tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Tuesday, November 11, 2003

Joe, Halaman rawa, dan Blogger Kelas Sandal Jepit


Sejatinya aku tidak lagi punya banyak tempat untuk melarikan diri.
Sewaktu masih mahasiswa, hampir semua hal bisa menjadi katarsisku. Setiap kali merasa lelah atau muak pada sesuatu, selalu ada saja cara untuk kembali menjadi senang. Jika tidak melampiaskan kekesalanku pada Tom –notebook 486-ku--, aku mengajak Joe, berjalan-jalan kemana saja. Joe, ransel Eiger warna hitam dengan aksen hijau itu, sudah menemaniku sekian lama. Hampir lima tahun, sampai dia kupensiunkan belum lama ini. Sudah cukup tersiksa dia dengan beban-beban berat yang kusesakkan di tubuhnya.
Beberapa bulan lalu, aku baru sadar kalau Joe ternyata sudah cukup menderita. Bagian bawahnya sudah koyak akibat kebiasaanku menempatkannya sembarangan. Talinya sedikit lagi putus, dan sudah kusam kena sinar matahari.
Sekarang aku sudah punya ransel baru lagi, kubeli di koperasi kantor dengan sistem potong gaji. Dan Joe akhirnya mengisi salah satu sekat di lemariku, dalam purnabakti.
Dan setiap kali rasa lelah itu datang, aku selalu teringat pada Joe. Pada caranya menemaniku selama ini.

Aku seorang pejalan, dan pergi kemana pun aku suka. Kecuali ke neraka.
Menyusuri jalan raya adalah kesukaanku. Jika berada di kota lain, aku selalu menyempatkan diri menyusuri jalan rayanya, jalan protokolnya. Ada atau tak ada billboard tetap saja menyenangkan bagiku.
Di Makassar, kota di mana aku tertanam sekian lama karena keharusan menyelesaikan kuliah, aku juga punya jalur favorit. Cendrawasih-Karebosi lewat pantai Losari! Kalian yang pernah ke sana atau tinggal di sana pasti tahu jalur ini.
Dari Gramedia Mall Ratu Indah ke Cendrawasih lewat jalan Merpati atau Mappanyukki, terus lewat Haji Bau akan tembus ke Jalan Penghibur. Di Jalan Penghibur ini biasanya aku akan tinggal agak lama, karena jika senja tiba, matahari yang tenggelam di sana akan tampak sangat indah. Dari Jalan Penghibur lewat Ahmad Yani, maka sampailah aku di Karebosi.
Di Karebosi biasanya aku juga berlama-lama. Selalu ramai di sana, apalagi jika keseblasan PSM sedang latihan, pasti banyak penonton. Kalau mau pulang, tinggal jalan sedikit lagi dari Karebosi ke Sentral, naik angkot jurusan Sentral-Daya, pasti lewat Tamalanrea. Atau jalan sedikit ke Mesjid Raya dan dari sana naik angkot 05 ke Kampus Unhas.

Dulu aku kos dekat kampus, murah sekali, 400 ribu setahun. Di sana menyenangkan belaka, kecuali ada beberapa teman yang angin-anginan. Sebelum aku di sana, nama tempat kos-ku itu HR. Konon singkatan Haji Ramli, nama yang punya kos. Tapi pas aku dan abangku datang ke sana, namanya kami ganti Halaman Rawa, dengan singkatan tetap HR. Sejarah nama Halaman Rawa ini lumayan panjang. Pertama kali di Makassar, aku tinggal menumpang di rumah seorang kawan abangku. Rumah kosong di belakang markas cavaleri. Jika siang selalu kedengaran suara tembakan yang membuat susah tidur.
Rumah kosong ini berada di tengah rawa-rawa, kemana kaki melangkah, yang ada rawa semata-mata. Satu-satunya akses menuju ke sana adalah meniti jembatan berupa batang bambu yang diikat.
Sebenarnya rumah ini sangat ideal untuk ditempati belajar. Karena mencapainya susah, maka kita tidak akan tergoda untuk kelayapan kemana-mana. Masalahnya, jika malam tiba, sering kursi di teras bergeser sendiri, atau seperti ada orang yang menuang air di dapur padahal tidak ada siapa-siapa, atau kaca nako yang berderit-derit.
Karena alasan inilah kami meninggalkan tempat itu.
Tapi semangat Halaman Rawa tetap terbawa sampai jauh.

(bersambung)