tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, November 30, 2003

The Death of Pak De


Belakangan ini, gambar-gambar yang terekam di kameraku membuat jiwaku retak. Satu kali tentang kehilangan, dua kali tentang kematian. Setelah Awo, giliran Pak De yang kulihat tak bernyawa lagi. Pak De --nama aslinya Sirajuddin-- adalah orang yang selama ini dituduh membunuh peragawati kondang Dietje Budiasih pada tahun 1986 silam. Jumat malam dia meninggal di Surabaya, Sabtu malam tadi tiba di Jakarta dan langsung dimakamkan malam itu juga.
Kecuali perjalanannya dari Surabaya, semuanya berlangsung begitu cepat. Jenazahnya datang, dimandikan, dikafani, lalu dibawa pergi. Tidak semua kurekam di kamera. Ada beberapa bagian yang kubiarkan lewat. Malam ini aku sedang tak ingin membuat dokumenter tentang kematian.

"Kamu pucat sekali tadi. Pengaruh psikologis ya?" tanya Ali di ruang logistik, sepulang liputan.
Aku berusaha tertawa. Perlukah kujelaskan seberapa besar ketakutanku pada sebuah ritual kepergian seperti itu?
Ketika diajak ikut ke pemakaman, aku menolak halus dengan alasan harus cepat-cepat tiba di kantor jika ingin berita ini ditayangkan besok pagi. Padahal sebenarnya bukan itu alasan sesungguhnya.
Entah, tiba-tiba aku menjadi begitu penakut. Aku tidak siap melihat seseorang ditimbun tanah, bergabung dengan tanah, dan di tengah malam pula. Langit tak seberapa terang untuk menerangi keberanianku.
Bayang-bayang kematian bermain-main di kepala. Seperti apa kita kan berakhir, Kawan?
...
Pak De-- empat belas tahun hidupnya dilewatkan di penjara atas tuduhan yang tak pernah diakuinya. Setahun lalu dia bebas, dan bisa berkumpul kembali dengan keluarganya. Hanya setahun. Tadi malam, doa para pelayat mengantarnya pergi lagi, pulang kepada penciptanya. Di sana bisa jadi dia bertemu dengan Dietje Budiasih, wanita cantik yang penuh luka tembak itu.
...
Dalam perjalanan pulang ke kantor, aku tak sempat berpikir apa-apa lagi. Aku ingin tidur. Tak perlu lama, asal bisa kulupakan semua itu barang sejenak.