa, tak ada yang bisa kita lakukan selain berbuat baik...


ps.
Sekedar mengenang, ini dua e-mail yang aku copy dari sebuah milis, tentang Awo--Arie Wailan Orah:

From: "hsgautama" <.......@cbn.net.id>
Date: Fri, 28 Nov 2003 20:54:31 +0700
Subject: Arie, sebulan silam di Makasar

Pagi ini adalah pagi suntuk buat saya.
Sepanjang pagi pikiran saya tidak ada henti mengingat si Arie (atau kondang dipanggil Awo).

Belum lama sebulan silam saya masih bersama dia di Makasar. Kita menginap disatu hotel yg sama di Losari Beach, dan disanapun dia ditemani oleh reporternya yg kini masih dalam keadaan terbaring parah di RS.
Dia datang untuk mengerjakan liputan PATROLI (salah satu program Indosiar), sedang saya mengerjakan
program JELAJAH. Hampir setiap malam kami duduk bersama ngopi di lobi hotel sambil bicara ngalor ngidul.
Kami berteman lama. Ketika INDOSIAR berdiri dan dibuat Divisi News, dia adalah salah satu dari lima org pertama yg direkrut kesana bersama Agung "Bebek" (lalu jadi koordinator cameraman)
Sempat saya katakan: Arie lu sekarang kaleman, engga kayak dulu berantem melulu bawaannya.
Dia tertawa, katanya nyantai: umur Yat, umur...membuat kita makin sabar dah....

Sekarang dia sudah tidak ada.
Sedih rasanya. Ada kawan yg pergi, dan itu terasa betul.
(Banyak teman seangkatan saya yang sudah pergi, dan kini dia)

yang ikut berduka.
Hidayat SG -Cameraman
Transtv JKT


---------


From: "Tomi Satryatomo" <.....@cbn.net.id>
Subject: RE: Selamat Jalan AWO...

Kehilangan teman sejawat selalu menyedihkan.
Tatkala mendengar ada panser TNI yang masuk jurang, saya langsung
merutuk dalam hati, payah juga nih TNI, banyak korban jatuh gara-gara
kecelakaan kendaraannya sendiri. Beberapa bulan lalu, Jenderal Tarto
sempat marah-marah karena banyak prajurit yang tewas atau luka gara-gara
kecelakaan kendaraan bukan di medan tempur.

Tapi ketika sampai berita bahwa kecelakaan ini merenggut nyawa rekan Ary
Wailan Orah, duka langsung menyayat. Apalagi ketika jeritan keluarga Ary
melengking dari speaker TV, memenuhi ruangan.

Selamat jalan kawan..

Wassalam
Tomi