tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Wednesday, November 12, 2003

Joe, Halaman Rawa, dan Blogger Kelas Sandal Jepit (part 2)


Joe juga yang menemani saat pertama kali aku terseok-seok di belantara Jakarta. Tak ada keluarga, kecuali saudara tiri ibuku yang tak sekali pun kami pernah bertemu. Atas bantuan seorang teman di Makassar dulu, akhirnya aku bisa bertemu dengan seorang abang yang mengizinkanku tinggal di kontrakannya. Aku tinggal menumpang di sebuah kamar seluas kamarku dulu waktu di Makassar, tapi dengan harga sewa yang kontras: 400 ribu sebulan. Sempat shock juga waktu tahu ini.
Betapa beda jauh dua tempat ini, padahal jaraknya hanya satu garis jam.
Sebenarnya, jIka bukan karena impian untuk menjadi jurnalis, aku mungkin sudah menolak tawaran untuk bekerja di salah satu TV swasta ini. Selalu terngiang kata seorang temanku, Jakarta bukan tempat yang baik untuk hidup... hanya tempat untuk mencari uang.
Mungkin dia benar, tapi aku rasa dia bisa bilang begitu karena dia seorang commuter. Siang bekerja di Jakarta, dan malamnya sudah tidur dengan tenang tanpa terganggu polusi di sebuah kota penyangga di luar Jakarta.

Tapi mungkin ini sudah garis hidupku, dan harus kulakoni. Peraturan no.5 dalam Backpacker's Rules yang kuanut adalah "Hanya satu jalan yang tak bisa kita tempuh, hanya tepian langit!"
Maka aku pun memutuskan untuk berperang di sini, sampai batas kemampuan dan kaki tak lagi bisa melangkah!

Kemudian, bergabung dengan dunia baru yang penuh hingar bingar membuatku lumayan tertekan. Tapi sudahlah, itu cerita lalu. Memang butuh waktu lama untuk berdamai dengan kenyataan, dan butuh lebih lama lagi untuk berdamai dengan diri sendiri. Selama bekerja di sini, aku ingat sudah beberapa kali mengonsep surat pengunduran diri, yang --alhamdulillah-- sampai hari ini belum juga kusampaikan ke bagian persoanalia. Aku masih ingin bertahan di keriuhan ini, dengan harapan ini bisa jadi jalan bagiku menuju National Geographic atau Discovery Channel. Hehehehe. Yihaaaa!

Dan dalam rangka menghibur diri inilah aku kemudian tersesat ke dunia blog! Awalnya aku berinteraksi dengan internet hanya sebatas pemakaian awam. Hanya untuk riset melengkapi data-data beritaku. Itu artinya Google.com. Suatu ketika aku mencari data tambahan tentang Soe Hok Gie, dan oleh Google aku dibawa ke sebuah website bernama Grayarea punya Erly. Dan penemuan pertama itu sangat mencengangkanku, aku kagum betapa seorang bisa bebas menulis sesukanya di sebuah dunia tanpa batas, di ruang yang dia punya sendiri.
Lalu entah bagaimana awalnya, yang pasti atas bantuan Mbak Neenoy dan juga tutorial di blog Bang Enda, aku akhirnya bisa juga memiliki blog. Itulah Halaman Rawa ini. Meski kurang pede dengan tampilannya yang sangat sederhana, aku tetap setia mengisinya. Inilah tempat sampahku, tempat suara-suara perut mengalir tanpa sensor produser. Intinya, aku bahagia dengan keisengan ini.
Ah, aku akhirnya menjadi blogger. Berbulan-bulan kemudian, aku baru menemukan definisi yang tepat untuk blogger sepertiku. Kutemukan di blog-nya Balq, lalu kuinterpretasikan sendiri: Blogger Kelas Sandal Jepit. Itulah aku.
Tapi setidaknya untuk saat ini, blog ini telah menjadi katarsis terbaikku.